Tag

, , , , , , , ,

image

Peta daerah kekuasaan Spanyol di Belanda dan sebagian Eropa tahun 1600. Belanda dulu dijajah Spanyol selama lebih dari 200 tahun. Daerah Spanyol Belanda berada di bawah kekuasaan Erzherzog Albert dari Austria dan Infanta Isabella dari Spanyol (Spanyol Belanda). Periode ke-16 sampai pertengahan abad ke-17 dikenal sebagai “Zaman Keemasan Spanyol” (dalam bahasa Spanyol, Siglo de Oro). Credit euratlas

Biar sejarah yang bicara ……
Belanda Tidak Pernah Menjajah Ratusan Tahun di Indonesia

Ada tulisan menarik dari pakar Sejarah/ guru besar sejarah UNPAD, Prof. Nina Herlina Lubis mengenai Sejarah Penjajahan Kerajaan/ Negara Belanda di Negeri Indonesia. Meskipun dulunya waktu Belanda datang belum terbentuk negara Indonesia tercinta ini. Menarik dari kesimpulan tulisan yang dimuat oleh koranPikiran Rakyat satu tahun lalu (8 Maret 2008) ini adalah.

Belanda dijajah 200 tahun oleh Spanyol dan memerlukan 300 tahun untuk menaklukkan Nusantara, bukan Indonesia dijajah selama 350 tahun oleh Belanda.

image

Belanda Spanyol tahun 1700, abu abu, dalam bahasa belanda: Spaanse Nederlanden, bahasa Spanyol: Pays-Bas espagnols. Dimasa itu Belanda merupakan sebuah Provinsi dari Imperium Spanyol, Negara bagian Kekaisaran Romawi Suci, 1581–1714

Judul Asli Tulisan yang dimuat di PR ; Tanggal 8 Maret 2008

Oleh Nina Herlina L.

Wij sluiten nu.Vaarwel, tot betere tijden. Leve de Koningin!” (Kami akhiri sekarang. Selamat berpisah sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sang Ratu!). Demikian NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij/Maskapai Radio Siaran Hindia Belanda) mengakhiri siarannya pada tanggal 8 Maret 1942.

Enam puluh enam tahun yang lalu, tepatnya 8 Maret 1942, penjajahan Belanda di Indonesia berakhir sudah. Rupanya “waktu yang lebih baik” dalam siaran terakhir NIROM itu tidak pernah ada karena sejak 8 Maret 1942 Indonesia diduduki Pemerintahan Militer Jepang hingga tahun 1945. Indonesia menjadi negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Masyarakat awam selalu mengatakan bahwa kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Benarkah demikian? Untuk ke sekian kalinya, harus ditegaskan bahwa “Tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun”.

Masyarakat memang tidak bisa disalahkan karena anggapan itu sudah tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah sejak Indonesia merdeka! Tidak bisa disalahkan juga ketika Bung Karno mengatakan, “Indonesia dijajah selama 350 tahun!” Sebab, ucapan ini hanya untuk membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme rakyat Indonesia saat perang kemerdekaan (1946-1949) menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Bung Karno menyatakan hal ini agaknya juga untuk meng-counter ucapan para penguasa Hindia Belanda. De Jong, misalnya, dengan arogan berkata, “Belanda sudah berkuasa 300 tahun dan masih akan berkuasa 300 tahun lagi!” Lalu Colijn yang dengan pongah berkoar, “Belanda tak akan tergoyahkan karena Belanda ini sekuat (Gunung) Mount Blanc di Alpen.

Untuk bisa menjajah 350 tahun negara manapun Belanda sudah harus mulai menjajah sejak tahun 1600. Pada masa ini Belanda masih mengalami Perang Delapan Puluh Tahun (1568–1648) berjuang melawan penjajahan Imperium Spanyol raja Phillips II, untuk mendapatkan kemerdekaan sebagai negara Republik Belanda.

Tulisan ini akan menjelaskan bahwa anggapan yang sudah menjadi mitos itu, tidak benar. Mari kita lihat sejak kapan kita (Indonesia) dijajah dan kapan pula penjajahan itu berakhir.

Kedatangan penjajah di Indonesia.

