Tag

, , , , , , , , , , , , ,

image

Map of internal conflict zones in Myanmar (Burma). States and regions affected by fighting during and after 1995 are highlighted in yellow.
List_of_insurgent_groups_in_Myanmar.

Allah SWT. berfirman dalam surat Al Hajj ayat 39,

“Telah diijinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”

Dan surat Al Hajj ayat yang ke 40,

“Orang-orang yang telah diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah”

Ternyata Etnis Rohingya Pribumi Asli Myanmar.

Peneliti asal Skotlandia, Francis Buchanan, mengungkapkan, kaum Mohammedan (yang secara harfiah berarti pengikut Muhammad atau Muslim) telah lama menetap di Arakan. “Orang-orang itu menyebut diri mereka sebagai Rooinga yang berarti masyarakat pribumi asli Arakan,” tulis Buchanan dalam laporannya, “Asiatic Research 5”, yang diterbitkan pada 1799.

Sementara tiu, sebagaimana dilansir Republika, Minggu (31/5/2015), sensus yang dilakukan pemerintah kolonial Inggris di Burma pada 1826, 1872, 1911, dan 1941 juga menyebutkan, masyarakat Rohingya yang diidentifikasi sebagai Muslim Arakan adalah salah satu ras asli di Burma.

Menurut hasil dokumentasi SIL Internasional (sebuah lembaga bahasa dunia yang memiliki status konsultatif khusus dengan PBB), bahasa Rohingya Myanmar masuk dalam rumpun dialek Indo-Arya. Bahasa ini terdaftar dengan kode “rhg” dalam tabel ISO 639-3.

Meski dialek yang dipertuturkan orang-orang Rohingya berbeda dengan yang diucapkan penduduk Burma di Rakhine sekarang, fakta sejarah membuktikan bahasa Rohingya mempunyai kesamaan dengan bahasa yang digunakan masyarakat Vesali kuno (antara 327-818).

image

Jumlah penduduk Myanmar diperkirakan sekitar 50 juta orang. 15% di antaranya mayoritas Muslim adalah orang Arakan. 70% dari populasi Muslim Arakan. Sisanya adalah orang Magh, Theravada Buddha Arakan. Dan kelompok minoritas lainnya.
Myanmar adalah wilayah yang terdiri dari banyak suku. Lebih dari 140 suku mendiami wilayah bekas koloni Inggris tersebut. Suku mayoritas adalah Bamar / Burma. Suku ini adalah suku kasta pertama sebagai mayoritas. Karena itu, nama depan daerah ini dinamakan Burma sebelum kemudian diubah menjadi Mynamar. Yang kedua adalah kasta suku Syan, Kachin, Chin, Kayah, Magh, dan Muslim dari suku Rohingya. Jumlah lapis kedua adalah sekitar 5 juta jiwa.

Di samping itu, hasil kajian Universitas Oxford sepanjang 1935-1942 menyimpulkan, kebudayaan Rohingya sama tuanya dengan usia Monumen Batu Ananda Sandra yang didirikan di Arakan pada abad kedelapan silam.

Semua catatan di atas dapat menjadi gambaran bahwa etnik Muslim Rohingya memiliki akar sejarah yang kuat sebagai salah satu ras pribumi asli di Rakhine– yang sekarang menjadi bagian dari wilayah Myanmar. Oleh karena itu, tidak ada pembenaran untuk mencap etnik Rohingya sebagai ras asing hanya karena mereka menganut ajaran Islam dan menggunakan nama-nama Muslim.
Allah SWT berfirman:

لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكٰفِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِى شَىْءٍ إِلَّآ أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقٰىةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۥ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah tempat kembali.
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 28)

Pemimpin Rohingya yang juga politikus Partai Pembangunan Uni Nasional di Myanmar, Abu Tahay, memaparkan sejarah keberadaan kelompok etnis tersebut dalam karya tulisnya, “Rohingya Belong to Arakan and Then Burma and So Do Participate.”

Di situ disebutkan, sejarah etnis Rohingya bermula ketika masyarakat kuno keturunan Indo-Arya yang menetap di Arakan (Rakhine sekarang–Red) memutuskan untuk memeluk Islam pada abad ke-8. Pada masa-masa selanjutnya, generasi baru mereka kemudian juga mewarisi darah campuran Arab (berlangsung pada 788-801), Persia (700- 1500), Bengali (1400-1736), dan ditambah Mughal (pada abad ke-16).

Catatan sejarah mengungkapkan, Syiar Islam mencapai Arakan sebelum 788 Masehi.

Perlu diketahui bahwa struktur Muslim Myanmar terdiri dari sejumlah etnis. Selain Rohingya ada pula Muslim Burma, Muslim Paathee (Cina), Muslim Pashu (Melayu), Muslim Indian dan Muslim Parsi.

