Tag

, , ,

image

Surat Al Quran ke 105. Al Fil ayat 1-5.

Allah Ta’ala berfirman,
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al Fil: 1-5).

Kisah di atas menjelaskan tentang ashabul fiil (pasukan gajah) seorang penguasa Yaman yang ingin menghancurkan rumah Allah (Ka’bah). Mereka sudah mempersiapkan diri untuk menghancurkan Ka’bah tersebut. Mereka pun mempersiapkan gajah untuk menghancurkannya, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 570 Masehi & 52 tahun sebelum Hijriah, dikenal sebagai Tahun Gajah, . Alkisah dalam serangannya untuk menghancurkan ka’bah digagalkan oleh sekelompok burung atas perintah Allah SWT.

Tahun Kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pada tahun penyerangan gajah tersebut, lahirlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah itu adalah titik awal yang menunjukkan akan datangnya risalah beliau atau itulah tanda kenabian beliau. Falillahil hamdu wasy syukru.

Ada hadits yang menunjukkan bahwa Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dilahirkan pada tahun gajah yaitu hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

ولد النبي صلى الله عليه و سلم عام الفيل

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah.” (HR. Ath Thohawi dalam Musykilul Atsar no. 5211, Ath Thobroni dalam Al Kabir no. 12432, Al Hakim dalam mustadroknya no. 4180. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya. Adz Dzahabi mengatakan bahwa hadits ini sesuai syarat Muslim. Juga dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah no. 5 dari jalur Ibnu ‘Abbas. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah pada hadits no. 3152).

Bahkan ada ijma’ atau kesepakatan para ulama yang mendukung bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dilahirkan pada tahun gajah seperti dikatakan oleh Ibnul Mundzir, di mana ia berkata, “Tidak ragu lagi dari seorang ulama kita bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah. Lalu beliau diangkat jadi Rasul setelah 40 tahun dari tahun gajah.” Lihat As Silsilah Ash Shahihah pada hadits no. 3152, 7: 434.

Ketika penyerangan Makkah tersebut, di sana ada orang-orang musyrik yang beribadah pada berhala. Dan agama Nashrani lebih baik daripada agama orang musyrik. Kisah ini menunjukkan bahwa perlindungan Allah pada Ka’bah bukan karena adanya orang-orang musyrik yang ada di sekeliling Ka’bah, namun karena untuk melindungi Ka’bah itu sendiri, atau dikarenakan pada tahun gajah tersebut akan lahir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah, atau karena alasan dua-duanya sehingga Ka’bah dilindungi oleh Allah. Ini penjelasan Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Jawabush Shohih, 6: 55-57 dinukil dari Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Alasan Abrahah ingin menghancurkan Mekkah

Bemula saat bangsa Persia dan Romawi yang berniat menghancurkan ka’bah. Mereka tahu jika ka’bah di hancurkan maka upaya mengkristenisasi bangsa Arab lebih mulus.

Rupanya para pemimpin Persia dan Romawi saat itu tahu jika menghancurkan ka’bah secara langsung tak mungkin bisa dilakukan. Selain jaraknya yang jauh, keangkeran suku-suku di Arab yang kadung cinta sama ka’bah membuat raja Persia dan Romawi berpikir dua kali untuk menyerang ka’bah.

Mereka pun berusaha menguasai salah satu wilayah timur tengah tepatnya Yaman sebagai permulaan destinasinya melakukan serangan terhadap ka’bah. Lewat politik adu dombanya, maka terciptalah Abrahah sebagai salah satu Raja di Yaman yang dikenal dekat sebagai pemimpin boneka bangsa Persia dan Romawi. Terpilihnya Abrarah terjadi setelah pergolakan politik di Yaman saat kepemimpinan Irbath.

image

Abrahah adalah seorang pemimpin dari Aksumite yang beragama Kristen, kerajaannya terletak di selatan Arab. Gambar kepingan coin dari Axumite king Endubis.

Di bawah kepemimpinan Abrahah inilah serangan pertama kali ke ka’bah dilakukan dan dicatat dalam Al-qur’an. Upaya Abrahah dimulai dengan membangun gereja di Yaman bernama Shana’a untuk menandingi ka’bah.

Namun upaya itu rupanya tak berpengaruh bangsa Arab yang tetap memilih ka’bah sebagai kiblat ibadahnya. Merasa tak berhasil, Abrahah berang dan berniat melangsungkan serangan langsung ke ka’bah. Abrahah berpendapat dengan menghancurkan Ka’bah, bangsa Arab bakal memeluk Kristen.

Kronologi kejadian

Singkatnya setelah melewati hadangan suku-suku di Arab yang melindungi ka’bah, sampailah Abrahah didekat Mekkah untuk menghancurkan ka’bah.

image

Begitu mereka berada di dekat Mekkah, Abrahah mengutus anak buahnya yang bernama Hunata Al-Hiyari untuk menanyakan pemimpin kaum Quraisy saat itu.

