Perbandingan waktu dunia dan akhirat.

PERBANDINGAN WAKTU DUNIA DAN AKHIRAT 1000 TAHUN ATAU 50000 TAHUN?

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

    PERBANDINGAN WAKTU DUNIA DAN AKHIRAT 1000 TAHUN ATAU 50000 TAHUN?

    Ayat Pertama:

    سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ (١)لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ (٢)مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ (٣)تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ (٤)فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلا (٥)

    “Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” [ QS. Al-Ma’arij: 1-5]

    Ayat kedua:

    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا شَفِيعٍ أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ (٤)يُدَبِّرُ الأمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (٥)ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٦)

    “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” [QS. As-Sajadah: 4-6]

    Allah juga berfirman:

    وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (٤٧)

    “Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, Padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” [QS. Al-Hajj: 47]

    Sesungguhnya ayat- ayat ini sama sekali TIDAK ADA KONTRADIKISI padanya. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa sisi:

    Pertama: Sesungguhnya Allah azza wajalla telah mentazkiyah (menyucikan) kitab-Nya Alquran dari sesuatu yang kontradiksi (bertolak belakang). Sehingga pemahaman kitalah yang diciptakan sebagai manusia lemah atau karena kekurangan ilmu, sehingga kita tidak bisa memahami dan mengiranya sebagai sesuatu yang kontradiksi.

    Allah berfirman:

    أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا (٨٢)

    “Maka apakah mereka tidak memerhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [QS. An-Nisa: 82]

    Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

    ومن فوائد التدبر لكتاب الله: أنه بذلك يصل العبد إلى درجة اليقين والعلم بأنه كلام الله، لأنه يراه يصدق بعضه بعضا، ويوافق بعضه بعضا. فترى الحكم والقصة والإخبارات تعاد في القرآن في عدة مواضع، كلها متوافقة متصادقة، لا ينقض بعضها بعضا، فبذلك يعلم كمال القرآن وأنه من عند من أحاط علمه بجميع الأمور

    “Dan di antara faidah-faidah dari menadabburi kitab Allah (Alquran) adalah dengan hal itu. Seorang hamba akan mencapai derajat keyakinan dan mengetahui dengan pasti, bahwa ini merupakan firman Allah. Karena ia akan menemukan ayat-ayat yang saling membenarkan satu sama lainnya dan saling sesuai. Ia akan melihat hukum-hukum, kisah dan berita-berita yang disebutkan di dalam Alquran pada beberapa tempat, semuanya saling membenarkan dan saling menunjukkan kesesuaiannya, tidak berlawanan antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga dengan itu ia akan mengetahui kesempurnaan Alquran dan ia mengetahui dengan seyakin-yakinnya ,bahwa hal ini merupakan dari Dzat yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.” [Taisiru al-Karimi ar-Rahman Fi Tafsiiri al-Kalami al-Mannan: 205 Cetakan al-Bayan]

    Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata:

    قبل الإجابة على هذا السؤال أود أن أبين أنه ليس في كتاب الله ، ولا في ما صح عن رسول صلى الله عليه وسلم ، تعارض أبداً ، وإنما يكون التعارض فيما يبدو للإنسان ويظهر له ، إما لقصور في فهمه ، أو لنقص في علمه ، وإلا فكتاب الله وما صح عن رسوله صلى الله عليه وسلم ليس فيهما تعارض إطلاقاً ، قال الله تعالى : ( أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً

    فإذا بدا لك أيها الأخ شيء من التعارض بين آيتين من كتاب الله ، أو حديثين عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، أو بَيْن آية وحديث : فَأَعِد النظر مرة بعد أخرى ، فسيتبين لك الحقُّ ووجهُ الجمع ، فإن عجزت عن ذلك فاعلم أنه إما لقصور فهمك ، أو لنقص علمك ، ولا تتهم كتاب الله عز وجل ، وما صح عن رسوله صلى الله عليه وسلم ، بتعارضٍ وتناقض أبدا .