Islam memainkan peranan penting bagi kemajuan peradaban di Arakan. Umat Islam, Buddha, dan Hindu hidup berdampingan selama berabad-abad dalam suasana rukun dan penuh persahabatan. Mereka (kelompok Muslim, Buddha, dan Hindu) juga memerintah negeri Arakan bersama-sama.

Letnan Kolonel Win Maung, yang pernah bekerja di Direktorat Transmigrasi Kementerian Pertahanan Myanmar, pernah menerbitkan buku berjudul The Light of Sasana (Cahaya dari Sasana) pada 1997 lalu. Pada halaman 65 buku itu disebutkan, agama Islam sudah diperkenalkan ke Myanmar sejak 1.000 – 1.200 tahun silam.

Sejarah Asia Tenggara

Ali Bin Abi Thalib, Penyebar Islam di Rohingya.

Penyebar Cahaya Islam pertama di wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Arakan atau Rohingya, dan juga di wilayah Myanmar secara keseluruhan, adalah Ali Bin Abi Thalib r.a., salah satu Sahabat Nabi SAW terkasih yang juga Amirul Mukminin setelah Utsman bin Affan r.a terbunuh.

Sejarah mencatat, Nabi Muhammad SAW dilahirkan di Makkah pada Tahun Gajah yaitu pada tanggal 12 Rabi’ul Awal atau pada tanggal 21 April (570 atau 571 Masehi). Ketika berusia 40 tahun, pada tahun 610 M, Nabi Muhammad SAW menerima kedatangan malaikat Jibril yang diutus Allah Swt di Gua Hiro dan mendapatkan wahyu yang pertama. Sejak itulah, cahaya Islam mulai menyinari para sahabat terdekat yang kemudian di kenal sebagai “as-Sabiqun al-Awwalun” (Orang-orang pertama yang memeluk agama Islam) dan selanjutnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah, setelah turun wahyu al-quran surat al hijr ayat 94.

Pada tahun 622, Nabi Muhammad dan pengikutnya pindah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa ini dinamai Hijrah. Semenjak peristiwa itu dimulailah Kalender Islam atau kalender Hijriyah.

Setelah turunnya Surat Al-Hijr ayat 94 dimana Allah Swt telah memberikan jaminan-Nya agar dakwah Islam dilakukan secara terbuka, Rasulullah SAW pun memberikan tugas dakwah kepada para sahabat dan orang-orang terdekatnya ke penjuru negeri. Tidak saja di jazirah Arab, namun hingga ke tempat-tempat yang jauh dan harus menyeberangi samudera luas, hingga ke daratan yang sekarang dinamakan AmerikaUtara.

Dalam berbagai sumber dan referensi, Rasulullah SAW memerintahkan Ali bin Abi Thalib r.a. untuk berdakwah di wilayah Asia Barat, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, bersama-sama sahabat yang lainnya. Hal ini dicatat oleh Asy-Syaikh As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh (Syekh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam) yang kemudian ditulis kembali dengan dilengkapi berbagai data oleh Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmathkhan dalam blog pribadi beliau (www.ikraalfattah.blogspot.com). Inilah Peta Dakwah dari Ali bin Abi Thalib r.a.:

ASIA SELATAN

Ali bin Abi Thalib, Pernah datang dan dakwah di kawasan Shind (Hind), yang meliputi kawasan: Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, Pakistan, Sri Lanka. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.20)

ASIA TENGGARA

Ali bin Abi Thalib, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (Tanah Sunda), Indonesia, tahun 625 Masehi. Perjalanan dakwahnya juga dilakukan di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Timur Leste, Brunei Darussalam, Sulu, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Laos, Myanmar, Kampuchea. (Sumber: H.Zainal Abidin Ahmad, Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang, Bulan Bintang, 1979; Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.31; S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39)

Selain Ali bin Abi Thalib r.a., beliau juga mencatat Peta Dakwah para sahabat lainnya, seperti:

Ja’far bin Abi Thalib, berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia, sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.33)
Ubay bin Ka’ab, berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.35)
Abdullah bin Mas’ud, berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: G. E. Gerini, Futher India and Indo-Malay Archipelago)
‘Abdurrahman bin Mu’adz bin Jabal, dan putera-puteranya Mahmud dan Isma’il, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. sekitar tahun 625 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.38)
Akasyah bin Muhsin Al-Usdi, berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan dan sebelum Rasulullah Wafat, ia kembali ke Madinah. sekitar tahun 623 M/ 2 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39; Pangeran Gajahnata, Sejarah Islam Pertama Di Palembang, 1986; R.M. Akib, Islam Pertama di Palembang, 1929; T. W. Arnold, The Preaching of Islam, 1968)
Salman Al-Farisi, berdakwah Ke Perlak, Aceh Timur dan Kembali Ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39)
Sebab itulah, sejarah mencatat jika cahaya Islam telah bersinar di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Myanmar sejak abad ke-7 Masehi. Islam telah datang terlebih dahulu di daratan ini ketimbang orang-orang Budha.