Pada 1511, Portugis berhasil menguasai Malaka, sebuah emporium yang menghubungkan perdagangan dari India dan Cina. Dengan menguasai Malaka, Portugis berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala, dan fuli dari Sumatra dan Maluku. Pada 1512, D`Albuquerque mengirim sebuah armada ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Dalam perjalanan itu mereka singgah di Banten, Sundakalapa, dan Cirebon. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa, armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara, akhirnya tiba juga di Ternate.

image

Peta daerah dominasi Portugis di Hindia dan Malaka hingga tahun 1650., sebelum ada dominasi Belanda. Pada saat Belanda mendarat di Banten 1596 Portugis masih menguasai Malaka archipel hingga terjadi perang antara Belanda dan Portugal. Sesudah runtuhnya imperium Portugal dan Spanyol daerah kekuasaan keduanya dianeksi oleh Inggris dan Belanda. Istilah Hindia Belanda berarti “India bagian Belanda“, sebuah istilah dibuat diantara para kolonialis.

Di Ternate, Portugis mendapat izin untuk membangun sebuah benteng. Portugis memantapkan kedudukannya di Maluku dan sempat meluaskan pendudukannya ke Timor. Dengan semboyan “gospel, glory, and gold” mereka juga sempat menyebarkan agama Katolik, terutama di Maluku. Waktu itu, Nusantara hanyalah merupakan salah satu mata rantai saja dalam dunia perdagangan milik Portugis yang menguasai separuh dunia ini (separuh lagi milik Spanyol) sejak dunia ini dibagi dua dalam Perjanjian Tordesillas tahun 1493. Portugis menguasai wilayah yang bukan Kristen dari 100 mil di sebelah barat Semenanjung Verde, terus ke timur melalui Goa di India, hingga kepulauan rempah-rempah Maluku. Sisanya (kecuali Eropa) dikuasai Spanyol.

Nusantara sebagai mata rantai perdagangan tidak bisa diartikan sebagai negara yang ditaklukan, begitu pula kekaisaran Jepang (Nagasaki) yang juga mempunyai hubungan dengan Portugal.

Masa VOC hingga 1800.

image

Republik Belanda — secara resmi disebut Republik Tujuh Belanda Bersatu (Republiek der Zeven Verenigde Nederlanden), Republik Belanda Bersatu, atau Republik Tujuh Provinsi Bersatu (Republiek der Zeven Verenigde Provinciën) — adalah sebuah republik di Eropa yang berdiri sejak tahun 1581 hingga 1795, pendahulu dari Kerajaan Belanda sekarang ini yang baru terbentuk 16 Maret 1815. Nama alternatifnya yaitu Provinsi Bersatu, Foederatae Belgii Provinciae (Federasi Provinsi Belgia), dan Belgica Foederata (Federasi Belgia).
Diakhir era ini adalah zaman kegemilangan dalam sejarah Belanda,1584-1702, secara kasarnya pada abad ke-17, yang mana ketika itu perdagangan, sains, dan kesenian Belanda adalah yang paling disanjung di dunia. V.O.C. didirikan juga di era ini hingga bangkrut dan di liquidasi ditahun 1798.

Sejak dasawarsa terakhir abad ke-16, para pelaut Belanda berhasil menemukan jalan dagang ke Asia yang dirahasiakan Portugis sejak awal abad ke-16. Pada 1595, sebuah perusahaan dagang Belanda yang bernama Compagnie van Verre membiayai sebuah ekspedisi dagang ke Nusantara. Ekpedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara.

image

Wilayah kesultanan Banten pada masa Maulana Hasanuddin, yang menguasai Selat Sunda pada kedua sisinya, pelabuhan Banten adalah pelabuhan internasional yang terbesar di Asia Tenggara dan menjadi pusat perdagangan antar benua.
Diakhir tahun 1660an pemerintah Banten mendirikan assosiasi pribumi lokal untuk menyaingi VOC, dengan nama Bantenese Company. Bantenese Company segera melakukan perdagangan langsung dengan Mekka, Gujarat, Coromandel, Bengal, Siam, Kamboja, Vietnam, Taiwan dan Jepang, dan mengundang lembaga komersial Inggris, Belanda, Perancis, Denmark, Portugal (Macau) dan Kekaisaran Cina ( Taiwan dan Amoy) ke Banten. Perusahaan dagang eropa lainnya yang beroperasi di nusantara a.l.
○ Perusahaan Hindia Timur Britania, didirikan pada 1600.
○ Perusahaan Hindia Timur Denmark, didirikan pada 1616.
○ Perusahaan Hindia Barat Belanda, didirikan pada 1621.
○ Perusahaan Hindia Timur Perancis, didirikan pada 1664.
○ Perusahaan Hindia Timur Swedia, didirikan pada 1731.
Akibat perang saudara antara Bupati Sultan Ageng dengan anak dan penggantinya Sultan Haji Abu Nasr Abdul Kahhar yang dibantu VOC, akhirnya dengan taktik divide et impera (memecah-belah dan kemudian menguasai), VOC kembali mendapatkan monopol dagang di Banten dan company eropa lainnya disingkirkan. Di awal abad ke 19 kesultanan Banten berakhir.

Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelis de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Dengan belajar dari kesalahan Cornelis de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten.

Ketiga kapal kembali ke negerinya dengan muatan penuh. Sementara itu, kapal lainnya meneruskan perjalanannya sampai ke Maluku untuk mencari cengkih dan pala.

Dengan semakin ramainya perdagangan di perairan Nusantara, persaingan dan konflik pun meningkat. Baik di antara sesama pedagang Belanda maupun dengan pedagang asing lainnya seperti Portugis dan Inggris. Untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat ini, pada 1602 di Amsterdam dibentuklah suatu wadah yang merupakan perserikatan dari berbagai perusahaan dagang yang tersebar di enam kota di Belanda. Wadah itu diberi nama Verenigde Oost-Indische Compagnie (Serikat Perusahaan Hindia Timur) disingkat VOC.

image

Sebuah saham Perusahaan Hindia Timur Belanda, tertanggal 7 November 1623, untuk jumlah 2.400 florin. Pada 1669, VOC merupakan perusahaan pribadi terkaya dalam sepanjang sejarah, dengan lebih dari 150 perahu dagang, 40 kapal perang, 50.000 pekerja, angkatan bersenjata pribadi dengan 10.000 tentara, dan pembayaran dividen 40%. komoditi yang dibawa ke eropa di abad pertama hingga tahun 1700 berjumlah 577 Millionen Gulden dan diabad kedua hingga tahun 1795 1,6 Milliarden Gulden. Dihitung dengan harga emas sekarang satu Guldennya (4g = 133 €) berjumlah 211 Milliarden €, jadi senilai 317,7 Milliarden € ditahun 2009. Pada pertengahan abad ke-18 VOC ditutup dengan hutang 136.7 gulden. Kebangkrutan disebabkan antara lain banyaknya pengeluaran biaya peperangan contoh perang melawan Hasanuddin dari Gowa

Pemerintah Kerajaan Belanda (dalam hal ini Staaten General), memberi “izin dagang” (octrooi) pada VOC. VOC boleh menjalankan perang dan diplomasi di Asia, bahkan merebut wilayah-wilayah yang dianggap strategis bagi perdagangannya. VOC juga boleh memiliki angkatan perang sendiri dan mata uang sendiri. Dikatakan juga bahwa octrooi itu selalu bisa diperpanjang setiap 21 tahun. Sejak itu hanya armada-armada dagang VOC yang boleh berdagang di Asia (monopoli perdagangan).

Dengan kekuasaan yang besar ini, VOC akhirnya menjadi “negara dalam negara” dan dengan itu pula mulai dari masa Jan Pieterszoon Coen (1619-1623, 1627-1629) sampai masa Cornelis Speelman (1681-1684) menjadi Gubernur Jenderal VOC, kota-kota dagang di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah berhasil dikuasai VOC. Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat kedudukan VOC sejak 1619, Ambon dikuasai tahun 1630 , dan tahun 1669 menundukkan Kesultanan Gowa yang merupakan salah satu penyebab bangkrutnya VOC. Beberapa kota pelabuhan di Pulau Jawa baru diserahkan Mataram kepada VOC antara tahun 1677-1705. Sementara di daerah pedalaman, raja-raja dan para bupati masih tetap berkuasa penuh. Peranan mereka hanya sebatas menjadi “tusschen personen” (perantara) penguasa VOC dan rakyat.

“Power tends to Corrupt.” Demikian kata Lord Acton, sejarawan Inggris terkemuka. VOC memiliki kekuasaan yang besar dan lama, VOC pun mengalami apa yang dikatakan Lord Acton. Pada 1799, secara resmi VOC dibubarkan akibat korupsi yang parah mulai dari “cacing cau” hingga Gubernur Jenderalnya.

