Tag

, ,

Menurut Tafsir al-Qurtuby, lebih kurang ada 20 sahabat yang meriwayatkan tentang isra’, semua penulis kitab hadits mencantumkan tentang hadits isra’. Menurut dia, kebanyakan haditsnya mutawatir dan shahih, diantaranya yang diriwayatkan Anas Bin Malik.

Asy-Syaikh Al-Albaaniy didalam kitabnya, Al-Isra’ wal Mikraj menyebutkan bahwa ada 16 sahabat yang meriwayatkan peristiwa ini, diantaranya adalah Anas bin Maalik, Abu Dzar Al-Ghifaariy, Maalik bin Sha’sha’ah, Ibnu ‘Abbaas, Jaabir bin ‘Abdillaah, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’b, Buraidah Al-Aslamiy, Hudzaifah bin Al-Yamaan, Syaddaad bin ‘Aus, Shuhaib, Abdurrahman bin Qurath, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’uud, ‘Aliy bin Abi Thaalib, ‘Umar bin Al-Khaththaab -radhiyallahu ‘anhum-.

Ibnu Hajar al-’Asqalani menerangkan bahwa hadits Isra’ Mikraj ini diriwayatkan dari beberapa orang sahabat. Namun diisyaratkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, semua periwayatan itu bersumber dari Anas bin Maalik dengan beberapa perbedaan di antara rawi-rawi yang mengambil hadits ini dari beliau. Misalnya, az-Zuhri (Ibnu Syihab) meriwayatkan dari beliau dari Abu Dzar , Qatadah dari Anas dari Malik bin Sha’sha’ah , Syarik bin Abi Namr dan Tsabit al-Bunani meriwayatkan dari Anas langsung dari Nabi tanpa perantara. Bahkan masing-masing jalan periwayatan itu memuat redaksi hadits yang tidak ada pada jalan yang lain.

Anas bin Maalik berasal dari Bani An-Najjar dan merupakan anak dari Ummu Sulaim. Sejak kecil selama 10 tahun dia melayani keperluan Nabi Muhammad SAW, sehingga selalu bersama Rasulullah. Dengan selalu bersama Rasulullah, Dia menghafal banyak hadist. Nabi juga selalu mendampingi Anas bin Maalik untuk memberi pengajaran pada Anas, ketika hendak memulai makan, Nabi perintahkan Anas supaya membaca doa dan ambil makanan yang berada di hadapan dahulu. Begitu sikap nabi mengajar Anas bin Maalik. Setelah wafatnya Nabi Muhammad, Anas bin Maalik pergi dan menetap di Damaskus dan kemudian ke Basrah. Ia mengikuti sejumlah pertempuran dalam membela Islam. Ia dikenal sebagai sahabat Nabi Muhammad SAW yang berumur paling panjang dan meninggah di Basrah.

