Tag

, , , , , , , , , , , ,

image

Illustrasi: Allah jadikan awan sebagai saringan untuk hujan. Apabila tidak dijadikan seperti itu, tentu bumi akan tenggelam terendam air. Hadis Rasulullah SAW, diriwayatkan dari Ibnu Abi ‘Ashim.

Air, Mahluk Pertama yang diciptakan Allah Ta’ala dialam semesta.

Seperti diterangkan didalam Al Quran

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah arsy-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya“ (Qs. Hud : 7)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa keberadaan air jauh lebih dulu dari pada keberadaan langit dan bumi. Jadi air lebih tua umurnya dibanding langit dan bumi.

Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw :

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Dialah Allah yang- pada waktu itu – tidak ada sesuatupun selain Dia, sedangkan ‘arsy-Nya di atas air, lalu Dia menulis di dalam adz-Dzikir segala sesuatu (yang akan terjadi,) lalu Dia menciptakan langit dan bumi”. (HR. Bukhari, no : 2953)

Dikuatkan juga dengan

hadist Abdullah bin Amru ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda :

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah menambahkan: ‘Dan arsy Allah itu berada di atas air.” (HR. Muslim, no : 4797)

Syekh Muhammad bin Abdul Wahab berkata : “Kata : وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ memberikan isyarat bahwa air dan arsy, keduanya adalah makhluq pemula dari alam ini, karena keduanya diciptakan sebelum langit dan bumi, dan pada waktu itu tidak ada di bawah arsy kecuali air. (Ushul Iman, hlm : 85)

Anda sekarang sudah mengetahui berdasarkan ayat dan hadist di atas, bahwa makhluq yang pertama kali diciptakan adalah air dan arsy, tapi dilain pihak hadist yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Shomit, bahwasanya Rasulullah saw bersabda :

إِنّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الْأَبَدِ

“Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Tulislah.” Maka terjadilah apa yang akan terjadi hingga selamanya. (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata : hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib)

Hadist di atas menjelaskan bahwa makhluq pertama kali yang diciptakan Allah adalah pena, padahal sebelumnya ada ayat dan hadist yang menerangkan bahwa makhluq pertama kali diciptakan adalah air dan arsy, terus mana yang benar? Anda jangan bingung…di dalam kitab Fathu al Bari (6/289), Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ayat-ayat dan hadist-hadist tersebut digabung dan dikompromikan, maka hasilnya sebagai berikut :

makhluq yang pertama kali diciptakan adalah air, kemudian arsy, kemudian pena. Jadi, redaksi hadist di atas “ …pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena.. maksudnya adalah pertama kali setelah adanya air dan arsy… sesuai dengan hadis Bukhari diatas.

Ibn Kathir dalam tafsirnya mengenai firman Allah dalam surat Al Huud ayat 7 menerangkan ( selengkapnya lihat referensi ) :

Allah mengabarkan tentang kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi, dalam enam hari, sedangkan Arsy-Nya yang berada di atas air sudah ada sebelum penciptaan segala sesuatu.

wa kaana ‘arsyuHuu ‘alal maa-i (“Dan adalah ‘Arsy-Nya atas air.”) Mujahid mengatakan: “Maksudnya, sebelum Allah menciptakan segala sesuatu.”.

Maka betapa mulianya makhluq Allah yang bernama air itu, selain sebagai makhluq yang pertama kali diciptakan oleh Allah, dia juga makhluq yang darinya diciptakan segala sesuatu yang hidup. Subhanallah……..

Explorasi ruang angkasa membuktikan usia tertua air dialam semesta.

خَلَقَ اللَّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّ فِى ذٰلِكَ لَءَايَةً لِّلْمُؤْمِنِينَ
Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.
[QS. Al-‘Ankabut: Ayat 44]

Secara logika seharusnya air berusia lebih tua dari pada alam semesta, karena air diciptakan “sebelum” langit dan bumi diciptakan . Sebuah pertanyaan menarik yang harus dibuktikan. Dalam upaya mengungkap misteri alam (tanda-tanda kebesaran Allah) di alam semesta.

Para ilmuwan fisika menggunakan 2 metode pendekatan, yang pertama pembuktian ilmiah (scientific) melalui pendekatan observasi dan yang kedua adalah pendekatan secara teoritis (theoretical physics and mathematic) serta percobaan secara experimental (experimental physics) . Dalam upaya mendapatkan jawaban tertentu, kedua pendekatan ini saling melengkapi dan saling mengoreksi serta sesuai satu sama lain.