    “Sebelum saya menjawab pertanyaan ini saya ingin menjelaskan, bahwasanya tidak akan ada di dalam Alquran atau pada hadis-hadis Nabi ﷺ yang shahih sesuatu yang kontradiksi. selama-lamanya!! Sesungguhnya kontradiksi itu hanya terjadi pada sesuatu yang nampak padanya saja. Entah karena kurangnya pemahamannya atau karena kurangnya ilmunya. Adapun di dalam Alquran dan hadis-hadis yang shahih dari Nabi ﷺ, tidak akan pernah ada yang kontradiksi. Ini secara mutlak. Sebagaimana firman Allah: “Maka apakah mereka tidak memerhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [QS. An-Nisa: 82]

    Oleh karena itu, jauhkanlah dirimu wahai saudaraku dari pemahaman, bahwa terjadi kontradiksi antara kedua ayat ini, atau antara hadis-hadis Nabi ﷺ, atau antara hadis dan ayat Alquran. Perhatikan kembali setelah engkau membacanya secara berulang-ulang. Sungguh akan jelas kepadamu kebenaran dan kesesuain penggabungan darinya. Jika engkau lemah dari menemukan hal itu, itu terjadi karena kurangnya pemahamanmu atau kurangnya ilmumu. Maka janganlah engkau melempar tuduhan, bahwa di dalam Alquran dan hadis-hadis terdapat sesuatu yang kontradiksi.” [Nur Ala Darb Libni Utsaimin: 2/72 (Maktabah Syamilah)]

    Kedua: Telah tsabit hadis-hadis yang menyebutkan tentang kedatangan Dajjal, bahwa pada hari kedatangannya selama 40 hari, hari pertama serasa setahun, hari kedua serasa sebulan, dan hari ke tiga serasa seminggu, kemudian hari-hari berikutnya sama dengan hari-hari biasanya. Ini menunjukkan bahwa Allah mampu menciptakan perbedaan perputaran waktu atau panjangnya hari, walau kita masih menyebutnya sebagai satu hari, namun hakikat perputaran waktunya berbeda. Hadis tersebut juga menunjukkan perbedaan hari yang terjadi dan bukan hari yang sama.

    Ketiga: Kesimpulan yang tepat dari penjelasan poin kedua adalah bahwa antara ayat pertama yang menyebutkan angka lima puluh ribu dan ayat kedua yang menyebutkan seribu tahun adalah hari yang berbeda. Sehingga tidak terjadi kontradiksi dalam hal ini.

    Jika kita memperhatikan dengan baik ayat -ayat tersebut kita akan mendapatkan kesimpulan, bahwa:

    – Ayat pertama pada permasalahan di atas yang menyebutkan angka lima puluh ribu tahun adalah lamanya kehidupan satu hari di Hari Kiamat, yang menyamai waktu lima puluh ribu tahun di dunia.

    – Sedangkan ayat kedua yang menyebutkan angka seribu tahun adalah masa penciptaan dan pengaturan kehidupan dunia yang kadarnya sehari di sisi Allah sama dengan seribu tahun bagi kita di dunia. Dan sama sekali tidak menyebutkan perhitungan hari di Hari Kiamat kelak.

    Syaikh Muhammad Ibnu Shaleh al-Utsaimin rahimahullah berkata:

    أن آية السجدة في الدنيا ، فإنه سبحانه وتعالى يدبر الأمر من السماء إلى الأرض ثم يعرج إليه في يوم ، كان مقدار هذا اليوم – الذي يعرج إليه الأمر – مقداره ألف سنة مما نعد ، لكنه يكون في يوم واحد ، ولو كان بحسب ما نعد من السنين لكان عن ألف سنة

    “Bahwasanya ayat pada Surat as-Sajadah menyebutkan ukuran waktu saat manusia hidup di dunia, di mana Allah subhanahu wataala mengatur semua perkara-perkara dari langit ke bumi, kemudian naik lagi kepada-Nya, itu terjadi dalam satu hari bagi-Nya. Adapun jika dihitung dalam perhitungan kita sebagai manusia yang hidup di dunia berlangsung selama seribu tahun. Padahal hakikatnya di sisi Allah hanya satu hari. Jika seandainya kita menghitung harinya, niscaya akan sampai seribu tahun lamanya.

    وأما الآية التي في سورة المعارج، فإن ذلك يوم القيامة كما قال تعالى : (سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ . مِنْ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ. تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ. وقوله : ( في يوم ) ليس متعلقاً بقوله تعالى : ( الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ)، لكنه متعلق بما قبل ذلك .