Telah menceritakan kepada kami Anas bin Maalik, dari Malik bin Sha’sha’ah -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ketika aku berada di sisi Baitullah antara tidur dan sadar”. Lalu Beliau menyebutkan, yaitu: “Ada seorang laki-laki diantara dua laki-laki yang datang kepadaku membawa baskom terbuat dari emas yang dipenuhi dengan hikmah dan iman, lalu orang itu membelah badanku dari atas dada hingga bawah perut, lalu dia mencuci perutku dengan air zamzam kemudian mengisinya dengan hikmah dan iman.
Kemudian aku diberi seekor hewan tunggangan putih yang lebih kecil dari pada bighal namun lebih besar dibanding keledai bernama Al-Buraq. Maka aku berangkat bersama Jibril Alaihissalam, hingga sampai di langit dunia. Lalu ditanyakan; “Siapakah ini?”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang, sebaik-baik orang yang datang telah tiba”. Kemudian aku menemui Adam Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari anak keturunan dan Nabi”.
Kemudian kami naik ke langit kedua lalu ditanyakan; “Siapakah ini?”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui ‘Iisaa dan Yahyaa Alaihimassalam lalu keduanya berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”.
Kemudian kami naik ke langit ketiga lalu ditanyakan; “Siapakah ini?”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Yuusuf Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”.
Kemudian kami naik ke langit keempat lalu ditanyakan; “Siapakah ini?”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Idriis Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”.
Kemudian kami naik ke langit kelima lalu ditanyakan; “Siapakah ini?”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Haaruun Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”.
Kemudian kami naik ke langit keenam lalu ditanyakan; “Siapakah ini?”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Kemudian aku menemui Muusaa ‘Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”. Ketika aku sudah selesai menemuinya, tiba-tiba dia menangis. Lalu ditanyakan; “Mengapa kamu menangis?”. Muusaa menjawab; “Ya Rabb, anak ini yang diutus setelah aku, ummatnya akan masuk surga dengan kedudukan lebih utama dibanding siapa yang masuk surga dari ummatku”.
Kemudian kami naik ke langit ketujuh lalu ditanyakan; “Siapakah ini?”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Kemudian aku menemui Ibraahiim ‘Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”.
Kemudian aku ditampakkan Al-Baitul Ma’mur. Aku bertanya kepada Jibril, lalu dia menjawab; “Ini adalah Al-Baitul Ma’mur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat mendirikan sholat disana. Jika mereka keluar (untuk pergi shalat) tidak ada satupun dari mereka yang kembali”. Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha yang ternyata bentuknya seperti kubah dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah. Di dasarnya ada empat sungai yang berada di dalam (disebut Bathinan) dan di luar (Zhahiran) “. Aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab; “Adapun Bathinan berada di surga sedangkan Zhahiran adalah An-Nail dan Al-Furat (dua nama sungai di dunia)”.
Kemudian diwajibkan atasku shalat lima puluh kali (dalam sehari). Aku menerimanya hingga aku datang pada Muusaa ‘Alaihissalam dan bertanya; “Apa yang telah diwajibkan?”. Aku jawab: “Aku diwajibkan shalat lima puluh kali”. Muusaa berkata; “Akulah orang yang lebih tahu tentang manusia daripada engkau. Aku sudah berusaha menangani Bani Isra’il dengan sungguh-sungguh. Dan ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan kewajiban shalat itu. Maka itu kembalilah kau kepada Rabbmu dan mintalah (keringanan) “. Maka aku meminta keringanan lalu Allah memberiku empat puluh kali shalat lalu aku menerimanya dan Muusaa kembali menasehati aku agar meminta keringanan lagi, kemudian kejadian berulang seperti itu (nasehat Muusaa) hingga dijadikan tiga puluh kali lalu kejadian berulang seperti itu lagi hingga dijadikan dua puluh kali kemudian kejadian berulang lagi hingga menjadi sepuluh lalu aku menemui Muusaa dan dia kembali berkata seperti tadi hingga dijadikan lima waktu lalu kembali aku menemui Muusaa dan dia bertanya; “Apa yang kamu dapatkan?”. Aku jawab; “Telah ditetapkan lima waktu”. Dia berkata seperti tadi lagi. Aku katakan; “Aku telah menerimanya dengan baik”. Tiba-tiba ada suara yang berseru: “Sungguh Aku telah putuskan kewajiban dariku ini dan Aku telah ringankan untuk hamba-hambaKu dan aku akan balas setiap satu kebaikan (shalat) dengan sepuluh balasan (pahala) “. [HR Al-Bukhaariy no. 2968, dan ini adalah lafazh Al-Bukhaariy].
Didalam lafazh Muslim no. 234, Dari Anas bin Maalik bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: (tanpa menyebutkan peristiwa pembelahan dada)… “Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencapai ujungnya.” Beliau bersabda lagi: “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis.” Beliau bersabda lagi: “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar, tiba-tiba aku didatangi oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu. Dan aku pun memilih susu. Lalu Jibril berkata, ‘Kamu telah memilih fitrah’. Lalu Jibril membawaku naik ke langit.…(matan hadits selanjutnya sama dengan lafazh Al-Bukhari hingga…)… Beliau bersabda: “Aku masih saja bolak-balik antara Rabbku dan Nabi Muusaa, sehingga Allah berfirman: “Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardhukan lima waktu sehari semalam. Setiap shalat fardhu dilipatgandakan dengan pahala sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh shalat fardhu. Begitu juga barangsiapa yang berniat untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barangsiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya”. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Muusaa, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih saja berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, mintalah keringanan”. Aku menjawab, “Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Rabbku, sehingga menyebabkanku malu kepada-Nya’.”