Reservoir massa air diluar angkasa.

image

Ketika Anda melihat keluar ke angkasa, itu hanya seperti melihat ke masa lalu atau melihat kembali kebelakang ke waktu silam. Cahaya seperti kita ketahui bergerak dengan kecepatan tinggi tapi terbatas, dibutuhkan waktu bagi (photon) cahaya untuk menjelajahi jarak yang jauh. Jadi, ketika kita melihat cahaya objek yang sangat jauh di alam semesta, kita benar-benar melihat cahaya yang dipancarkan dari mereka yang dulu: kita melihat mereka secara harfiah ‘sebagai mereka di masa lalu’.

Air alam semesta selama ini memang telah ditemukan tapi jaraknya belum pernah sejauh ini. Komponen yang satu ini ditemukan banyak tersebar di alam semesta dalam bentuk cair, padat, maupun dalam fase gas. Termasuk air galaksi kita maupun di galaksi lainnya..

Astronom dari NASA telah menemukan reservoir massa air yang sangat besar dan tua diluar angkasa, terbesar dan tertua yang pernah terdeteksi – raksasa, awan 12-miliar-tahun menyimpan 140 triliun kali lebih banyak air daripada semua lautan bumi digabung.

image

Quasar yang basah kuyup dalam Uap Air.
Konsep artis menggambarkan Quasar, atau lubang hitam, mirip dengan APM 08.279 + 5255, di mana para astronom menemukan jumlah besar uap air. Gas dan debu kemungkinan membentuk torus di sekitar pusat lubang hitam, dengan awan gas bermuatan diatas dan dibawah. APM 08.279 + 5255 adalah 12 miliar tahun cahaya quasar yang berada jauh di konstelasi Lynx. Gambar kredit: NASA / ESA

Air berada diawan disekitar lubang hitam besar yang sedang dalam proses menghisap materi dan menyemprot keluar energi (lubang hitam aktif seperti ini disebut quasar), dan lubang hitam melepas gelombang energi membuat air dengan secara harfiah mengetuk hidrogen dan atom oksigen secara bersamaan menjadi air.

image

reservoir air di awan berumur 12 miliar tahun (gambar bagian sebelah kiri). credit: Wikipedia

Yang menakjubkan adalah usia pabrik air tersebut. Kedua tim astrofisikawan yang menemukan quasar, mencari diruang yang berjarak 12 miliar tahun cahaya. Artinya mereka juga melihat kembali mundur ke masa 12 miliar tahun silam, ketika alam semesta itu sendiri baru berusia 1,6 miliar tahun. Mereka sedang mengamati air di masa awal terbentuknya alam semesta yang terdeteksi, berarti dapat dikatakan, air adalah salah satu zat yang pertama kali dibentuk, dibuat di masa lalu dalam bilangan volume galaktic. Penemuan ini menunjukkan bahwa air telah lazim di alam semesta selama hampir diseluruh keberadaannya, kata para peneliti. Radiasi yang dipancarkan 1,6 miliar tahun setelah Big Bang.

Kekuatan kreatif yang ada dalam air dapat membentuk geologi, iklim dan biologi, … secara dramatis. Berikut video tutorial perihal pencarian molekul air di alam semesta

Galaksi terjauh yang terdeteksi oleh para astronom lahir dalam 700 juta tahun dari Big Bang. Ini sudah menunjukkan tanda unsur yang lebih berat dalam emisi spektral mereka. Oleh karena itu, masuk akal untuk berspekulasi bahwa air terbentuk dalam beberapa ratus juta tahun setelah Big Bang atau lebih muda, begitu pendapat astronom.

Usia air diluar angkasa tertua yang telah diketemukan berumur 12.8 milliar tahun. Lebih tua dari usia matahari.

Air diawan molekul muda.

Sebuah studi lain dari awan molekul muda di galaksi Bima Sakti, para astronom menyimpulkan bahwa reservoir air di alam semesta telah ada jauh lebih tua dari perkiraan. Untuk lebih tepatnya, alam semesta telah berisi dengan air hanya satu miliar tahun setelah Big Bang, kelahiran alam semesta kita, atau dengan kata lain, air telah berusia 12,8 miliar tahun.

