Tag

, ,

وَكَذٰلِكَ أَنْزَلْنٰهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا

Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa, atau agar (Al-Qur’an) itu memberi pengajaran bagi mereka.

[QS. Ta Ha: Ayat 113]

Selanjutnya

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتٰبًا مُّتَشٰبِهًا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلٰى ذِكْرِ اللَّهِ  ۚ  ذٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَنْ يَشَآءُ  ۚ  وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ ۥ  مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk.

[QS. Az-Zumar: Ayat 23]

Dalam Al-Qur’an banyak sekali kata-kata, ayat-ayat, dan cerita-cerita yang terulang. Bukankah lebih baiknya Al-Qur’an dipersembahkan kepada umat manusia setelah “diedit” terlebih dahulu sehingga tidak ada pengulangan-pengulangan?

Pembahasan ini berkaitan dengan ilmu Ulumul Qur’an, yang sering menjadi pusat perhatian para pengkaji ilmu tersebut. Kita sendiri pun sering membaca beberapa ayat yang sering diulang dalam suatu surah tertentu.

Banyak sekali kajian yang telah dilakukan berkenaan dengan masalah di atas, dan kami akan menjelaskannya secara singkat dalam artikel ini, khususnya tentang sebab dan macam pengulangan dalam Al-Qur’an.

Macam-Macam Pengulangan

Para ulama mengkategorikan pengulangan dalam Al-Qur’an dalam dua jenis:

Pengulangan Lisan: Yakni diulangnya suatu kata, atau beberapa kata lebih dari sekali.

Pengulangan Makna: Yakni diulangnya suatu kandungan atau maksud suatu ayat atau cerita dalam Al-Qur’an lebih dari sekali. Misalnya kisah nabi Ibrahim as dan nabi Musa as yang sering diulang dalam Al-Qur’an.

Para ulama membagi Pengulangan Lisan menjadi dua jenis lagi:

A. Pengulangan satu kalimat sempurna di antara surah-surah yang berbeda; misalnya kalimat yang berbunyi: “… dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri …” (QS. Al-Baqarah [2]:57), ayat tersebut juga diulang dalam surah Al-A’raf ayat 160. Contoh lainnya adalah kalimat “… orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka (sendiri) …” (QS. Ruum [30]:9), yang diulang di surah Fathir ayat 44 dan surah Ghafir ayat 21.

B. Pengulangan suatu kalimat tak jauh setelah disebutkannya kalimat tersebut; misalnya dalam ayat: “Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.” (QS. Al-Waaqi’ah [56]:27), juga dalam ayat: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyiraah[94]:5&6), dan begitu pula dalam surah Al-Haaqqah ayat 17 dan 18, serta surah At-Takaatsur ayat 3 dan 4.

C. Pengulangan satu ayat sempurna setelah berseling beberapa ayat setelahnya. Misalnya ayat yang berbunyi: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahmaan [55]:13) yang terulang sebanyak 31 kali dalam surah Ar-Rahman. Begitu pula ayat yang berbunyi: “Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Mursalaat [77]:15) yang terulang sebanyak 10 kali dalam surah Al-Mursalaat.

Dari sisi lain, pengulangan dalam perkataan yang fasih terjadi dalam keadaan-keadaan: untuk pujian, seperti dalam ayat: “Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Infithaar [82]:17&18); untuk ancaman, seperti dalam ayat: “Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithaar [82]:17&18); dan juga ayat: “Hari kiamat, apakah hari kiamat itu?” (QS. Al-Haaqqah [69]:1&2); dan yang ketiga dalam istib’aad (menyatakan sesuatu yang tidak diinginkan/dijauhkan) seperti dalam ayat: “jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu” (QS. Al-Mu’minuun [23]:36).

Falsafah dan Hikmah Pengulangan dalam Al-Qur’an

Dalam hal ini para ahli tafsir memiliki dua pendapat:

Pendapat pertama: Sebagian mufassir berpendapat bahwa tidak ada “pengulangan” dalam Al-Qur’an. Ya, lafadznya memang terulang, namun tidak ada makna dan kandungan yang terulang dalam Al-Qur’an. Karena setiap ayat yang kita anggap “pengulangan”, jika kita baca benar-benar sesuai dengan memperhatikan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, akan memberikan makna baru yang berbeda dengan ayat sebelumnya. Misalnya ayat yang berbunyi: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahmaan [55]:13), sekali ayat itu berkenaan dengan langit dan buma, dan sekali berkenaan dengan manusia, dan sekali lagi berkenaan dengan yang lain, dan seterusnya… Yang artinya setiap ayat sesuai dengan kaitannya dengan ayat yang lain memiliki makna dan maksud yang berbeda.