Imam At-Tirmidziy meriwayatkan dari jalan Qataadah dari Anas bin Maalik, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika di Isra`kan, beliau diberi Buraq yang lengkap dengan tali (kendali) dan pelana, tetapi ia mempersulit beliau (tidak mau ditunggangi) lalu Jibril berkata padanya: “Patutkah kamu lakukan ini pada Muhammad? padahal belum ada yang menunggangimu yang paling mulia disisi Allah selain Muhammad?” Beliau bersabda: “Lantas mengalirlah keringatnya (karena takut).” [HR Tirmidziy no. 3056, beliau berkata hasan gharib. Diriwayatkan pula oleh Ahmad no. 12211].
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu An-Nadhr, telah menceritakan kepada kami Syaibaan, dari ‘Aashim, dari Zirr bin Hubaisy, ia berkata; “Aku mendatangi Hudzaifah bin Al-Yamaan saat ia bercerita tentang malam isra` Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda: “Kami pergi hingga sampai Baitul Maqdis.” Hudzaifah berkata : “Tapi keduanya tidak masuk”. Aku (Zirr) berkata; “Tapi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam memasukinya di malam itu dan shalat di dalamnya”. Hudzaifah bin Al-Yamaan bertanya; “Siapa namamu wahai orang yang botak? Aku mengenali wajahmu tapi aku tidak kenal namamu”. Aku menjawab: “Aku Zirr bin Hubaisy”. Berkata Hudzaifah bin Al Yamaan: “Apa dalilmu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam shalat di masjid itu dimalam itu?”. Aku menjawab: “Al Quran memberitahukan hal itu padaku”. Berkata Hudzaifah bin Al-Yamaan: “Barangsiapa berbicara dengan Al Quran maka ia beruntung, bacalah!” Lalu aku membaca: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram.” (QS Al-Israa` : 1). Berkata Hudzaifah bin Al-Yaman: “Wahai orang yang botak! Apa kau menemukan (dalam dalil itu) bahwa beliau shalat di dalamnya?” Aku menjawab: “Tidak.” Ia berkata; “Demi Allah beliau tidak shalat di dalamnya pada malam itu, andai beliau shalat di dalamnya pastilah diwajibkan atas kalian untuk shalat ditempat itu seperti halnya diwajibkan untuk shalat di Baitul ‘Atiiq (masjidil haram), demi Allah keduanya tetap bersama Buraq hingga dibukakan baginya pintu-pintu langit, keduanya melihat surga dan neraka serta janji akhirat seluruhnya, kemudian keduanya kembali ditempat semula,” lalu Hudzaifah tertawa hingga aku melihat gigi gerahamnya, ia mengatakan: “Mereka bercerita bahwa Jibril mengikatnya (Buraq) agar tidak lari tapi Allah yang mengetahui alam gaib dan nyata menundukkannya untuk beliau (Rasulullah).” Aku bertanya: “Hai Abu ‘Abdillah! Hewan apakah Buraq itu?” Hudzaifah menjawab: “Hewan putih dan panjang seperti ini, langkahnya sejauh mata memandang.” [HR Ahmad no. 22197].
Tentang hadits Imam Ahmad ini, Al-Haafizh Ibnu Katsiir berkata, pendapat yang dikemukakan oleh Hudzaifah ini bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh sahabat lainnya dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam yang mengatakan bahwa Buraq ditambatkan di halqah (tempat berbentuk lingkaran) dan bahwa Rasulullah melakukan shalat di Baitul Maqdis seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Oleh karena itu, keterangan sebelumnya lebih didahulukan daripada pendapat Hudzaifah ini. Wallahu a’lam.
Imam Al-Bukhaariy meriwayatkan, Ibnu Syihaab Az-Zuhriy berkata, Ibnu Hazm mengkhabarkan kepadaku bahwa Ibnu ‘Abbaas dan Abu Habbaah Al-Anshaariy (‘Amiir bin ‘Amr) keduanya berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemudian aku diMikrajkan hingga sampai ke suatu tempat yang disitu aku dapat mendengar suara pena (qalam) yang menulis”. Berkata Ibnu Hazm dan Anas bin Maalik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla memfardhukan kepadaku lima puluh kali shalat (matan selanjutnya sama seperti hadits Malik bin Sha’sha’ah). Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga, terlihat kubahnya terbuat dari mutiara dan tanahnya dari misik”. [HR Al-Bukhaariy no. 3094].
Imam Abu Daawud meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mushaffaa, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah dan Abul Mughiirah, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Shafwaan, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Raasyid bin Sa’d dan ‘Abdurrahman bin Jubair, dari Anas bin Maalik, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku dinaikkan ke langit (diMikrajkan), aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka.” [HR Abu Daawud no. 4235. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad no. 12861].
Imam Ibnu Maajah meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Muusaa, dari Hammaad bin Salamah, dari ‘Aliy bin Zaid, dari Abu Ash-Shalt, dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Pada malam Isra Mikraj aku mendatangi suatu kaum, perut mereka seperti rumah-rumah yang dihuni oleh ular dan dapat dilihat dari luar perut-perut mereka. Aku pun bertanya: “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” ia menjawab, “Mereka adalah pemakan riba.” [HR Ibnu Maajah no. 2264].
Imam An-Nasaa’iy meriwayatkan, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Harb, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’aadz bin Khaalid, dia berkata, telah memberitakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Sulaimaan At Taimiy, dari Tsaabit, dari Anas bin Maalik, Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Pada malam Isra Mikraj aku datang kepada Muusaa ‘Alaihissalam di bukit pasir merah, dan dia sedang shalat di atas kuburannya.” [HR An-Nasaa’iy no. 1613 dan ini lafazhnya, diriwayatkan pula oleh Muslim no. 4379 & Ahmad no. 12046].
Imam Ahmad mengetengahkan sebuah riwayat, telah menceritakan kepada kami Abu An-Nadhr, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Thalhah, dari Al-Waliid bin Qais, dari Ishaaq bin Abu Al-Kahtalah, Muhammad berkata, aku kira dari Ibnu Mas’uud bahwa ia berkata; “Sesungguhnya Muhammad tidak melihat Jibril dalam wujud aslinya kecuali dua kali, pertama karena beliau meminta untuk memperlihatkan dirinya dalam wujud asli, ia pun menampakkan wujud aslinya yang menutup seluruh ufuk, sedang kesempatan lain beliau naik bersamanya ketika beliau Mikraj.”
FirmanNya : “Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.” [QS An-Najm : 7-10]. Ibnu Mas’uud berkata : “Tatkala Jibril mengetahui Rabbnya, ia kembali kepada wujud aslinya dan bersujud.”
Sedangkan firmanNya : Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. [QS An-Najm : 13-18]. Ibnu Mas’uud berkata : “(yang dimaksudkan) adalah penciptaan Jibril ‘Alaihissalam.” [HR Ahmad no. 3670].