Tantangan yang dihadapi dalam pembentukan air, molekul yang terdiri dari dua atom hidrogen dan atom oksigen, adalah bahwa setiap elemen yang lebih berat daripada helium seperti oksigen seharusnya terbentuk di inti bintang dan bukan oleh Big Bang itu sendiri, seperti diperkiraan selama ini. Bintang-bintang pertama yang muncul terjadi sekitar 100 juta tahun setelah Big Bang, membuat pembentukan ikatan kimia air seharusnya terjadi lama setelah Bing Bang (gambar first star).

image

Air telah ada 1 miiliard tahun sesudah big bang (bagian kiri gambar). Didalam awan molekul muda mengandung oksigen seribu kali lebih kecil dari matahari kita. Meskipun tingkat oksigen rendah, lingkungan pada saat itu cukup ideal untuk ‘memasak’ molekul air. Suhu 80 derajat Fahrenheit (300 Kelvin) sudah cukup untuk menggabungkan oksigen yang tersedia dengan atom hidrogen yang melimpah. Suhu ini memungkinkan karena alam semesta waktu itu lebih hangat dari masa kini dan gas tidak mampu mendinginkan secara efektif,

Astrofisikawan Avi Loeb, of the Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CfA), yang merupakan bagian dari sebuah kelompok riset yang melaksanakan penelitian ini, mengatakan bahwa ia dan timnya menganalisa unsur kimia awan molekul muda, seperti bok globulas, dan menemukan bahwa matahari mengandung seribu kali lebih banyak oksigen daripada awan-awan tersebut. “Namun yang mengejutkan, kami menemukan, bahwa kita bisa mendapatkan uap air sebanyak seperti yang kita lihat dalam galaksi kita sendiri” kata Avi Loeb, seorang astrofisikawan di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CFA), Mass.

image

Air di awan debu kuno alam semesta, gambar Hubble ini memiliki simpul gelap gas dan debu yang dikenal sebagai ‘Bok Globulas’ sebuah kantong padat didalam awan molekul yang lebih besar. Kumpulan serupa dari materi diawal alam semesta bisa menyimpan uap air sebanyak seperti yang kita temukan di galaksi kita saat ini, meskipun mengandung seribu kali lebih sedikit oksigen. Gambar diatas menampilkan fase awal dari pembentukan bintang./ kredit foto: NASA, ESA, dan The Hubble Tim Heritage 2

Penelitian ini menunjukkan bahkan ketika alam semesta hanya berumur 1 miliar tahun, alam semesta kita sudah memiliki lingkungan yang memadai untuk memungkinkan pembentukan H2O di awan dengan kadar oksigen relatif rendah. Alam semesta telah dipenuhi dengan H2O dalam miliar tahun pertama, air ada dimana mana. Ini membuka jalan bagi pembentukan bintang yang melahirkan planet yang sudah memiliki air di dalamnya. Dan sekarang kita hidup di alam semesta ternyata diisi dengan air yang kebetulan menjadi komponen kunci bagi kehidupan seperti yang kita kenal. Planet biru bumi didalamnya juga mempunyai kandungan air purba, mungkin dengan penemuan ini awal dari penciptaan bumi dapat dijelaskan. (Sebagai perbandingan, matahari kita diperkirakan berusia sekitar 4,5 miliar tahun).

Kesimpulan dari hasil penelitian dan penemuan diatas secara langsung merupakan bukti nyata bahwa ” wujud air sudah ada sebelum awal pembentukan langit” yang berarti usia air sudah sangat tua, jauh lebih tua dari langit dan bumi.

Sesuai dengan hadith Rasulullah s.a.w. diatas tentang penciptaan air,

Dialah Allah yang- pada waktu itu – tidak ada sesuatupun selain Dia, sedangkan ‘arsy-Nya di atas air, lalu Dia menulis di dalam adz-Dzikir segala sesuatu (yang akan terjadi,) lalu Dia menciptakan langit dan bumi”. (HR. Bukhari, no : 2953)

Alam semesta adalah al-samawat wal ardh wa ma bainahuma (langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya). Definisi Wikipedia tentang alam semesta berbunyi: The Universe is all of time and space and its contents. The Universe includes planets, stars, galaxies, the contents of intergalactic space, the smallest subatomic particles, and all matter and energy.

Bunyi definisi Wikipedia mengenai alam semesta seperti definisi diatas digambarkan didalam Al Quran sebagai “langit terdekat” dengan segala isinya, sebagaimana diterangkan dalam QS. Fussilat ayat 12,

فَقَضٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ فِى يَوْمَيْنِ وَأَوْحٰى فِى كُلِّ سَمَآءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصٰبِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian, langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.

Ayat diatas menggambarkan proses pembentukan alam semesta dari langit yang masih berbentuk asap. (QS. Fussilat ayat 11) dan bintang dilangit terdekat yang berfungsi sebagai hiasan dan pemelihara.