Ada pula yang mencatat jika Islam mencahayai wilayah Arakan pada masa kekuasaan Daulah Abbasiyah yang tengah dipimpin oleh Khalifah Harun al-Rasyid rahimahullah (786 M).

image

Memang muslim Arakan atau Rohingya ini sudah ada di wilayah Burma sejak abad 7 Masehi, namun kerajaan Arakan baru berdiri sejak tahun 1430 sampai 1784 Masehi. Mereka ini meninggalkan peninggalan sejarah Islam berupa masjid-masjid dan madrasah madrasah, di antaranya adalah masjid Badr yang terkenal berada di Arakan. Nama masjid serupa juga dipakai di masjid daerah-daerah pantai di India, Bangladesh, Thailand, Burma dan Malaysia. Dan juga masjid yang terkenal bernama masjid Sandy Khan yang didirikan pada tahun 1430 H. Arakan ketika itu menjadi negeri merdeka dan berdaulat selama 3,5 abad dan dipimpin 48 penguasa Muslim secara berturut-turut, yaitu antara tahun 1430 – 1784 M.

image

Masjid Badr di Arakan.

Budha Menjajah Arakan

image

Sekte sekte agama Budha

Allah SWT berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 200)

Tiga abad kemudian, tepatnya tahun 1784 M, Raja Budha dari suku Birma yang bernama Bodawpaya (masa pemerintahan 1782-1819 M) datang dan menyerang Arakan atau Rohingya. Lalu dengan seenaknya dia menggabungkan wilayah Arakan ke dalam wilayahnya, agar Islam tidak berkembang di wilayah tersebut.

Sejak saat itu bencana umat Islam Arakan pun dimulai. Peninggalan-peninggalan Islam, masjid dan madrasah, dihancurkan. Para ulama dan da’i dibunuh. Budha dari suku Birma terus-menerus mengintimidasi kaum muslimin dan menjarah hak milik mereka. Mereka juga memprovokasi orang-orang Magh untuk melakukan hal yang sama. Keadaan tersebut terus berlangsung selama 40 tahun. Sampai akhirnya berhenti dengan kedatangan penjajah Inggris.

image

Pada tahun 1824 M, Inggris menguasai Burma. Kemudian kerajaan Britania itu menggabungkan wilayah itu dengan persemakmurannya di India.

Pada tahun 1937 M, Inggris memisahkan Burma dan wilayah Arakan dari wilayah kekuasaannya di India. Maka Burma menjadi wilayah kerajaan Inggris tersendiri yang bernama Burma Britania. Tidak bernaung di wilayah India lagi.

Tahun 1942 M, bencana besar menimpa kaum muslimin Rohingya. Orang-orang Budha Magh membantai mereka dengan dukungan senjata dan materi dari saudara Budha mereka suku Birma dan suku-suku lainnya. Lebih dari 100.000 muslim pun tewas dalam peristiwa itu. Sebagian besar mereka adalah wanita, orang tua, dan anak-anak. Ratusan ribu lainnya melarikan diri dari Burma. Karena pedih dan mengerikannya peristiwa tersebut, kalangan tua –saat ini- yang menyaksikan peristiwa itu senantiasa mengingatnya dan mengalami trauma.

The lies about Rohingya

Pada tahun 1947 M, Burma mempersiapkan deklarasi kemerdekaan mereka di Kota Panglong. Semua suku diundang dalam persiapan tersebut, kecuali umat Islam Rohingya. Pada tanggal 4 Januari 1948, Inggris memberikan kemerdekaan kepada Burma secara penuh disertai persyaratan masing-masing suku bisa memerdekakan diri dari Burma apabila mereka menginginkannya. Namun suku Birma mengkhianati poin perjanjian tersebut. Mereka tetap menguasai wilayah Arakan dan tidak mendengarkan suara masyarakat muslim Rohingya dan Budha Magh yang ingin merdeka. Mereka pun melanjutkan intimidasi terhadap kaum muslimin. Sampai sekarang.

image

The New York Times |Source: Human Rights Watch. Human Rights Watch conducted an analysis of satellite imagery, counting at least 200 villages burned down in the offensive, which the United Nations has called “a textbook example of ethnic cleansing.”

Inilah sejarah Muslim Arakan atau Rohingya. Jadi Musli Rohingya adalah penduduk asli, Bumiputera dari Myanmar, dan rezim tiranik Budha Myanmar adalah kaum penjajah, kolonialis.

Waallahu a’lam bishwab.

Sumber.
A History of Arakan: the Past and the Present By Dr. Yunous.

● Tadabur Surat Al-Buruj Bersama Seorang Rohingya.
● Wikipedia, ZonaSatu, Eramuslim, dan lain lain.
● NYTimes: Satellite Images Show More Than 200 Rohingya Villages Burned in Myanmar.

Iklan