Hadits Ummu Hani’:

Dari Muhammad bin Ishaq dari Ummu Hani’ binti Abi Thalib ra yang dpanggil Hindun bercerita tentang peristiwa Isra Rasul saw, tidaklah Rasulullah saw melakukan isra’ kecuali saat itu berada di rumahku, malam itu beliau tidur di rumahku,beliau shalat Isya kemudian tidur, dan kami juga tidur.

Menjelang subuh beliau membangunkan kami dan kami shalat besama beliau, kemudian

Beliau bersabda: “Hai Ummu Hani “sungguh saya telah shalat isya bersama kalian seperti yang kamu lihat di lembah ini, kemudian aku datang di Baitul Maqdis, maka aku shalat di dalamnya, kemudian aku shalat subuh bersama kalian sebagaimana yang kamu lihat.”

Kemudian beliau berdiri akan keluar, maka beliau mengambil ujung selendangnya, maka tampaklah perut beliau seakan-akan kosong karena lapar, kemudian

saya berkata: “Wahai Nabi Allah Anda jangan bercerita hal ini kepada manusia karena akan mendustakanmu dan menyakitimu,”

Beliau berkata : “Demi Allah akan saya ceritakan kepada mereka.”

Ia berkata : “saya katakan kepada pembantuku wanita Habsyi : ikutilah Rasulullah saw sampai kamu apa yang dikatakan kepada orang-orang dan apa yang dikatakan orang-orang kepada beliau.”

Maka ketika Rasulullah saw keluar rumah untuk mengabarkan kepada orang-orang ta’jublah mereka, dan mereka berkata: “kalau begitu apa tanda buktinya kamu sampai di sana hai Muhammad ?”

Maka sungguh kami tidak hanya mendengar seperti ini saja beliau berkata: “ Buktinya aku melewati unta Bani Fulan di lembah ini dan ini maka kendaraanku telah membuat rasa takut pada unta mereka hingga salah satunya lari menghilang kemudian aku tunjukkan kepada pemiliknya akan unta mereka, katika itu aku menuju ke Syam, maka diterimalah bukti beliau, hingga ketika aku melewati 2 buah ember pada unta Bani Fulan aku mendapati kaum itu sedang tidur, dan mereka punya panci yang didalamnya ada air yang telah ditutup dengan sebuah tutup maka aku buka tutupnya dan aku meminumnya kemudian saya tutup kembali seperti semula

Dan bukti itu bahwa unta mereka 2, sekarang unta yang putih menjadi liar dan unta berwarna hitam jinak. Ia berkata maka gemparlah orang-orang, karena tidak menemukan salah satu untanya, seperti yang dijelaskan kepada mereka dan mereka bertanya tentang panci yang mereka letakkan berisi air penuh, kemudian menutupinya

Dan bahwasanya pemilik panci dengan tertutup ketika mereka menemukan panci tertutup itu tidak menemukan air. Mereka bertanya orang lain yang berada di Mekkah dan berkata: benarlah Allah, ia telah melewati lembah yang disebutkan olehnya dan kita ditunjukkan unta maka kita mendengar suara seorang pria memanggil kita, hingga unta itu telah kita ambil.

