Tag

, , , , , ,

image

Pemandangan langit malam dilangit yang cerah tak berawan tanpa efek pembiasan cahaya.

Sumpah Allah dalam QS. Asy-Syams. Ayat 1-4:
وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَا
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلٰىهَا
وَالنَّهَارِ إِذَا جَلّٰىهَا
وَالَّيْلِ إِذَا يَغْشٰىهَا

Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya (gelap gulita),

Selain bersumpah dengan zat-Nya, di dalam Al-Qur’an, Allah SWT pun bersumpah dengan menggunakan sebagian dari makhluk-Nya sebagai obyek-obyek sumpah, seperti waktu, tempat, dan benda-benda tertentu. Segala sesuatu yang Allah SWT bersumpah dengannya merupakan tanda-tanda dan bukti ketauhidan-Nya dan juga bukti kekuasaan-Nya.

وَلَا الظُّلُمٰتُ وَلَا النُّورُ
dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya,
[QS. Fatir: Ayat 20]

هُوَ الَّذِى جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ ۥ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْءَايٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
[QS. Yunus: Ayat 5]

Selanjutnya di Q.S. Ya Sin. Ayat 37-40, Allah menerangkan tanda tanda kekuasaan-Nya, yaitu malam.

وَءَايَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُّظْلِمُونَ
وَالشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
لَا الشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari (malam) itu, maka seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan,
dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.
Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.
Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.

image

Allah menciptakan apa yang Dia ciptakan sebelum menciptakan masa dan waktu. Waktu dan masa tidak lain hanyalah jam-jam malam dan siang dengan kata lain sesuai peredaran matahari dan rembulan pada garis orbitnya.

● Bayangan sinar matahari.

أَلَمْ تَرَ إِلٰى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَآءَ لَجَعَلَهُ ۥ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا
Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia jadikannya (bayang-bayang itu) tetap, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk,

ثُمَّ قَبَضْنٰهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا
kemudian Kami menariknya (bayang-bayang itu) kepada Kami sedikit demi sedikit.

وَهُوَ الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا
Dan Dialah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha.
[QS. Al-Furqan: Ayat 45-47]

Sebenarnya cukup jelas mengapa gelap di malam hari. matahari menerangi hanya satu sisi dunia. Dan karena Bumi berputar, oleh karena itu, ada perubahan dari hari ke malam.

image

Kita melihat langit terang benderang dan berwarna karena atmosfer kita berinteraksi dengan sinar matahari seperti pada siang hari. Fenomena ini disebut hamburan atau scattering.”

Dalam surat QS. Ya Sin. 37 diatas dikatakan
…Kami tanggalkan siang dari (malam) itu, maka seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan,

Jadi dengan di”tanggalkan” nya siang, efek pembiasan cahaya matahari di atmosphere pada siang hari hilang dan langit dimalam hari menjadi gelap.

Tapi mengapa langit hitam di malam hari atau bila dilihat dari luar angkasa? Ada banyak jawaban atas pertanyaan ini selain fakta bahwa dilihat dari Bumi bintang tidak muncul seterang matahari.

image

Tanpa atmosphere langit tampak hitam, yang dibuktikan dengan langit bulan di gambar pemandangan bumi diatas yang diambil dari bulan.

● Olbers ‘paradoks.

Sebenarnya ini masalah kosmologis lama, secara resmi dikenal sebagai olbers ‘paradoks. (Heinrich olbers adalah astronom Jerman yang mempopulerkan diskusi tentang subjek ini di 1826.). Juga disebut sebagai “dark night sky paradox”. Teori ini adalah salah satu potongan bukti untuk alam semesta yang dinamis, seperti model Big Bang misalnya. Sebuah pembenaran ayat Al Quran yang diturunkan 1400 tahun silam.

وَالسَّمَآءَ بَنَيْنٰهَا بِأَيْيدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya.
[QS. Az-Dzariyat: Ayat 47]

Jika alam semesta yang statis, homogen pada skala besar, dan dihuni oleh jumlah tak terbatas bintang, setiap garis pandang dari Bumi seharusnya berakhir di permukaan yang sangat terang dari bintang, sehingga langit malam seharusnya benar-benar cerah. Ini bertentangan dengan realitas kegelapan malam yang kita lihat.

Untuk mempermudah pemahaman, kita bayangkan bintang dengan kecerahan yang sama terdistribusi secara merata dilapisan terkonsentrasi sekitar bumi, seperti lapisan bawang umpamanya.

image

Ilustrasi lapisan bintang

Dengan kondisi ini seharusnya cahaya akan mencapai bumi dengan jumlah yang sama dari setiap lapisan, karena walaupun jumlah cahaya yang mencapai bumi dari setiap bintang menurun sesuai jarak (1/d^2, d= R, 2R,…), tapi jumlah bintang di setiap lapisan yang meningkat lebih banyak, secara efektif akan menyeimbangkan penurunan cahaya dari efek jarak dan langit menjadi seterang seperti dipermukaan bintang. Jadi berkurangnya intensitas cahaya efek jarak bukan penyebab utama kegelapan malam.

image

olbers 'paradoks. Efek penyeimbangan intensitas cahaya terhadap jarak.