Setelah peperangan keempat antara Provinsi Bersatu dan Inggris (1780-1784), VOC mendapatkan kesulitan finansial, dan pada 17 Maret 1798, perusahaan ini dibubarkan, setelah Belanda kembali dijajah oleh tentara Napoleon Bonaparte dari Perancis. Hindia Timur diserahkan kepada Kerajaan Belanda oleh Kongres Wina di 1815.

Kontrak VOC, perusahaan dagang yang dibangun dengan modal 6,5 juta gulden, yang jatuh tempo pada 31 Desember 1799 tidak diperpanjang lagi dan secara resmi dibubarkan tahun 1799. Setelah dibubarkan, plesetan untuk VOC menjadi Vergaan Onder Corruptie (Runtuh karena korupsi).

image

Peta evolusi pendudukan Hindia Belanda yang menunjukkan wilayahnya dari tahun 1800 hingga pendudukan Jepang tahun 1942.

Pemerintah Belanda lalu menyita semua aset VOC untuk membayar utang-utangnya, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasainya di Indonesia, seperti kota-kota pelabuhan penting dan pantai utara Pulau Jawa. Politik kolonial resmi ditangani sendiri oleh Pemerintah Belanda, yang menjalankan politik imperialisme secara sistematis, dengan tujuan menguasai seluruh wilayah Nusantara.

Masa Kerajaan Belanda.

image

Peta masuknya Islam di Nusantara pada abad ke 13. Sejarah masuknya Islam ke Indonesia dan proses penyebarannya berlangsung dalam waktu yang lama yaitu dari abad ke 7 sampai abad ke 13 Masehi. Selama masa itu, para pedagang dari Arab, Gujarat, dan Persia intensif menyebarkan Islam di daerah yang mereka kunjung terutama di daerah pusat perdagangan, bahkan hingga Papua.

Selama satu abad kemudian, Hindia Belanda berusaha melakukan konsolidasi kekuasaannya mulai dari Sabang-Merauke. Namun, tentu saja tidak mudah. Berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti Perang Padri (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh (1873-1912).

image

Luas Kesultanan Aceh. pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, 1608-1637.

Sampai awal abad 20, Belanda belum sepenuhnya menguasai seluruh Asia Tenggara/ Nusantara. Beberapa Kerajaan yang belum dapat dikalahkan Belanda. Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh. Jadi baru setelah tahun 1912 Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia (kecuali Timor Timur).

image

Pemerintahan langsung kolonial Belanda , sampai akhir abad ke-19, hanya ada dibeberapa wilayah Hindia Belanda yang terbatas, terutama di Jawa dan di Maluku. Di sisa Hindia Belanda, Belanda mengerahkan kekuatan mereka melalui penguasa lokal – sebuah kebijakan yang disengaja disebut 'onthoudingspolitiek' , abstinencepolitik. Menjelang akhir 19 dan di awal 20 Belanda memperluas pemerintahan langsung kolonial di seluruh Hindia Belanda – yang terkadang membutuhkan angkatan bersenjata.

Jangan lupa pula bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.

Ketika Napoleon Bonaparte berkuasa di Prancis, Belanda yang kalah perang, berada di bawah kekuasaan Prancis dari tahun 1806 sampai tahun 1813. Perubahan situasi di Eropa juga berimbas ke kawasan Asia Tenggara, di mana terdapat persaingan kekuasaan antara Belanda dan Inggris. Lord Minto, Gubernur Jenderal Inggris di India (1807 – 1813), memimpin armada Inggris menyerbu Jawa, dan pada 6 Agustus 1811, bersama Thomas Stamford Raffles. Inggris menduduki pulau Jawa dan kemudian menguasai seluruh wilayah Belanda-Prancis. Raffles, diangkat menjadi Letnan Gubernur Jenderal untuk India-Belanda. Itulah awal penjajahan Inggris di Indonesia, yang juga disebut sebagai The British Interregnum.

Saat-saat akhir PD II.

image

Foto ruine dari kota Rotterdam. Pertempuran Belanda (bahasa Belanda: Slag om Nederland) adalah bagian dari invasi Jerman ke Belgia, Luxembourg, Belanda dan Perancis selama Perang Dunia II. Pertempuran ini terjadi dari tanggal 10 Mei 1940 hingga 14 Mei 1940 ketika pasukan utama Belanda menyerah. Jerman berhasil menduduki Belanda hanya jangka waktu 7 hari dalam operasi Fall Gelb (Blitz krieg).