“Tanyakan, siapa pemimpin negeri ini dan katakan padanya, ‘kami datang bukan untuk berperang melainkan hanya untuk menghancurkan ka’bah. Kami tidak akan membunuh mereka selama mereka tidak memerangi kami,” tegas Abarahah kepada ajudannya seperti ditulis dalam buku sejarah Kabah, kisah rumah suci yang tak lapuk dimakan zaman hal-159.

Pesan itu langsung disampaikan Hunata kepada Abdul Muthalib. “Demi Allah SWT kami tidak ingin berperang dengan Abrahah dan kami juga tidak mampu memeranginya. Ini adalah rumah Allah SWT dan rumah kekasihnya, Ibrahim,” kata Abdul Muthalib seperti yang ditulis dalam buku yang sama.

Saat perjalanan Abrahah untuk menghancurkan ka’bah, Abrahah rupanya juga merampas unta-unta milik penduduk Mekkah termasuk milik Abdul Mutallib.

Sesampainya di mekah, Abrahah langsung beringas dan merampas harta benda kaum Quraisy termasuk 200 unta milik Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW.

Hal tersebut sontak membuat kakek Nabi Muhammad tersebut merasa geram dan memberanikan diri untuk meminta kembali unta-unta tersebut.

Kakek Nabi Muhammad SAW. Abdul Muththalib, adalah penganut ajaran agama tauhid untuk mengesakan Allah SWT. sebagaimana yang dibawa nabi Ibrahim A.S. dan rasul lain sebelumnya.

Setelah itu Abdul Muthalib bersama Hunata bertemu dengan Abrahah. Abdul ingin meminta 200 ekor untanya yang dirampas oleh prajurit Abrahah.
Abdul Mutallib mendatangi tenda peristirahatan Abrahah seorang diri, tanpa pengawalan. Namun, saat Abdul Mutalib mengatakan niatnya, ia justru ditertawakan oleh Abrahah. Dengan kesombongannya, Abrahah pun menantang Allah untuk menghentikan niat buruknya.

Mendengar permintaan dan keberanian Abdul, Abrahah berkata. “Katakan padanya bahwa aku merasa kagum padanya dan mendengarkan semua perkataannya. Tapi, bagaimana mungkin ia lebih mementingkan unta-untanya dan membiarkan rumah ibadah yang menjadi agamanya dan agama nenek moyangnya aku hancurkan,” kata Abrahah.

“Aku adalah pemilik unta-unta itu, sementara ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya,” jawab Abdul Muthalib.

“Dan sekarang ini, Tuhannya ka’bah itu tak mampu menghalangiku,” kata Abarahah.

“Itu urusan Anda dengan-Nya,” jawab Abdul Muthalib.

Sebagai pemimpin Abdul Muthalib tak tinggal diam atas upaya Abrahah yang ingin menghancurkan ka’bah. Salah satunya dengan menawarkan 1/3 harta yang dimiliknya agar Abrahah mengurungkan ambisinya. Tetapi upaya itu tak bisa meluluhkan hati Abrahah, dia tetap pada ambisinya.

image

Serangan pasukan gajah.

Melihat usahanya tak membuat Abrahah luluh, Abdul Muthalib memerintahkan seluruh penduduk menuju bukit dan lembah untuk meninggalkan Mekkah. Pasukan Abrahah memiliki peralatan perang yang sangat lengkap. Masyarakat Mekkah yang ketakutan pun langsung mengungsi ke bukit-bukit.

“Wahai Tuhanku, aku tidak berharap siapapun mengalahkan mereka selain engkau,” kata Abdul dalam salah satu doanya kepada Allah SWT.

image

Detik-detik penghancuran ka’bah pun tiba. Para pasukan mulai mendekati ka’bah. Namun Abrahah mulai merasakan firasat buruk, sebab para gajah seolah enggan mendekati ka’bah. Padahal, sebelumnya panglima Yaman tersebut begitu yakin akan mudah menghancurkan ka’bah.

image

Namun keajaiban terjadi, seteleh beberapa jarak menuju ka’bah, pasukan Abrahah yang dikomandoi oleh gajah raksasa yang bernama Mahmud tiba-tiba saja datang jutaan burung dari arah laut di langit yang menyerang bertubi-tubi. Setiap satu burung membawa 3 buah batu kecil yang diselipkan di paruh dan dua kakinya untuk dilemparkan kepada pasukan Abrahah.

Merekalah pasukan khusus yang dikirim oleh Allah untuk memporak-porandakan kesombongan Abrahah, serta menjadi bukti kebesaran Allah.