Kisah nabi Adam as, nabi Musa as, dan nabi-nabi lainnya as juga sering diulang dalam Al-Qur’an. Namun dalam setiap pengulangan, ada sisi tertentu yang ditekankan di dalamnya dan ada kandungan baru yang dijelaskan kepada pembacanya. Dengan demikian, meskipun terkadang Al-Qur’an terkesan memiliki pengulangan-pengulangan, namun sebenarnya makna dan kandungannya tidak terulang sia-sia.

Pendapat kedua: Sebagian yang lain berkeyakinan bahwa: karena Al-Qur’an adalah kitab suci yang mendidik, maka terkadang perlu ada pengulangan-pengulangan demi efektifitasnya. Sama seperti seorang guru yang ketika mengajarkan sesuatu kepada muridnya, terkadang ia mengulang-ulang apa yang ia ajarkan hingga difahami dan dipelajari dengan baik oleh muridnya; dengan demikian sang murid akan terbiasa dan hafal dengan apa yang diajarkan gurunya. Jadi pengulangan tidak ada masalah. Hanya saja, pengulangan itu tidak boleh sampai menyebabkan kejenuhan; namun harus sesuai dengan kadar tertentu dan secukupnya saja. Al-Qur’an pun menggunakan metode pendidikan ini. Jadi, hikmah pengulangan dalam Al-Qur’an dapat diurai demikian:

Pertama: Pengulangan tidak bertentangan dengan kefasihan. Karena dalam ilmu Ma’aani, Bayaan dan Badii’, sama sekali tidak dijelaskan bahwa ucapan yang fasih adalah ucapan yang tidak memiliki pengulangan; bahkan pengulangan di saat-saat tertentu dan sesuai dengan keadaan juga diperlukan.

Kedua: Pengulangan dalam Al-Qur’an bertujuan untuk mendidik; dan tidak setiap pengulangan itu jelek. Ayatullah Jawadi Amuli dalam buku Qur’an dalam Qur’an berkata: “Tuhan maha bijaksana, dan Ia menurunkan Al-Qur’an dengan bijaksana pula.[1] Oleh karena itu tidak ada ucapan tak berguna dalam Al-Qur’an. Semua kata dalam Al-Qur’an berguna, dan tujuan terpentingnya adalah membuat umat manusia “lebih berakal”.”[2] Tujuan utama Al-Qur’an adalah memberi hidayah kepada umat manusia. Untuk mencapai tujuan itu, Al-Qur’an menggunakan metode-metode yang bermacam-macam, yang salah satunya adalah pengulangan.[3]

Ia juga pernah berkata demikian:

“Pengulangan dalam Al-Qur’an dikarenakan Al-Qur’an adalah kitab cahaya dan hidayah, dan dalam memberi hidayah terkadang suatu permasalah perlu disampaikan secara berulang. Berbeda dengan buku ilmiah yang mana penjelasan suatu permasalahan hanya perlu sekali saja dan tidak perlu diulang. Rahasia pengulangan dalam Al-Qur’an adalah agar manusia terus menerus menyadari bahwa setan dan nafsu juga terus menerus mendorong mereka kepada keburukan. Oleh karena itu pengulangan bermanfaat dalam menghidayahi manusia.”[4]

Penulis buku Ravan Javid berkata mengenai pengulangan dalam Al-Qur’an: “Hikmah pengulangan dalam ayat-ayat Al-Qur’an adalah: nafsu manusia enggan mendengar nasehat Ilahi, jika tidak diulang, maka tidak bisa tertanam di hati.”[5]

Ustad Muhsin Qira’ati dalam Tafsir Nur-nya berkata:

1. Pengulangan dalam Al-Qur’an harus bervariasi dan menarik; karena pengulangan yang monoton dapat melelahkan.

2. Manusia selalu membutuhkan peringatan, dan betapa saat “diulang” sekelompok lain mejadi tertarik.

3. Pengulangan dalam Al-Qur’an untuk mengingatkan manusia. Ia berfirman: “Agar mereka ingat…”

4. Pengulangan bagi “teman setia” sangat menyenangkan, namun bagi “orang keras kepala” sangat membosankan: “Dan tidak menambahkan kepada mereka kecuali kebencian.”[6]