Pada 7 Desember 1941, Angkatan Udara Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbour, Hawaii. Akibat serangan itu kekuatan angkatan laut AS di Timur Jauh lumpuh. AS pun menyatakan perang terhadap Jepang. Demikian pula Belanda sebagai salah satu sekutu AS menyatakan perang terhadap Jepang.

image

Pada 18 Desember 1941, pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer melalui radio menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang tersebut kemudian direspons oleh Jepang dengan menyatakan perang juga terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1942. Setelah armada Sekutu dapat dihancurkan dalam pertempuran di Laut Jawa maka dengan mudah pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di pantai utara Pulau Jawa.

image

Pendaratan pantai pasukan Jepang.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memusatkan pertahanannya di sekitar pegunungan Bandung. Pada waktu itu kekuatan militer Hindia Belanda di Jawa berjumlah empat Divisi atau sekitar 40.000 prajurit termasuk pasukan Inggris, AS, dan Australia. Pasukan itu di bawah komando pasukan sekutu yang markas besarnya di Lembang dan Panglimanya ialah Letjen H. Ter Poorten dari Tentara Hindia Belanda (KNIL). Selanjutnya kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipindahkan dari Batavia (Jakarta) ke Kota Bandung.

Pasukan Jepang yang mendarat di Eretan Wetan adalah Detasemen Syoji. Pada saat itu satu detasemen pimpinannya berkekuatan 5.000 prajurit yang khusus ditugasi untuk merebut Kota Bandung. Satu batalion bergerak ke arah selatan melalui Anjatan, satu batalion ke arah barat melalui Pamanukan, dan sebagian pasukan melalui Sungai Cipunagara. Batalion Wakamatsu dapat merebut lapangan terbang Kalijati tanpa perlawanan berarti dari Angkatan Udara Inggris yang menjaga lapangan terbang itu.

Pada 5 Maret 1942, seluruh detasemen tentara Jepang yang ada di Kalijati disiapkan untuk menggempur pertahanan Belanda di Ciater dan selanjutnya menyerbu Bandung. Akibat serbuan itu tentara Belanda dari Ciater mundur ke Lembang yang dijadikan benteng terakhir pertahanan Belanda.

Pada 6 Maret 1942, Panglima Angkatan Darat Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten memerintahkan Komandan Pertahanan Bandung Mayor Jenderal J. J. Pesman agar tidak mengadakan pertempuran di Bandung dan menyarankan mengadakan perundingan mengenai penyerahan pasukan yang berada di garis Utara-Selatan yang melalui Purwakarta dan Sumedang. Menurut Jenderal Ter Poorten, Bandung pada saat itu padat oleh penduduk sipil, wanita, dan anak-anak, dan apabila terjadi pertempuran maka banyak dari mereka yang akan jadi korban.

Pada 7 Maret 1942 sore hari, Lembang jatuh ke tangan tentara Jepang. Mayjen J. J. Pesman mengirim utusan ke Lembang untuk merundingkan masalah itu. Kolonel Syoji menjawab bahwa untuk perundingan itu harus dilakukan di Gedung Isola (sekarang gedung Rektorat UPI Bandung). Sementara itu, Jenderal Imamura yang telah dihubungi Kolonel Syoji segera memerintahkan kepada bawahannya agar mengadakan kontak dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer untuk mengadakan perundingan di Subang pada 8 Maret 1942 pagi. Akan tetapi, Letnan Jenderal Ter Poorten meminta Gubernur Jenderal agar usul itu ditolak.

Jenderal Imamura mengeluarkan peringatan bahwa “Bila pada 8 Maret 1942 pukul 10.00 pagi para pembesar Belanda belum juga berangkat ke Kalijati maka Bandung akan dibom sampai hancur.” Sebagai bukti bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan, di atas Kota Bandung tampak pesawat-pesawat pembom Jepang dalam jumlah besar siap untuk melaksanakan tugasnya.

image

[photo] Hein ter Poorten surrendering to the Japanese, Kalidjati, Java, Dutch East Indies,

Melihat kenyataan itu, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda beserta para pembesar tentara Belanda lainnya berangkat ke Kalijati sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah ditentukan. Pada mulanya Jenderal Ter Poorten hanya bersedia menyampaikan kapitulasi Bandung. Namun, karena Jenderal Imamura menolak usulan itu dan akan melaksanakan ultimatumnya. Akhirnya, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerahkan seluruh wilayah Hindia Belanda kepada Jepang tanpa syarat.

