image

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Saat mengawali pekerjaan penting hendaknya mengawalinya dengan Basmalah, yakni ucapan Bismillahi atau Bismillahirrahmanirrahim. Hikmahnya, sebagai bentuk isti’anah (meminta pertolongan) kepada Allah dan memohon keberkahan dari-Nya.

Mayoritas ulama berpendapat, disyariatkan dan dianjurkan membaca basmalah pada saat memulai perkara-perkara penting, antara lain contohnya ketika menyembelih hewan ternak dan burung atau pekerjaan lainnya.

فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ بِئَايٰتِهِۦ مُؤْمِنِينَ
Maka makanlah dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya
[QS. Al-An’am: Ayat 118]

Dalam kitab al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (8/92) disebutkan,

اتفق أكثر الفقهاء على أن التسمية مشروعة لكل أمر ذي بال ، عبادة أو غيرها

“Mayoritas fuqaha’ bersepakat bahwa tasmiyyah (membaca Basmalah,-pent) disyariatkan pada perkara yang penting; ibadah atau selainnya”.

Kesimpulan ini didasarkan kepada hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يَبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan Bismillah maka ia terputus.”

Dalam redaksi lain,

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع

“Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim, maka dia akan terputus.” (HR. Ibnu Hibban dan selainnya. Ibnu Shalah menyatakan hadits ini hasan)

Maksud terputus adalah tidak memberikan hasil baik atau berkurang barakahnya.

Para ulama berbeda pendapat tentang status hadits ini dan yang serupa dengannya. Sebagian ulama melemahkannya, seperti Syaikh Al-Albani Rahimahullah. Sejumlah ulama lainnya menerima hadits ini dan menyatakan statutusnya hasan, seperti Imam Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Daqiq Al-‘Ied, Ibnul Mulqin, Ibnu Shalah, dan selainnya.

Al-‘Allamah Ibnu Bazz Rahimahullah ditanya tentang hadits ini, beliau menjawab:

جاء هذا الحديث من طريقين أو أكثر عند ابن حبان وغيره ، وقد ضعفه بعض أهل العلم ، والأقرب أنه من باب الحسن لغيره

“Oleh Ibnu Hibban dan selainnya, hadits ini mempunyai dua jalur periwayatan atau lebih. Sebagian ulama mendhaifkannya. Dan yang lebih tepat adalah derajatnya hasan lighairihi.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Bazz: 25/135)

Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad Al-Utsaimin juga pernah ditanya tentang hadits ini, beliau berkata: ”Para ulama telah berbeda pendapat tentang keshahihan hadits ini. Diantara mereka ada yang menshohihkannya dan menjadikan sebagai hujjah, seperti Imam An-Nawawi dan sebagian lain melemahkannya. Namun para ulama secara umum dapat menerima hadits ini. Dan (keputusan mereka) mencantumkan hadits ini dalam kitab kitab yang mereka tulis menunjukan bahwa hadits ini ada asalnya. (Kitabul Ilmi, Syaikh Al-Utsaimin)

Makna hadits ini benar, bisa diterima, dan isinya diamalkan. Allah Ta’ala telah memulai Kitab-Nya dengan Basmalah. Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam juga memulai suratnya kepada ratu Bilqis dengan Basmalah. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Naml: 30)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga memulai suratnya kepada raja Heraklius dengan Basmalah. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membuka khutbahnya dengan memuji Allah dan menyanjungnya.”

. . . Kita diperintahkan untuk mengawali aktifitas baik kita -yang ada mashlahat dan kebaikan kita di dalamnya- dengan membaca Basmalah, yakni Bismillahi atau Bismillahirrahmanirrahim. . .

Perkara apa saja yang dianjurkan memulainya dengan Basmalah?

Setiap perkara atau urusan yang memiliki nilai berharga di sisi manusia; di antaranya bersuci, makan, minum, masuk rumah, berkendaraan, Jima’ suami-istri, tidur, dan selainnya. Semua itu disyariatkan bagi kita untuk menyebut nama Allah ‘Azza wa Jalla saat memulainya. Walaupun ini tidak wajib, tapi sangat dianjurkan. Karena di dalamnya ada kebaikan dan keutamaan. Sehingga diberkahi baginya dalam pekerjaannya, urusannya, makan dan minumnya, dan aktifitas baik lainnya.

Kalau kita perhatikan dari sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kita temukan tuntunan beliau untuk menyebut nama Allah (membaca Basmalah) saat memulai beberapa aktifitas; seperti saat mau makan, keluar rumah, tidur, berjima’, dan selainnya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memerintahkan dan telah pula mengerjakannya. Beliau menyebut nama Allah dalam perkara yang disukainya. Semua ini masuk dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Kepunyaan Allah nama-nama yang maha indah, maka berdoalah dengan (menyebut)-nya.” (QS. Al-A’raf: 180)

Ringkasnya, kita diperintahkan untuk mengawali aktifitas baik kita -yang ada mashlahat dan kebaikan kita di dalamnya- dengan membaca Basmalah, yakni Bismillahi atau Bismillahirrahmanirrahim.

Wallahu A’lam.

Sumber :  Badrul Tamam, [voa-islam.com].