Wallaahu a’lam
Allahu Akbar..

*****

Teori Bing Bang dan pembentukan alam semesta.

Biasanya, para astronom menceritakan kisah dari alam semesta dengan dimulai dengan Big Bang dan kemudian berbicara tentang apa yang terjadi setelah itu. Tapi apa yang terjadi sebelum Big Bang? Para astronom tidak mengetahuinya. Jarak terjauh kita dapat melihat kembali ke awal pembentukan alam semesta hanya sampai kepada latar belakang gelombang mikro kosmik (CMB), yaitu sekitar 380.000 tahun setelah big bang.

image

CMB (biru, kiri gambar) memiliki informasi awal dari awal alam semesta kita. Dia berasal dari waktu ketika alam semesta telah diperluas dan didinginkan, blok bangunan dasar yang dibentuk dalam big bang materi atom netral bisa merakit menjadi hidrogen dan helium. Yang sangat mengejutkan hidrogen dan helium terdistribusi secara homogen dalam ruang. Pada waktu itu keadaan sangat gelap karena tidak ada benda bercahaya di langit.

Dibalik itu semua, dibelakang CMB kebanyakan masih bersifat hypothetis yang pembuktiannya hanya bisa dilakukan secara teoritis.

Teori Big Bang, merupakan salah satu teori mengenai bagaimana alam semesta dibentuk yang berdasarkan teori Relativitas umum Einstein. Sebuah model penciptaan alam semesta yang menerangkan bahwa alam semesta telah diciptakan dari ketiadaan“, dan teori ini adalah yang dianggap paling kredibel. Teori Big Bang tersebut mengatakan bahwa alam semesta ini awalnya berasal dari satu titik Singularitas dan karena adanya kepadatan material dan suhu tinggi, titik tersebut meledak dan mengembang.” (Edwin Hubble,1929) hingga 13,8 milyar tahun kemudian menjadi alam semesta yang kita tahu kini.

Persamaan klasik relativitas umum Albert Einstein menggambarkan gravitasi dan ruang-waktu dengan baik. Namun, Teori big bang memiliki masalah yang serius. Big Bang Singularity memprediksi alam semesta mulai dari titik yang tak terhingga padat di mana hukum fisika tidak berlaku lagi, berarti teori mengandung kontradiksi sendiri. Beberapa ilmuwan melihat matematika relativitas umum, sebagai bermasalah karena matematika bisa menjelaskan hanya apa yang terjadi “setelah” – bukan sebelum atau pada saat terjadinya – singularitas. Big Bang singularitas adalah masalah yang paling serius dari relativitas umum karena hukum fisika mendadak hancur tak berlaku lagi disana.

Peraih Nobel Hannes Olof Gösta Alfven berpendapat tentang masalah Big Bang bahwa astrofisikawan mencoba untuk memperkirakan asal mula alam semesta dari teori matematika yang dikembangkan di papan tulis, bukan dimulai dari gejala yang tampak yang diketahui. Dia juga menganggap Big Bang menjadi sebuah mitos ilmiah yang dirancang untuk menjelaskan penciptaan. “Saya pikir akan sangat sulit untuk mendapatkan materi hipotetis (materi ideal), dengan karakteristik hipotetis (karakteristik ideal), lanjutnya menanggapi misteri persentase massa di alam semesta”.

Kontradiksi titik singularitas.

Singularitas didasari dari matematika teori Einstein relativitas umum, yang menjelaskan bagaimana massa melengkungkan ruang-waktu, dan persamaan lain (disebut persamaan Raychaudhuri– Amal Kumar Raychaudhuri, 1950.) yang mengextrapolasi apakah lintasan sesuatu akan bertemu menuju ke satu titik pusat (konvergensi) atau meluas menuju ke arah yang berbeda (divergensi) dari waktu ke waktu. Dengan bergerak mundur dalam waktu, menurut persamaan ini, semua materi di alam semesta bersatu kedalam satu titik – singularitas Big Bang.

Untuk memahami apa yang terjadi di dalam singularitas yang sangat kecil, fisikawan harus menggabungkan – dua teori yang paling dominan, mekanika kuantum dan relativitas umum.

Tapi ada masalah dalam penerapannya, kedua ramuan fisika itu tidak sesuai satu sama lain untuk dapat digabungkan dan membentuk teori gravitasi kuantum (deskripsi gravitasi dalam kerangka fisika kuantum) yang lengkap dan konsisten..