Pada 9 Maret 1942 pukul 08.00 keesokan harinya, dalam siaran radio Bandung, melakukan kapitulasi tanpa syarat dan terdengar perintah Jenderal Ter Poorten kepada seluruh pasukannya untuk menghentikan segala peperangan. Dengan tindakan itu, Belanda menghancurkan sendiri citra yang ratusan tahun dibanggakan oleh Belanda, bahwa bangsa Belanda/ras kulit putih tidak terkalahkan. Dan kini ras unggul ini ternyata dikalahkan oleh –di mata mereka- ras rendahan.

Dengan demikian, bukan saja de facto, melainkan juga de iure, seluruh wilayah bekas India-Belanda berada di bawah kekuasaan dan administrasi Jepang, dan tanggal 9 Maret 1942, dengan menyerahnya Pemerintah India Belanda kepada Jepang, dapat dinyatakan sebagai tanggal resmi berakhirnya penjajahan Belanda di Bumi Nusantara! Dengan menyerahkan jajahannya secara resmi kepada Jepang, maka Belanda telah kehilangan segala hak dan legitimasinya atas wilayah tersebut.

Tanggal 9 Maret 1942 pemerintah Belanda menyerahkan Hindi Belanda kepada Jepang. Hal ini dapat dinyatakan sebagai tanggal resmi berakhirnya penjajahan Belanda di Bumi Nusantara!

Itulah akhir kisah penjajahan Belanda. Setelah itu Jepang pun menduduki Indonesia hingga akhirnya merdeka 17 Agustus 1945. Jepang hanya berkuasa tiga tahun lima bulan delapan hari.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

image

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945 di hari Jumat dan di bulan suci Ramadan, 9 Ramadhan 1364 H.

Dalam kalender Islam, 17 Agustus 1945 sama dengan 9 Ramadhan 1364 H. Pemilihan tanggal itu sebagai hari proklamasi kemerdekaan dinilai sebagai waktu yang tepat oleh kalangan Islam. Sebab, jatuh pada hari baik yakni Jumat dan bulan suci Ramadan.

Keistimewaan hari Jumat dan bulan Ramadan bahkan pernah dijabarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT dalam Alquran.

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS Al-Baqarah: 185).

Sementara “Hari Jumat adalah penghulu segala hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari Jumat ini lebih mulia dari hari raya Idul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari Jumat terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari Jumat juga Adam dimatikan, di hari Jumat terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari Jumat pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari Jumat,” sabda Rasulullah seperti diriwayatkan Ahmad.

Bukan suatu kebetulan Indonesia lahir dibulan suci yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan serta dihari yang istimewa, berikut chronologi peristiwa sekitar proklamasi kemerdekaan R.I.

Pada 11 Agustus, ketiga pemimpin Indonesia diterima Marsekal Terauchi (Commander of Southern Expeditionary Forces Imperial Japanese Army) di Villa-nya di Dalat, Vietnam. Atas nama pemerintah Jepang, selain mensahkan Sukarno dan Hatta sebagai Ketua dan Wakil Ketua PPKI, Marsekal Terauchi menyampaikan keputusan pemerintah Jepang untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, dan wilayah kedaulatan Indonesia: Seluruh wilayah bekas India Belanda. Terauchi bahkan menyetujui sidang pertama PPKI dilaksanakan tanggal 18 Agustus 1945.

Tanggal 11 Agustus 1945 pemerintah Jepang memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia, dengan wilayah kedaulatan Indonesia diseluruh wilayah bekas India Belanda.

Pada 15 Agustus 1945 Kaisar Jepang Hirohito menyatakan Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, dan menghentikan secara sepihak semua tindakan militer. Namun penandatanganan dokumen menyerah tanpa syarat (unconditional surrender) kepada sekutu baru ditandatangani oleh Jepang pada 2 September 1945 di atas kapal perang AS  Missouri, di Teluk Tokyo.

Ini berarti. Antara 15.8.1945 – 2.9.1945 terdapat kekosongan kekuasaan (vacuum of power) di seluruh wilayah yang diduduki oleh Jepang antara tahun 1942 – 1945, termasuk bekas jajahan Belanda, Nederlands Indië (India Belanda).

Pada 17 Agustus 1945, di masa vacuum of power tersebut, para pemimpin bangsa Indonesia meproklamasikan kemerdekaannya kedunia.