Ketiga: Dalam setiap pengulangan di dalam Al-Qur’an ada sisi baru yang lebih ditekankan yang mana sebelumnya belum pernah ditekankan sedemikian. Contohnya seperti kisah tamu-tamu nabi Ibrahim as; yang disebutkan dalam surah Huud ayat 69 dan juga dalam surah ‘Ankabut ayat 31. Dalam surah Hud, Allah swt menekankan perihal tata krama dan kesopanan nabi Ibrahim as dalam menjamu tamunya. Adapun dalam surah ‘Ankambut, Ia tidak menekankan masalah adab beliau dalam menerima tamu, namun menjelaskan bahwa tamu-tamu yang datang ke rumahnya saat itu adalah para malaikat Allah swt.

Ayatullah Hadi Ma’rifat berkata: “Pengulangan lebih dari satu dalam Al-Qur’an dikarenakan tujuan yang lebih dari satu pula. Setiap kisah yang disebutkan dalam sebuah surah memiliki satu maksud dan tujuan dan di surah lain memiliki tujuan lainnya.”[7]

Menurut Almarhum Mughiah, pengulangan dalam sebagian ayat-ayat Al-Qur’an sama seperti saat kita memberi bantuan yang banyak kepada seseorang lalu kita berkata padanya: “Aku telah menyelamatkanmu dari musuh, dan aku juga memberimu harta yang melimpah. Lalu manakah yang kamu ingkari? Aku mendidik anakmu, membangun rumah untukmu. Lalu manakah yang kamu ingkari? Dan…” Yang mana pengulangan itu bukanlah penekanan terhadap satu hal, namun penekanan terhadap beberapa hal yang bermacam-macam.[8]

Dampak pengulangan sedemikian rupa adalah efektifitasnya yang tak bisa diingkari. Mungkin hal itu pula yang menjadi rahasia kita diharuskan untuk megulang-ulang dalam beribadah dan berdoa.

Sebab pengulangan ayat-ayat Al-Qur’an juga pernah dijelaskan oleh para imam. Misalnya Imam Shadiq as menjelaskan bahwa sering diulangnya ayat “riba” adalah mempersiapkan orang-orang kaya untuk melakukan kedermawanan, dan beliau berkata: “Karena dari satu sisi riba adalah haram, dan juga di sisi lain menimbun harta juga haram, maka tidak ada pilihan lain bagi orang-orang kaya selain berinfak atau melakukan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat.”[9]

Keempat: Diulangnya sebagaian kisah dalam Al-Qur’an membuktikan bahwa kisah itu penting dan perlu diperhatikan dengan baik.

Kelima: Sebagian pengulangan dalam Al-Qur’an berguna sebagai penekanan. Sebagaimana seorang ayah berbicara kepada anaknya yang bersalah: “Apakah kamu lupa saat kamu kecil aku bersusah-payah membesarkanmu? Apakah kamu lupa aku telah memilih istri yang baik utnukmu? Apakah kamu lupa aku telah membelikan rumah untukmu?” Para ahli tafsir berpendapat demikian tentang pengulangan-pengulangan seperti dalam surah Ar-Rahmaan dan Al-Mursalaat.

Dalam tafsir Nemune dijelaskan: “Diulangnya sebuah ayat bisa jadi karena penekanan dan mubalaghah.

Adapun mengapa satu ayat diulang dalam satu surah namun tidak diulang dalam surah lainnya, ada dua penjelasan untuk itu: terkadang kandungan sebuah surah terkadang menuntut suatu penekanan khusus namun surah lainnya tidak. Sebagai contoh, dalam konteks istifham taqriri (seperti bertanya-pent.) diperlukan penekanan lebih dari pada dalam konteks ikhbar. Oleh karena itu dalam surah Ar-Rahmaan banyak ditemukan pengulangan ayat. Kemungkinan yang lain berkenaan dengan sebab diturunkannya ayat atau surah serta situasi, masa dan kondisi terkait. Dengan demikian tidak heran jika kita menemukan pengulangan-pengulangan dalam Al-Qur’an.[10]

Dalam Tafsir Asan juga disebutkan: “Maksud pengulangan dalam Al-Qur’an adalah mubalaghah dan penekanan.”[11]

Taftazani berkata: “Pengulangan adalah salah satu tekhnik kefasihan dalam bahasa Arab, yang mana seringnya tujuannya adalah penekanan.”[12]

Almarhum Mughniah berkata: “Para ahli tafsir bersepakat bahwa tujuan pengulangan adalah penekanan.”