Dr Ahmed Farag Ali dari Benha University, Mesir. Bekerja sama dengan Profesor Saurya Das dari Universitas Lethbridge, Kanada, menawarkan formulasi baru sebuah perpaduan antara teori relativitas umum dengan quantum mekanik. Dengan menghitung korreksi quantum ( quantum error correction) untuk persamaan dinamik dari alam semesta yang dikenal sebagai persamaan Freidman, mengganti geodesics klasik dengan quantal (Bohmian) trajektori. Pendekatan kuantum ini dikembangkan oleh Louis de Broglie dan David Bohm.

Ali dan Das menjelaskan dalam makalah mereka bahwa model mereka menghindari singularitas karena perbedaan utama antara geodesics klasik dan lintasan Bohmian. Geodesics klasik diujung akhirnya saling silang, dan titik-titik di mana mereka berkumpul adalah singularitas. Sebaliknya, lintasan Bohmian tidak pernah saling silang, sehingga singularitas tidak muncul dalam persamaan.

Lintasan kuantum tidak pernah bisa bertemu atau melintas satu sama lain. Oleh sebab itu jika titik di alam semesta kita saat ini diekstrapolasi jauh kembali ke masa lalu, mereka tidak lagi bertemu di sebuah titik singularitas Big Bang.

Hasil formulasi baru dari persamaan Quantum ini juga menyebutkan bahwa alam semesta mungkin tak pernah mengenal awal, dulu memang jauh lebih kecil, tetapi tidak pernah memiliki kepadatan yang tak terbatas dan bahwa usia alam semesta tak terhingga tuanya.

Hal ini menimbulkan koreksi baru yang substansial dari perubahan perilaku alam semesta, dan membuktikan bahwa singularitas Big Bang tidak mungkin eksis.

Ketika Ali dan Das membuat koreksi kuantum kecil untuk persamaan Raychaudhuri, mereka baru menyadari bahwa persamaan itu menggambarkan cairan, terdiri dari partikel-partikel kecil, yang memenuhi ruang. Fisikawan telah lama percaya bahwa versi kuantum gravitasi akan mencakup sebuah partikel hipotesis, yaitu graviton, yang menghasilkan gaya gravitasi. Ali dan Das mengusulkan bahwa graviton tersebut yang membentuk cairan ini.

persamaan mathematis Raychaudhuri, menggambarkan cairan, yang terdiri dari partikel-partikel kecil, yang memenuhi ruang.

Dalam konsep baru tersebut yang memadukan teori relativitas dengan teori quantum mekanik bisa menjelaskan apa sebenarnya penyusun dark matter (materi gelap), materi misterius, yang tak terlihat dan diyakini menyusun sebagian besar alam semesta. Koreksi kuantum term dalam persamaan tersebut terkait dengan kepadatannya.

● Dari segi fisika, model menggambarkan alam semesta mungkin berisi superfluid cairan kuantum yang terdiri dari partikel , partikel yang mungkin tidak memiliki massa sendiri, tetapi pembawa gravitasi yang disebut graviton layaknya foton membawa elektromagnetisme, atau partikel sangat dingin dan yang disebut axion. [QS.41:11], [QS.36:40], [QS.21:33].

Salah satu istilah dari koreksi mereka untuk persamaan Raychaudhuri / Friedmann, yang mengatur kosmologi formula, dapat diartikan sebagai meliputi semua cairan kuantum, dikenal sebagai Bose-Einstein kondensat. [QS.36:40], [QS.21:33].

image

Bose-Einstein kondensat, keadaan materi dari gas cair boson didinginkan sampai suhu sangat dekat dengan nol absolut (yaitu, sangat dekat 0 K atau-273,15 ° C). Dalam kondisi seperti itu, sebagian besar dari boson menempati keadaan kondisi kuantum terendah, memperlihatkan fenomena makroskopik kuantum menjadi jelas.

Densitas fluida ini dapat menjelaskan materi gelap, sedangkan istilah itu sendiri dapat menimbulkan istilah konstanta kosmologi yang menjelaskan energi gelap.

Secara fisika proses pembantukan BEC seperti proses kondensasi pada air (H2O), tapi BEC terjadi pada suhu super rendah. Para ilmuwan telah menemukan cara untuk mendapatkan suhu hanya beberapa billionths derajat di atas nol mutlak. Ketika suhu menjadi serendah itu, kita dapat membuat BEC dengan beberapa elemen khusus lainnya. Cornell dan Weiman melakukannya dengan rubidium (Rb), tapi sebuah grup peneliti MIT membuat materi BEC dari hydrogen.