Analisa persamaan sederhana (Euclidean statis) yang setara untuk pengamat dalam ruang tak terbatas dengan keseragaman densitas luminositas Lv. Kecerahan cahaya yang terlihat di pusat lingkaran tidak tergantung dari jarak ke lingkaran, dan karenanya kecerahan menjadi total tak terbatas, karena adanya lingkaran dengan jumlah tak terbatas di sekitar kita.

image

Analisa mathematis sederhana dengan statistik Euclodian.

● Cahaya dalam ruang dan waktu.

Dilain pihak kita tidak menyadari, bahwa kita tidak dapat melihat semua bintang di alam semesta. Jika dapat kita lakukan, langit diwaktu malam akan menjadi jauh lebih cerah. Sebaliknya, kita melihat segala sesuatu dalam radius tertentu, cakrawala atau horizon partikel. Setiap partikel cahaya yang dipancarkan luar yang horizon partikel ini terlalu jauh untuk mencapai kita.

Alam semesta, khususnya ruang-waktu, terus berkembang, setiap titik di alam semesta bergerak menjauh. Hal ini tidak hanya mengubah jarak antara objek, tetapi juga seberapa cepat cahaya bergerak di alam semesta. Pergerakan ruang-waktu memiliki efek pada foton yang dapat mencapai kita serta dapat diamati.

Ketika kita melihat keluar ke angkasa, itu hanya seperti melihat ke masa lalu. Cahaya seperti kita ketahui bergerak dengan kecepatan tinggi tapi terbatas, dibutuhkan waktu bagi (photon) cahaya untuk menjelajahi jarak yang jauh. Jadi, ketika kita melihat cahaya objek yang sangat jauh di alam semesta, kita benar-benar melihat cahaya yang dipancarkan dari mereka secara harfiah sebagai “mereka di masa silam”. Tidak mungkin semua cahaya sampai kepada kita. Dan cahaya yang seharusnya kita bisa lihat, mungkin kita tidak bisa lagi melihatnya.

● perubahan panjang gelombang cahaya.

Selanjutnya karena alam semesta berkembang, cahaya dari sumber cahaya yang jauh, yang karena ekspansi bergerak sangat cepat menjauhi kita, disebabkan oleh efek Doppler gelombang cahaya bergeser ke panjang gelombang yang lebih tinggi, yang tidak bisa lagi terlihat oleh mata kita. “Cahaya dari Big Bang” telah naik ke kisaran microwave. Apabila kita bisa melihat radiasi microwave (CMB) ini secara langsung dengan mata kita, langit akan benar-benar cerah secara merata. Tapi karena kita dapat langsung melihat hanya pada kisaran panjang gelombang yang sempit, jenis radiasi ini tetap tersembunyi dari kita.

image

Latar Belakang Cosmic Microwave (atau "CMB") adalah radiasi dari sekitar 400.000 tahun setelah dimulainya alam semesta. Rekaman satelit tersebut meliputi gambar sekeliling bumi kita. Apabila mata kita mampu melihat di frequensi Microwave, suasana sekeliling bumi akan menjadi terang benderang seperti itu.

● Kegelapan tanpa cahaya.

وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَآءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ مَّا لَهُمْ مِّنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ ۖ كَأَنَّمَآ أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِّنَ الَّيْلِ مُظْلِمًا ۚ أُولٰٓئِكَ أَصْحٰبُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خٰلِدُونَ
Adapun orang-orang yang berbuat kejahatan (akan mendapat) balasan kejahatan yang setimpal dan mereka diselubungi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan wajah mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
[QS. Yunus: Ayat 27]

image

Kepingan malam. Hitam bukan sebuah warna; benda hitam menyerap (absorpsi) semua warna dari spektrum yang terlihat dan tidak ada refleksi pancaran cahaya kesekitar sama sekali. Jadi hitam adalah kondisi tidak adanya cahaya dan warna yang mencapai retina mata (dan karena itu tidak ada foton warna). Penjelasannya, Ketika tidak ada cahaya, semuanya hitam. Pembuktiannya seperti di sebuah labor kamar gelap fotografi. Tidak ada foton cahaya. Dengan kata lain, tidak ada foton warna.

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ
dan pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram),

تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ
tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan).
[QS. ‘Abasa: Ayat 40-41]

Al Jalain menafsirkan::
(Dan banyak pula muka pada hari itu tertutup debu) artinya, penuh dengan debu.
(Dan ditutup pula) diselimuti pula (oleh kegelapan) dan kepekatan yang menghitam.