Seorang cendikiawan barat dalam buku Aaraa’ va Mo’taqadaat berkata: “Setiap orang yang mengulang suatu perkataan berkali-kali ia dapat merubahnya menjadi keyakinan. Untuk mewujudkan keyakinan, Al-Qur’an menggunakan metode tersebut dalam penyampaiannya.”[13]

Farra’, adalah salah seorang pakar sastra Arab, mengenai masalah ini berkata: “Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab dan gaya percakapan mereka demi memahamkan para pembacanya. Misalnya mereka sering berkata “ya, ya!” saat mengiyakan dan juga berkata “tidak, tidak!” saat menolak sesuatu.”[14] Karena Al-Qur’a adalah kitab hidayah, terkadang demi mencapai tujuannya menggunakan metode-metode tertentu seperti pengulangan.[15]

Keenam: “Pengulangan berguna saat terbentang pemisah antara maudhu’ dengan mahmul atau mubtada’ dengan khabar-nya, yang mana pengulangan tersebut dapat mengingatkan kembali maksud yang diinginkan.”

Kesimpulan

Pengulangan dalam Al-Qur’an tidak bertentangan dengan kefasihan, justru terkadang memang diperlukan. Selain itu, pengulangan dalam Al-Qur’an memiliki sisi pendidikan; karena nafsu manusia cenderung enggan mendengarkan nasehat, selama suatu nasehat tidak diberikan berulang-ulang kali, nasehat itu tidak akan tertanam di jiwa pendengarnya. Diulangnya kisah-kisah tertentu dalam Al-Qur’an juga dikarenakan tujuan tertentu, atau karena kisah itu sangat penting sehingga Tuhan begitu menekankannya. Terkadang pengulangan juga berguna sebagai penekanan. Jadi, pengulangan dalam Al-Qur’an sangatlah penting.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Tafsir Asan, Muhammad Jawad Najafi Khumaini, jil. 1.

2. Tafsir Ravan Javid, Muhammad Taqi Tsaqafi, Tehran, jil. 4.

3. Tafsir Mowdhu’i e Qor’an e Karim, hal. 203.

4. Tafsir Nemune, Ayatullah Nashir Makarim Syirazi dan penulis lainnya, jil. 25, hal. 431.

5. Tafsir Nur, Hujjatul Islam Muhsin Qira’ati, jil. 7, hal. 66.

Hadits Akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Bacalah Al-Qur’an dan seringlah mengingat Tuhan.”[16]

[1] Surah Yaasiin, ayat 1.

[2] Abdullah Jawadi Amuli, Qor’an dar Qor’an, hal. 230.

[3] Abdullah Jawadi Amuli, Tafsir e Tasnim, jil 1, hal. 44-52.

[4] Ibid, hal. 51.

[5] Muhammad Tsaqafi Tehrani, Tafsir Ravan Javid, jil. 4, hal. 492.

[6] Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur, jil. 7, hal. 66.

[7] Sayid Muhammad Baqir Hakim, Ulumul Qur’an, hal. 367.

[8] Muhammad Jawad Mughniyah, At Tafsir Al Kasyif, jil. 7, hal. 207.

[9] Wasailus Syi’ah, jil. 12, hal. 423.

[10] Ayatullah Makarim Syirazi dan penulis lainnya, Tafsir Nemune, jil. 25, hal. 431.

[11] Muhammad Jawad Najafi Khumaini, Tafsir Asan, jil. 1, hal. 304.

[12] Sa’duddin Taftazani, Syark Al-Mukhtashar, jil. 1, hal. 282.

[13] Muhammad Jawad Mughniyah, At-Tafsir Al-Kasyif, jil. 1, hal. 96-97.

[14] Muhammad Hadi Ma’rifat, At-Tamhid, jil. 5, hal. 106.

[15] Muhammad Jawad Mughniyah, At-Tafsir Al-Kasyif, jil. 2, hal. 440.

[16] Muntakhab Mizanul Hikmah, hal. 215, hadits 2325.