Proses atom mulai menggumpal ketika suhu mendekati nol mutlak. Ketika suhu Nol Kelvin (nol mutlak) semua gerak molekul berhenti total bagian-bagian atom tidak bisa bergerak sama sekali. Mereka kehilangan hampir semua energi kinetic mereka. Karena tidak ada energi yang bisa ditransfer (seperti dalam fase padat atau cair), semua atom memiliki tingkatan energi persis sama, seperti kembar. Hasil penggumpalan ini adalah BEC. Kelompok atom rubidium contohnya duduk di tempat yang sama, menciptakan ‘super atom’. Tidak ada lagi ribuan atom yang terpisah. Mereka semua mengambil kualitas yang sama dan menjadi satu gumpalan.

******

Alam semesta sebagai cairan.

image

Para peneliti beranggapan bahwa materi di alam semesta berperilaku sangat mirip seperti air atau udara. Cairan air mengalir sesuai hukum hydrodinamik, tapi faktanya air terdiri dari diskrit, individu molekul H2O yang berinteraksi dengan ketiga gaya dari fisika kuantum.
Dalam model fluid alam semesta – yang memadukan gravity dengan mekanika kuantum ke dalam ‘gravitasi kuantum’ – ruang dan waktu berperilaku seperti media carian ultra-cool bebas gesekan atau superfluida.

Adapun mengenai firman-Nya dalam Al Quran yang diturunkan 1400 tahun yang lalu, alam semesta dipenuhi media cairan dari air.

Allah SWT berfirman:

وَالسّٰبِحٰتِ سَبْحًا
“(Dan demi yang turun dari langit dengan cepat) yakni demi malaikat-malaikat yang melayang turun dari langit dengan membawa perintah-Nya.”
(QS. An-Nazi’at: Ayat 3)

Dalam tafsirnya Ibn Kathir mengatakan perihal ayat diatas:

Al-Hasan Al-Basri mengatakan —juga Qatadah— sehubungan dengan makna firman-Nya.: Demi (malaikat-malaikat) yo«g mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut. (An-Nazi’at: 1-2) Bahwa makna yang dimaksud ialah bintang-bintang.

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah para malaikat.

Telah diriwayatkan pula dari Ali, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Abu Saleh hal yang semisal.

Dan telah diriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat. (An-Nazi’at: 3) Yakni maut alias kematian, Qatadah mengatakan bintang-bintang, Ata ibnu Abu Rabah mengatakan perahu (kapal-kapal laut).

Allah SWT berfirman:

وَهُوَ الَّذِى خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
“(Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari semua itu) lafal Kullun ini tanwinnya merupakan pergantian daripada Mudhaf ilaih, maksudnya masing-masing daripada matahari, bulan dan bintang-bintang lainnya (di dalam garis edarnya) pada garis edarnya yang bulat di angkasa bagaikan bundaran batu penggilingan gandum (beredar) maksudnya semua berjalan dengan cepat sebagaimana berenang di atas air. Disebabkan ungkapan ini memakai Tasybih, maka didatangkanlah Dhamir bagi orang-orang yang berakal; yakni keadaan semua yang beredar pada garis edarnya itu bagaikan orang-orang yang berenang di dalam air.
(QS. Al-Anbiya: Ayat 33, tafsir Al Jalalain)

Allah SWT berfirman:

لَا الشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
“(Tidaklah mungkin bagi matahari) tidak akan terjadi (mendapatkan bulan) yaitu matahari dan bulan bersatu di malam hari (dan malam pun tidak dapat mendahului siang) malam hari tidak akan datang sebelum habis waktu siang hari. (Dan masing-masing) matahari, bulan dan bintang-bintang. Tanwin lafal Kullun ini merupakan pergantian dari Mudhaf Ilaih (pada garis edarnya) yang membundar (beredar) pada garis edarnya masing-masing. Di dalam ungkapan ini benda-benda langit diserupakan sebagai makhluk yang berakal, karenanya mereka diungkapkan dengan lafal Yasbahuuna.
(QS. Ya Sin: Ayat 40, tafsir Al Jalalain)

Dalam bahasa arab kata
wal-sābiḥāti (And those who glide) (QS.79:3:1).
Dan kata
yasbaḥūna (floating) (QS.21:33:11) atau (they are floating) (QS.36:40:15) dalam bahasa arab mempunyai akar kata yang sama, yaitu

س-ب-ح
Seen-Ba-HA
to swim, roll onwards, perform a daily course, float, the act of swimming, occupy oneself in: the accomplishment of his needful affairs or seeking the means of subsistence, business/occupation, those who are floating, went/travel far, being quick/swift. To praise/glorify/hollow/magnify, sing/celebrate praise, holy, declaring God to be far removed or free for every imperfection/impurity

Yang sesuai dengan keterangan ayat (QS.36:41) berikutnya yang membicarakan “kapal yang berlayar” apabila digabungkan kemungkinan menjadi swim, floating etc.