    “Adapun ayat yang disebutkan dalam surah al-Ma’arij, sesungguhnya ayat itu menyebutkan perbandingan hari untuk Hari Kiamat. Allah berfirman: “Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan.” Adapun kata “Dalam sehari” tidak berhubungan dengan firman Allah: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan.” Tapi berhubungan dengan ayat sebelumnya (yaitu permintaan seseorang tentang azab yang terjadi pada Hari Kiamat).” [Nur Ala Darb Libni Utsaimin: 2/72 (Maktabah Syamilah)]

    Sehingga jelas bahwa ayat-ayat ini tidaklah kontradikisi.

    Wallahu a’lam bishshowab.

    Fungsi pohon okosistem

    1000000000000000000000 g.

    Adalah angka yang menunjukkan berapa banyak massa oksigen di atmosfer bumi. ?

    Sekstiliun. Anda tidak salah dengar, itu memang sekstiliun. angka 1 diikuti 21 angka nol.

    1 sekstiliun gram massa oksigen di atmosfer bumi. Uniknya adalah dari jumlahnya yang berlimpah, unsur ini dihasilkan bukan oleh pohon saja. Malah, 80% dari oksigen berasal dari proses fotosintesis mahluk-mahluk kecil di lautan. Mahluk-mahluk mengagumkan seperti inilah yang memproduksi sebagian besar oksigen di bumi.

    Baca lebih lanjut

    PERBANDINGAN WAKTU DUNIA DAN AKHIRAT 1000 TAHUN ATAU 50000 TAHUN?

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

    Ayat Pertama:

    سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ (١)لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ (٢)مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ (٣)تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ (٤)فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلا (٥)

    Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” [ QS. Al-Ma’arij: 1-5]

    Ayat kedua:

    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا شَفِيعٍ أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ (٤)يُدَبِّرُ الأمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (٥)ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٦)

    Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” [QS. As-Sajadah: 4-6]

    Allah juga berfirman:

    وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (٤٧)

    Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, Padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” [QS. Al-Hajj: 47]

    Sesungguhnya ayat- ayat ini sama sekali TIDAK ADA KONTRADIKISI padanya. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa sisi:

    Baca lebih lanjut

    Besi …

    Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.‘(QS Al-Hadid: ayat 25).

    QS Al-Hadid: ayat 25) menggambarkan asal mula penciptaan bumi dan materi pembentuknya yaitu besi. Didalam surat itu digunakan kalimat anzalnaa (Kami telah turunkan) ketimbang khalaqnaa (Kami telah menciptakan).

    Baca lebih lanjut

    Ayat QAULIYAH dan ayat KAUNIYAH.

    Tag

    , , , , ,

    1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
    2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
    3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
    4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
    5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
    ( QS. Al-Alaq : 1-5 )
    Allah telah menyediakan untuk kita dua jenis ayat. Yang pertama, Ayat Qauliyah, yaitu ayat-ayat yang Allah firmankan dalam kitab-kitab-Nya. Al-Qur’an adalah ayat qauliyah yang berfungsi antara lain sebagai petunjuk
    “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri”. [an-Nahl 16:89]

    Yang kedua, Ayat Kauniyah,yaitu ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya. Ayat-ayat ini meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos). Bahkan diri kita baik secara fisik maupun psikis juga merupakan ayat kauniyah. Ayat kauniyah ini sering juga disebut dengan fenomena alam.

    Baca lebih lanjut

    Kenapa dalam al-Qur’an Ada Banyak Kata yang Diulang? Ini Alasannya

    Tag

    , ,

    Oleh M Azkiya Khikmatiar

    Di dalam al-Qur’an, terdapat ayat-ayat yang dalam penyebutannya diulang dua kali atau bahkan berkali-kali. Pertanyaannya kemudian, apa fungsi di balik pengulangan tersebut? Berikut penjelasannya:

    Secara bahasa, kata at-tikrar ( التكرار ) merupakan masdar dari kata ” كرر ” yang berarti mengulang atau mengembalikan sesuatu berulangkali. Secara istilah, Ibnu Atsir mengartikan al-tikrar sebagai sebuah lafadz yang menunjukkan kepada suatu makna dengan berulang-ulang. Sedangkan Ibnu Naqib mengartikan at-tikrar sebagai sebuah lafadz yang keluar dari seorang pembicara, kemudian mengulanginnya dengan lafadz yang sama, baik lafadz yang diulanginya tersebut semantik dengan lafadz yang dikeluarkan maupun tidak, atau ungkapan tersebut hanya dengan maknanya bukan dengan lafadz yang sama.