Aku berkata kepada Jibriel, Hai Jibril suruhlah agar mengembalikan ke tempat itu. Dia berkata bahwa dia menyuruhnya maka ia berkata padanya: kembalilah, maka kembalilah ke tempatnya dimana ia keluar. Sama kembalinya kecuali yang ada dibawah, hanya bayangan. Hingga jika masuk dari tempat keluarnya mengembalikan tutupnya.

Abu Sa’id Al Khudzri mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: ketika aku masuk ke langit dunia, dan membuka pintunya aku lihat seorang yang duduk melihat ruh-ruh anak Adam, bila melihat ruh yang baik ia berkata ruh yang baik keluar dari tubuh yang baik, melampaui langit ketujuh, di mana Allah SWT berbicara langsung kepada beliau menurut kehendakNya, dan diberi kuwajban shalat lima waktu setiap hari, dimana pada awalnya Allah mewajibkan shalat 50 kali, tapi beliau tidak begitu saja menerima meliankan memohon keringanan hingga jadi 5 kali shalat wajib, tetapi lima puluh pahalanya, karena setiap kebaikan dilipatkan sepuluh kali lipat, terima kasih Tuhan dan terima kasih untuk semua nikmat.
Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang berhubungan dengan peristiwa Isra’ Mikraj seperti yang diriwayatkan dari para Imam yaitu Ibnu Abi Haatim, Ibnu Jariir Ath-Thabariy, Abu Bakr Al-Baihaqiy, Abu Ya’laa Al-Maushiliy, Al-Bazzaar, Ath-Thabaraaniy dan lain-lain yang kesemua riwayat-riwayat tersebut walaupun berbeda-beda lafazh (ada yang panjang dan ada yang singkat) dan berbeda-beda tingkat keshahihannya namun keseluruhannya saling mendukung dan saling menguatkan. Oleh karena itu, kita cukupkan riwayat-riwayatnya hanya dari kitab-kitab hadits yang 7 saja.

Sedangkan Imam Turmuzi meriwayatkan hadits isra’ dan Mikraj dari Saddad bin Aus yang juga menceritakan tentang kendaraan Nabi yang disebut Buraq, dan tentang Nabi shalat di Bayt Lahm. Menurut Imam Ibnu Kasir, tentang Nabi melaksanakan shalat di Bayt Lahm adalah hadits munkar.
Cukup banyak riwayat hadits tentang isra’ dan Mikraj, namun hadits yang menurut Syekh al-Albani adalah tidak sah adalah yang memuat hal-hal sebagai berikut:
1. Shalat sebelum isra Mikraj
2. Isra dengan pakaian mutiara dan pelana emas
3. Shalat di tempat didirikannya Masjid Damaskus
4. Nabi-nabi yang meninggal shalat selama empat puluh hari di kuburnya
5. Jibril berisyarat dengan jarinya sehingga terbelahlah batu
6. Tiang-tiang putih seperti permata untuk al-Kitab
7. Gambaran azab orang yang disiksa di neraka yang diperlihatkan kepada rasul saat Mikraj, azab bagi pemakan riba, azab bagi pezina, pengumpat, dan pencela, azab bagi pencaci makan
8. Adanya tulisan di bawah Arsy tentang Ali bin Abi Thallib
9. Adanya tulisan di pintu surga
10. Fathimah berasal dari buah pohon surga
11. Asal-usul mawar
12. Jibril mengimami Rasulullah ketika shalat.

Sumber Tulisan :

Tafsir QS Al Israa Ayat 1 Peristiwa Isra Miraj, https://muhandisun.wordpress.com/2013/05/16/tafsir-qs-al-israa-ayat-1-peristiwa-isra-miraj/
Nur Kholis, S. Ag., M. Sh. Ec , Isra Mi’raj Dalam khazanah Hadits Nabi SAW, http://alislamiyah.uii.ac.id/2013/02/06/isra-dan-miraj-dalam-khazanah-hadits-nabi-saw/
Konsultasi Syariah,”Kisah Isra Miraj”, http://www.konsultasisyariah.com/kisah-isra-miraj/

Atmonadi.com