Allah SWT berfirman:

وَءَايَةٌ لَّهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
“Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan,”
(QS. Ya Sin: Ayat 41, terjemahan Kemenag R.I.)

Mekanika kuantum dapat secara efektif menjelaskan tiga dari empat gaya fundamental alam semesta (elektromagnetisme, interaksi lemah dan interaksi kuat). Tapi itu tidak menjelaskan gravitasi, yang saat ini hanya didefinisikan oleh relativitas umum, teori yang dikembangkan dalam bidang fisika klasik.

Demikian juga, menurut beberapa model, relativitas umum tidak mengatakan apa-apa tentang “atom” yang membentuk ruang-waktu namun menggambarkan dinamika ruang-waktu seolah-olah itu adalah objek “klasik” .

Dalam model cairan ini, relativitas umum dianalogikan sebagai hidrodinamika cairan, yang menggambarkan perilaku cairan pada tingkat makroskopik tetapi tidak memberitahu kita apa-apa tentang atom / molekul yang membentuk mereka.

Ruang-waktu karena itu harus menjadi fenomena yang “muncul” dari sebuah konstituen yang lebih mendasar, seperti air, sesuatu apa yang kita ketahui dari massa molekul H2O yang membentuk.

Enrico Pajer, postdoctoral di Princeton University, mengatakan materi di alam semesta berperilaku “dengan cara yang sangat mirip seperti air atau udara.”

Menurut teori baru Ruang-Waktu kemungkinan berupa sejenis ‘superfluida cair’

Menurut peneliti Stefano Liberati, seorang profesor di Sekolah Internasional untuk Studi Lanjutan (sissa) dan Luca Maccione, seorang ilmuwan penelitian di Universitas Ludwig-Maximilian di Munich, dalam publikasi Astrophysical mereka tentang Planck Skala Dissipative Fenomena, penelitian terbarunya menyatakan alam semesta seharusnya dianggap sebagai cairan ultra-cool, materi dalam fase ‘superfluida’.

image

ilustrasi bagaimana awan dari ultracold atom lithium ber-transisi dari gas normal ke fase superfluida – sebuah fase dimana partikel mengalir tanpa gesekan apapun. Penelitian yang dapat membantu para ilmuwan memahami superkonduktor suhu tinggi dan bintang neutron. Gambar: MIT. – Martin Zwierlein

Teori baru menunjukkan ruang-waktu itu sendiri mungkin berupa sejenis ‘superfluida cair’ yang dikenal sebagai ‘teori vakum superfluida‘ (SVT), sudah lama dikembangkan tapi pada model konvensional, ruang masih dianggap vakum.

Pertanyaan selama ini adalah bagaimana mungkin gelombang elektromagnetik, foton, dan entitas lain bisa bergerak melalui ruang yang ada, jika menurut definisi, tidak mempunyai media?

Gelombang, misalnya, menggunakan air sebagai media yang akan digunakan untuk bergerak.

Mereka melakukan ini dengan menciptakan model- yang dengan model itu mencoba untuk memadukan gravitasi dan mekanika kuantum ke dalam ‘gravitasi kuantum‘. Model superfluiditas memungkinkan penjelasan dari efek tersebut.

Ruang-waktu, para peneliti mengatakan, terbuat dari molekul H20 sendiri – walaupun bentuk pastinya belum diketahui.

Model cairan ini bisa memungkinkan para ilmuwan mengetahui bagaimana gaya gerak melalui ruang.

Selama ini ruang-waktu hanya muncul sebagai salah satu objek ‘klasik’, sesuatu yang terpadu wujudnya, sebaliknya kita harus mempertimbangkan aspek keseluruhan yang ‘terlihat’ layaknya sebuah cairan.

Seperti air yang terbuat dari diskrit, molekul individu H2O, berinteraksi satu sama lain sesuai dengan hukum mekanika kuantum, tetapi air tampaknya juga seperti cairan massa molekul H2O yang mengalir.

Di masa lalu, model ruang-waktu dipertimbangkan seperti cairan, propagasi foton, yang akan melakukan perjalanan pada kecepatan yang berbeda tergantung pada energi mereka sendiri.

image

Hal ini akan memberikan media bagi gelombang dan foton untuk melakukan perjalanan di alam semesta seperti suara di udara, tapi untuk itu dibutuhkan nilai viskositas (kekentalan) nol.