    Baca lebih lanjut

    Sumpah Allah SWT. dengan waktu atau masa.

    Tag

    , ,

    Al-‘Ashr 103:1

    وَٱلْعَصْرِ

    Demi masa,

    Translasi.

    German – Bubenheim/Elyas

    Beim Zeitalter!

    English – Yusuf Ali

    By (the Token of) Time (through the ages),

    Tafsir para Ulama.

    Tafsir Jalalayn

    (Demi masa) atau zaman atau waktu yang dimulai dari tergelincirnya matahari hingga terbenamnya; maksudnya adalah waktu salat Asar.

    Tafsir ibn Kathir

    Al-Asr artinya zaman atau masa yang padanya Bani Adam bergerak melakukan perbuatan baik dan buruk. Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam bahwa makna yang dimaksud adalah waktu asar.

    Tetapi pendapat yang terkenal adalah yang pertama. Allah Swt. bersumpah dengan menyebutkan bahwa manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, yakni rugi dan binasa.

    kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (Al-‘Asr:3)

    Maka dikecualikan dari jenis manusia yang terhindar dari kerugian, yaitu orang-orang yang beriman hatinya dan anggota tubuhnya mengerjakan amal-amal yang saleh.

    dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran. (Al-‘Asr: 3)

    Yakni menunaikan dan meninggalkan semua yang diharamkan.

    dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (A1-‘Asr: 3)

    Yaitu tabah menghadapi musibah dan malapetaka serta gangguan yang menyakitkan dari orang-orang yang ia perintah melakukan kebajikan dan ia larang melakukan kemungkaran.

    Pendapat ulama lainnya.

    Oleh: Ahmad Ghozi Abdullah

    PARA ulama dan mufassrin telah menjelaskan kepada umat Islam bahwasannya jikalau Allah bersumpah dengan sesuatu, maka sumpah itu di maksudkan untuk menarik perhatian bagi makhluk-Nya dan mengingatkan mereka akan keagungan dan arti yang besar dalam sesuatu yang Allah jadikan sumpah tersebut.

    Baca lebih lanjut

    Sejarah Islam yang terulang.

    Tag

    , , ,

    Kisah kisah dalam Al Quran yang patut dipelajari dan dijadikan contoh pada masa kini.

    Allah SWT berfirman:

    لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِى الْأَلْبٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

    Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
    (QS. Yusuf 12: Ayat 111)

    Kira kira sepertiga isi Al Quran terdiri dari kisah atau sejarah dari masa lalu.

    Banyak sejarah masa lalu tersebut terulang kembali dimasa kini, sejarah dari Al Quran bisa dijadikan sebagai peringatan maupun solusi problem yang terjadi di masa kini.

    Akar dari kata عِبْرَةٌ (ibrotul) ayat (QS. Yusuf 12: Ayat 111) diatas adalah:

    Ayn-Ba-Ra
    Meaning (artinya)
    to cross, interpret, state clearly, pass over. i’tabara – to consider, ponder over, take into account, get experience from, take warming. abratun (pl. i’bar) – regard/consideration, admonition, warning, example, instructive warning. aabir (pl. aabiriina) – one who passes over. i’tabara – to take warning, learn a lesson.

    More
    abara vb. (1)
    ta’buruuna impf. 2nd./3rd m. pl. act. 12:43
    pcple. act. m. pl. acc. 4:43

    ibrah n. f. 3:13, 12:111, 16:66, 23:21, 24:44, 79:26

    itabara vb. (8) impv. prt. m. pl. 59:2

    Lane’s Lexicon, Volume 5, pages: 221, 222, 223, 224
    http://www.studyquran.org/LaneLexicon/

    Wallahu ‘alam.

    Merah Putih dan lambang Umat Islam

    Dari Tsauban radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا
    Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku sehingga aku bisa melihat timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai apa yang telah dinampakkan untukku. Sku diberi dua harta simpanan: Merah dan putih. San sesungguhnya aku meminta Rabbku untuk ummatku agar Dia tidak membinasakan mereka dengan kekeringan menyeluruh, agar Dia tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri sehingga menyerang perkumpulan mereka. Dan sesungguhnya Rabbku berfirman, “Hai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir tidak bisa dirubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar mereka tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh dan Aku tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka, walaupun musuh mengeepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.” (HR. Muslim no. 2889)

    Baca lebih lanjut