Dilihat dari segi astrofisika menggambarkan seluruh spektrum cahaya visibel telah terserap oleh debu nebula di alam semesta dan tidak mencapai retina kita.

image

gambar menampakan aliran gelap asap menumpuk yang keluar dari [B77] 63 dan bintang: sebuah nebula gelap yang disebut Dobashi 4173 di konstelasi perseus. nebula gelap adalah awan sangat padat berbahan gelap gulita yang mengaburkan potongan (patch) langit di belakang mereka,

● Energi sumber cahaya bintang.

فَإِذَا النُّجُومُ طُمِسَتْ
(Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan) dihilangkan cahayanya.
[QS. Al-Mursalat: Ayat 8]

Faktor lain pihak kenapa malam gelap, karena alam semesta memiliki awal, karena alam semesta berkembang atau berekspansi dan karena bintang-bintang hidup juga tidak kekal tapi datang dan pergi seperti segala sesuatu yang lain. Kosmos kita mempunyai usia terbatas dan dalam jangka panjang tidak mempunyai materi yang cukup untuk menerangi jagad raya. Ini adalah alasan yang cukup mendasar.

قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصٰرَكُمْ وَخَتَمَ عَلٰى قُلُوبِكُمْ مَّنْ إِلٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْءَايٰتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ
Katakanlah (Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang (kepada mereka) tanda-tanda kekuasaan (Kami), tetapi mereka tetap berpaling.
[QS. Al-An’am: Ayat 46]

● Mana Yang Allah Ciptakan Dulu: Siang Atau Malam?

Ulama berbeda pendapat mengenai hal di atas dan sebagian dari mereka berkata: “Allah menciptakan malam dahulu sebelum siang”. Dia mendasari pendapatnya dengan alasan, bahwa jika matahari tenggelam dan cahayanya yaitu siang sirna, maka datanglah malam dengan gelapnya. Dengan demikian jelaslah, bahwa cahaya adalah yang mendatangi malam dan malam tidak sirna jika tidak didatangi oleh siang. Dari penjelasan tersebut jelaslah, bahwa malam adalah yang pertama kali diciptakan dan matahari diciptakan kedua.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
Ikrimah bertutur, bahwa Ibnu Abbas ditanya: “Apakah malam ada sebelum siang?” Ibnu Abbas menjawab: “Tahukah kalian ketika langit dan bumi masih menyatu, maka yang ada di antara keduanya hanyalah kegelapan? Hal itu agar kalian bahwa malam ada sebelum siang”.
Ikrimah juga bertutur, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Malam ada sebelum siang hari”. Lalu Ibnu Abbas membaca ayat:
“Langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”. (QS Al Anbiya’ : 30)

Martsad bin Abdullah Al Yazani bertutur: “Uqbah bin Amir ra ketika hilal (Ramadhan) terlihat, dia tidak melakukan shalat tarawih pada malam itu, kecuali jika siang harinya dia puasa. Lalu dia melakukan tarawih pada malamnya. Hal itu kami tuturkan kepada Ibnu Hujairah, lalu dia berkata: “Malam sebelum siang atau siang sebelum malam?”

Ulama lain berpendapat: “Siang ada sebelum malam”. Kesahihan pendapat itu mereka dasar dengan hal, bahwa Allah ada ketika malam, siang dan benda lainnya tidak ada dan bahwa cahaya-Nya menerangi segala sesuatu yang telah Dia ciptakan, sampai Dia menciptakan malam”. Ulama yang berpendapat demikian:
Ayyub bin Abdullah Fihri bertutur, bahwa Ibnu Mas’ud ra berkata: “Saat itu, di sisi Allah tidak ada malam maupun siang dan cahaya langit adalah dari cahaya Zat-Nya. Tiap hari dari hari kalian di sisi-Nya sama dengan dua belas jam”.

Menurut kami, pendapat yang paling benar adalah pendapat yang mengatakan, bahwa malam ada sebelum siang, sebab siang adalah cahaya matahari sebagaimana telah kami sebutkan. Allah hanya menciptakan matahari dan mengedarkannya di cakrawala setelah Dia membentangkan bumi, sebagaimana firman-Nya:

Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. (QS An Nazi’at : 27-29)

Jika matahari diciptakan setelah langit ditinggikan dan malamnya gelap, maka jelas bahwa sebelum matahari diciptakan dan sebelum Allah mengeluarkan menjadikan siang terang, langit adalah gelap gulita.

Di samping itu, dari kenyataan malam dan siang yang kita saksikan, kita bisa menyimpulkan, bahwa sianglah yang menghampiri malam, sebab jika matahari tenggelam dan sinarnya sirna baik pada siang maupun malam hari, maka dunia menjadi gelap. Maka jelaslah, bahwa sianglah yang menghampiri malam dengan sinar dan terangnya. Wallahu a’lam.

__________________________

Sumber:
▪ WMAP Universe. NASA.
NASA.
▪ Wikipedia.
▪ Abi Muhamm, Pengasuh Pon-Pes Al Qoumaniyah (Pondok Bareng), Jekulo, Kudus. Pesantren Pedia.