Pada 18 Agustus mengangkat Sukarno sebagai Presiden dan M. Hatta sebagai Wakil Presiden. Pada 5 September 1945, dibentuk Kabinet RI pertama.

image

Naskah Proklamasi KladSunting. Teks naskah Proklamasi Klad adalah asli merupakan tulisan tangan sendiri oleh Ir. Soekarno sebagai pencatat, dan adalah merupakan hasil gubahan (karangan) oleh Drs. Mohammad Hatta dan Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo.
Adapun yang merumuskan proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia terdiri dari Tadashi Maeda, Tomegoro Yoshizumi, S. Nishijima, S. Miyoshi, Mohammad Hatta, Soekarno, dan Achmad Soebardjo. Setelah dirumuskan dan dibacakan di rumah orang Jepang, isi proklamasi pun disiarkan di radio Jepang.

Maka terbentuklah negara Indonesia yang sesuai dengan hukum international Konvensi Montevideo yang ditandatangani oleh 19 negara-negara seluruh benua Amerika pada 26 Desember 1933. Dengan wilayah Republik Indonesia adalah wilayah bekas Nederlands Indië (India Belanda) termasuk Irian Barat, berdasarkan hukum international uti possidetis juris.

Dibulan Agustus 2005 Mrenlu Belanda Ben Bot menyatakan, bahwa pemerintah Belanda menerima de facto proklamasi kemerdekaan RI 17.8.1945. PM. Belanda turut menyesal dan berniat mengembalikan aset aset milik Indonesia.

INDONESIA TIDAK PERNAH DIJAJAH SIAPAPUN, karena sebagai entitas politik dan hukum internasional baru ada sejak 17 Augustus 1945. Periode antara tahun 1945 – 1949/1950 bukan merupakan perang kemerdekaan, melainkan perang MEMPERTAHANKAN kemerdekaan dari agresi dari luar maupun dari dalam.

Analisis

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya Indonesia dijajah Belanda. Kalau dihitung dari 1596 sampai 1942, jumlahnya 346 tahun. Namun, tahun 1596 itu Belanda baru datang sebagai pedagang. Itu pun gagal mendapat izin dagang. Pada masa itu pedagang eropa masih didominasi oleh imperium Portugis dan Belanda belum sepenuhnya merdeka dari Spanyol selain dari itu kerajaan Islam masih menguasai Nusantara.

Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari kerajaan Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa (yang menjadi bagian Indonesia kemudian).

image

Cakupan terluas Kesultanan Mataram dalam masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645)

Selama seratus tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC (dengan dipotong masa penjajahan Inggris selama 5 tahun), Belanda harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Neerlandica. Namun, demikian hingga akhir abad ke-19, beberapa kerajaan di Bali, dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda. Jangan pula dilupakan hingga sekarang Aceh menolak disamakan dengan Jawa karena hingga 1912 kesultanan Aceh adalah kerajaan yang masih berdaulat. Orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun saja.

Kekuasaan Belanda hanya berlangsung selama sekitar 30 atau 40 tahun saja, yaitu sampai 9 Maret 1942, ketika belanda secara resmi menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu lebih dari 300 tahun untuk dapat membangun imperium jajahannya yang dinamakan Nederlands Indie. ***

HENTIKAN PEMBODOHAN SEJARAH NASIONAL

Indonesia menjadi Pelopor Kemerdekaan Bangsa-Bangsa Terjajah setelah usai Perang Dunia II, kemudian diikuti oleh Vietnam yang menyatakan kemerdekaannya pada 2 September 1945.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber:
Penulis, Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat/Ketua Pusat Kebudayaan Sunda Fakultas Sastra Unpad.

Referensi.

● Sejarah kolonial Belanda di Indonesia.

● Sejarah peradaban Melayu Archipelago (setiap tahun).

● Sejarah kerajaan Belanda.

● Wikipedia: Sejarah Belanda.

● Sejarah peradaban Eropa.

● Patut dibaca: VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie)..

● RI merdeka dan berdaulat pada tahun 17. 8. 1945. INDONESIA TIDAK PERNAH DIJAJAH.

Sejarah Indonesia/the Gimonca Bookstore.

Die Geschichte der Inseln des heutigen Indonesien. Übersetzung von Michael Palomino. Literatur: Eduard Douwes Dekker / “Multatuli“: Buch: Max Havelaar (1856)

● Peran khilafah Islam dapat kemerdekaan Indonesia.

Tiga Negara di Republik Indonesia.

Penjajahan Indonesia diera modern.

Iklan