image

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وٰسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
[QS. Al-Baqarah: Ayat 115]

Bahasa arab nya timur adalah “syarq” (شرق) dan Barat adalah “gharb” (غرب) , pemaknaan Syarq dan Gharb sebagai timur dan barat merupakan pemaknaan yang kurang tepat (detail), terutama jika dikaitkan dengan pemahaman makna-makna ayat Al-quran. Karena di dalam Al-quran kalimat “masyriq” dan “maghrib” (makna yang umum dipakai adalah : timur dan barat), kadang disebutkan dalam bentuk mufrad (singular), tatsniyah (dual) dan Jama’ (plural) yaitu masyriq (مشرق), masyriqaini (مشرقين), dan masyaariq (مشارق), maghrib (مغرب), maghribaini (مغربين), dan maghaarib (مغارب), seperti dalam ayat-ayat berikut :

1. Bentuk singular pada surat Asy-syu’araa 27;

رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا

2. Bentuk dual pada surat Ar-rahman ayat 15;
رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ

3. Bentuk plural pada surat Al-ma’aarij ayat 40;

فَلآ أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ

Ayat-ayat diatas jika diartikan dengan makna timur dan barat maka akan menjadi : “dua timur dan dua barat” dan “beberapa timur dan beberapa barat”.

Hal ini akan menimbulkan kerancuan bagi banyak orang, karena di dalam bahasa Indonesia, Inggris dan (mungkin) bahasa-bahasa lain, kita tidak mengenal adanya dua timur dan dua barat, atau beberapa timur dan beberapa barat. barat dan timur masing-masing menunjuk hanya pada satu arah.

Maka makna yang paling tepat untuk kalimat syarq dan gharb adalah “terbit” dan “tenggelam” (matahari), sedangkan makna masyriq dan maghrib yang paling tepat adalah “tempat terbit (matahari)” dan “tempat tenggelam (matahari)”, mengacu pada kebiasaan orang arab zaman dahulu yang menjadikan Matahari sebagai patokan arah.

Dengan demikian, kita dapat memahami makna ayat-ayat diatas tentang penyebutan masyariq dan magharib dalam bentuk jama’ :
tempat-tempat terbit (matahari)” dan “tempat-tempat tenggelam (matahari)” sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Matahari terbit dan tenggelam tidak selalu pada arah yang sama, melainkan terjadi kecondongan, kadang condong ke kiri dan kadang ke kanan, sehingga dari pergeseran jalur edar (Falak?) matahari inilah terjadinya pergantian musim di berbagai belahan dunia, ada musim panas, dingin, semi dan musim gugur.