Liberati menjelaskan. “Jika ruang-waktu adalah sejenis cairan, maka kita harus juga memperhitungkan viskositas dan efek disipatif air lainnya, yang tidak pernah dibahas secara rinci”.

Liberati dan Maccione meng-katalogikan efek ini dan menunjukkan bahwa viskositas cenderung cepat menghilangkan foton dan partikel lainnya di sepanjang jalur mereka.

“Namun kenyataannya kita bisa melihat perjalanan foton !” dia melanjutkan. “Jika ruang-waktu adalah cairan, maka ia harus memiliki viskositas, maka menurut perhitungan itu tentu harus seperti superfluida. Ini berarti bahwa nilai viskositasnya harus sangat rendah, mendekati nol”

Pada kenyataannya, sinar dari dari objek astrofisika yang terletak jutaan tahun cahaya jauhnya, merupakan indikasi yang berlawanan dengan viskositas tinggi dari ruang-waktu yang terkuantisasi. Karena semakin kental sebuah cairan semakin membias foton dan partikel lain yang melintas.

********

Kesimpulan

.

Perbedaan mendasar penciptaan alam semesta dalan Al Quran dan hadits awalnya dimulai dengan Air sebagai bahan baku. Sebaliknya dalam teori Bing Bang penciptaan diawali dengan titik singularitas yang meledak lalu berproses menghasilkan hidrogen hingga pembentukan air.

Singularitas big bang tidak eksis. Kalau itu benar berarti semua teori yang dimulai dengan singularitas, termasuk model awal penciptaan alam semesta Big Bang salah.

Fakta hasil ezperimen observasi Fakta menunjukan hasil observasi NASA, ESA maupun organisasi lainnya mengkonfirmasi bahwa usia air diperkirakan berumur 12.8 miliard tahun (hitungan big bang), jauh lebih tua dari bumi 4.5 miliard tahun, jadi air telah ada sebelum terciptanya langit dan bumi.
mathematis Model alam semesta hasil korreksi dari model persamaan quantum Friedmann equations menemukan : alam semesta jauh lebih tua daripada umur titik singularitas, serta kemungkinan terdiri dari superfluid BEC cairan kuantum yang terdiri dari partikel Hidrogen yang merupakan bagian molekul air.
Astrofisika Hasil studi para pakar fisika teori menghasilkan sebuah model fluida yang menyatakan: bahwa Ruang Waktu secara keseluruhan berperilaku seperti air dalam keadaan superfluid dengan kepadatan nol.

● Model liquid alam semesta dapat mengakomodasi teori relativitas umum dan quantum mekanik dalam satu persamaan quantum gravity. Karena sifat cairan air yang terdiri dari diskrit, molekul individu H2O, berinteraksi satu sama lain sesuai dengan hukum mekanika kuantum, tetapi air pada saat yang sama berperilaku sebagai cairan yang “mengalir” dari sebuah massa molekul H2O.

● fasa BEC dari hydrogen, seperti kita ketahui sebagai komponen molekul air, telah berhasil dikembangkan di laboratorium. Jadi tidak tertutup kemungkinan bahwa BEC hidrogen dapat membentuk gumpalan materi sebagai cikal bakal dukhan (asap) [QS.41:11].

● Dialam semesta tingkat densitas atau kepadatan fasa materi memegang peranan penting, kata kunci ; fasa BEC- dark matter, fasa plasma – materi dari matahari, fasa gas – nebula, fasa padat – planet, meteorit etc.

image

Materi telah mempunyai ke lima fase – padat, cair, gas, plasma dan Bose-Einstein Condensate (BEC). Materi gelap mempunyai tingkat kepadatan ruang antarmolekul yang ditentukan oleh energi sekitar.

Kondisi materi tersebut tergantung energi seperti dalam QS. Adz Dzariat 47. Allah berfirman :

Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya

Wallahu a’lam bishawab.

○○○○○○○

Sumber:
Tafsir Ibn Kathir terjemahan bahasa Indonesia.
○ NASA/ESA
○ Space.com.
○ Wikipedia.
Dr Ahmad Zain An Najah MA
Tanya jawab agama Islam.
Abi Muhamm, Pengasuh Pon-Pens Al Qaoumaniyah (Pondok Bareng), Jekulo, Kudus.
○ Der Spiegel.
○ Harun Yahya.
○ Livescience.com.
MIT publication, BEC of hydrogen

Iklan