Melihat serangan mendadak dari burung itu, Abrahah dan pasukannya kocar-kacir berhamburan tak arah yang jelas. Dalam sekejap, Abrahah dan pasukannya tewas dan tak meninggalkan jejak sedikit pun.

Sejarawan Arab, Al-Mas’udi berkata. “Allah SWT mengirim burung ababil (mirip burung pipit) yang melempari pasukan Abrahah dengan batu Sijjil yaitu batu yang bercampur tanah. Burung ini keluar dari laut dan masing-masing membawa 3 batu,” tutur Al-Mas’udi yang ditulis buku sejarah kabah.

Burung Perkasa yang Diciptakan untuk Membunuh Pasukan Gajah

image

Jika kamu seorang muslim, mungkin sudah nggak asing lagi dengan nama burung ababil. Diketahui burung tersebut bukanlah satu jenis spesies yang ada di dunia, namun Allah sengaja menciptkan burung ini untuk menghancurkan kesombongan dan keserakahan Abrahah.

Dialah sang panglima perang negeri Yaman yang begitu ditakuti pada masanya. Namanya begitu dikenal karena kebengisan dan juga kekuatannya yang dahsyat. Namun, sekuat apapun Abrahah, dia tetaplah manusia biasa. Tak akan mampu ia menghadapi Allah SWT. Kesombongan tersebut sontak saja lebur setelah Allah mengirimkan pasukan ababil dari langit. Seperti apa sebenarnya burung yang mengalahkan pasukan gajah tersebut? Berikut ulasannya.

Ciri fisik burung ababil

Seperti dijelaskan sebelumnya, ababil bukanlah spesies burung yang ada di bumi. Burung tersebut merupakan pasukan khusus yang diciptakan untuk memiliki kekuatan jauh melampaui manusia. burung-burung tersebut digambarkan memiliki warna yang berbeda, ada yang hitam, putih, dan hijau. Masing-masing dari burung tersebut membawa tiga batu, satu di paruh dan dua di kaki mereka.

image

Batu tersebut merupakan kerikil-kerikil dari neraka yang begitu panas. Cara burung ababil membawa batu panas tersebut terlihat seperti pesawat tempur aerodinamis yang seperti pesawat F-15 atau Sukhoi SU-20, namun dengan jumlah yang luar biasa banyak. Saking banyaknya burung-burung tersebut terlihat seperti kepulan asap yang pekat.

Burung ababil diciptakan sebagai pasukan yang kuat

Abrahah saat itu dikenal sebagai panglima yang sangat ditakuti karena kekuatannya. Namun, diketahui bahwa Allah dengan mudah menciptakan pasukan udara yang memiliki kekuatan melampaui para manusia sombong tersebut.

Digambarkan bahwa burung ababil memiliki kekuatan untuk membawa batu panas dari neraka dan melemparkannya pada musuh-musuh Allah. Bebatuan yang sontak membuat pasukan Abrahah terhempas, seperti daun-daun kering yang dimakan ulat. Dalam hitungan menit, pasukan yang terkenal luar biasa kuat tersebut porak poranda.

Misteri batu yang dibawa oleh burung ababil

Peristiwa hancurnya pasukan Abrahah memang menimbulkan banyak pertanyaan, terutama dari sisi sains. Sebab, batu-batu yang digunakan para burung untuk menghancurkan para pasukan Abrahah hilang begitu saja. Penelitian tentang batu tersebut pun tidak bisa dilakukan.

Batu yang sama kemungkinan juga telah menghancurkan kaum Luth yang membangkang seperti ayat berikut.

Allah SWT berfirman, ” Maka tatkala datang adzab kami, kami jadikan negeri Luth itu bagian yang di atas ke bawah (kami balikkan) dan kami hujani mereka dengan sijjil (batu dari tanah yang terbakar) dengan bertubi-tubi, yang di beri tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zhalim”. (QS Hud : Ayat 82-83).

Hingga saat ini, banyak yang yang tidak percaya jika bebatuan tersebut berasal dari neraka. Sebab, jika benar berasal dari neraka, tentu bumi sudah berlubang karena panasnya. Banyak yang berpendapat bahwa batu tersebut berasal dari luar angkasa. Namun dari planet apa? Hingga saat ini, batu yang menghancurkan satu pasukan itu masih menjadi misteri.

Itulah sedikit kisah tentang burung ababil yang menghancurkan pasukan gajah dalam sekejap. Dari kisah di atas, kiranya bisa memberikan pembelajaran bahwa manusia memang tidak pantas memiliki sifat kesombongan, seberapa tinggi dan hebatnya ia di mata manusia lain.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber.
● dihimpun dari berbagai sumber di internet.
● Wikipedia
batu-batu SIJJIl.
Burung Ababil dan Batu Sijjil.

Wallahu a’lam bishawab.

Iklan