Tag

, , ,

image

Apa yang dilakukan pemadam kebakaran saat melihat api besar melahap sebuah bangunan? Mereka akan mengeluarkan pips penyedot air dan menyemprotkannya ke api yang besar tersebut. Kenapa harus air, bukan tanah, batu, pasir, semen dan sebagainya? Sebab, air adalah-unsur yang bisa mengalahkan api. Dengan kata lain, api (sebesar apapun) bisa padam ketika disiram dengan air.

Fakta alam ini telah dijelaskan oleh Nabi saw yang menjelaskan bahwa besi bisa dikalahkan oleh api, sedangkan api bisa kalah dengan air. Dengan kata lain, unsur alam air jauh lebih kuat dibandingkan api.

Di samping itu, air memang mudah didapatkan. Hampir tiap rumah memiliki sumber mata air baik berupa sumur, PAM, atau kran. Bah¬kan, ada beberapa rumah yang di sampingnya memiliki kolam atau balong (lubang besar berisi air). Singkatnya, api tidak akan mungkin bisa hidup ketika sudah disemprotkar/disiram air. Tapi, ini aneh. Kok aneh? Pasalnya, ada api yang justru bisa hidup dan bertahan di dalam laut yang otomatis merupakan benda cair. Bagaimana bisa api yang besar dan kuat bisa ada di dalam laut? Inilah raha¬sia Allah yang Maha Kuasa. Dan ternyata, fakta ini telah dijelaskan oleh al-Qur’an dan Nabi-Nya empat belas abad yang lalu. Bayangkan!

Dalam al-Qur’an, Allah berfirman, “Demi bukit. Dan Kitab yang ditulis. Pada lembaran yang terbuka. Dan Demi Baitul Makinur (Ka’bah). Dan demi surga langit yang ditinggikan. Dan Demi laut, yang di dalam tanahnya ada api.” (QS. At-Thur: 1-6).

Nabi saw bersabda: ”Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan.

Kedua dalil di atas setidaknya menegaskan kepada kita bahwa ada api dalam lautan. Dalam al-Qur’an sendiri, api dalam laut tersebut ditulis dengan istilah al-bahrul masjur. Saat ayat al-Qur’an tersebut diturunkan, bangsa Arab tidak mampu menangkap dan memahami isyarat sumpah Allah swt demi lautan yang di dalam tanahnya ada api ini. Karena bangsa Arab (kala itu) hanya mengenal makna “sajara ” untuk menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih. Sehingga dalam persepsi mereka, panas dan air adalah sesuatu yang bertentangan. Air mematikan panas sedangkan panas itu menguapkan air.

Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang kuat tanpa ada yang rusak salah satunya?

Kini, semuanya telah terungkap bahwa ada api dalam lautan itu bukan peristiwa yang mengada-ada, tapi fakta yang terjadi sekarang di dunia nyata, yakni di dalam lautan yang kita bisa lihat setiap saat. semuanya ini bermula dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh dua ahli geologi berkebangsaan Rusia, Anatol Sbagovich dan Yuri Bagdanov bersama rekannya Ilmuwan Amerika Serikat (AS), Rona Clint, saat bermaksud meneliti tentang kerak bumi dan patahannya di dasar laut.

Para ilmuwan tersebut, menyelam ke dasar laut sedalam 1.750 kilometer di lepas pantai Miami. Sbagovich bersama kedua rekannya menggunakan kapal selam canggih yang kemudian beristirahat di batu karang dasar laut. Di dasar laut itulah, mereka dikejutkan dengan fenomena aliran air yang sangat panas mengalir ke arah retakan batu.
Kemudian aliran air itu disertai dengan semburan lava cair panas menyembur layaknya api di daratan, dan disertai dengan debu vulkanik layaknya asap kebakaran di daratan. Tidak tanggung-tanggung panasnya suhu api vulkanis di dalam air tersebut ternyata mencapai 231 derajat celcius.

Bagaimana api bisa bertahan di dalam. Laut ?

Mereka menemukan fakta bahwa fenomena alam itu terjadi akibat aliran lava vulkanis yang terjadi di dasar laut, layaknya gunung api bila di daratan. Dan kemudian mereka menemukan lebih banyak lagi gunung api aktif di bawah laut, yang tersebar di seluruh lautan. Gunung-gungung tersebut sebagian besar terdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) yang dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar. jaring retak ini dapat merobek lapisan bebatuan bumi dan ia melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari segala arah dan terpusat di dalam dasar samudera dan beberapa lautan. Sedangkan kedalamannya mencapai 65 km. Kedalaman jaring retak ini menembus lapisan bebatuan bumi secara penuh hingga menyentuh lapisan lunak bumi (lapisan bumi ketiga) yang memiliki unsur bebatuan yang sangat elastic, semi cair, dan memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.

Bebatuan lunak ini didorong oleh arus muatan yang panas ke dasar semua samudera dan beberapa lautan semacam Laut Merah dengan suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius. Batuan-batuan elastic yang beratnya mencapai jutaan ton ini mendorong kedua sisi samudera atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian disebut oleh para ilmuwan dengan “fenomena perluasan dasar laut dan samudera.” Dengan terus berlangsungnya proses perluasan ini, maka wilayah-wilayah yang dihasilkan oleh proses perluasan itu pun penuh dengan magma bebatuan yang mampu menimbulkan pendidihan di dasar samudera dan beberapa dasar laut.

image

Lapisan magma dalam bumi.

Namun, salah satu fenomena yang mencengangkan para ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan tiara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera, bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.

Laut Merah, misalnya, merupakan laut terbuka yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut ini pun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar pemilaran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.

Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut. Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam barang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorang pun yang berapi mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan demikian, sudah terbukli nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan.

Kemudian terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah swt dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi. Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi. Di dalam lapisan lunak bumi clan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi.

Dari sini tampaklah kehebatan hadits Nabi SAW ini yang menetapkan sejumlah fakta-fakta bumi yang mencengangkan dengan sabda, “Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.” Dan fakta-fakta ini baru terungkap dan baru bisa diketahui oleh umat manusia pada beberapa tahun terakhir.

Pelansiran fakta-fakta ini secara detail dan sangat ilmiah dalam hadits Rasulullah saw menjadi bukti tersendiri akan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw, sekaligus membuktikan bahwa ia selalu terhubung dengan wahyu langit dan diberitahu oleh Allah Sang Maha Pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah yang menyatakan, ”Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). ” (QS. An-Najm ayat 3-10)

Tidak seorang pun di muka bumi ini yang mengetahui fakta-fakta ini kecuali baru pada beberapa dekade terakhir. Sehingga lontaran fakta ini dalam hadis Rasulullah saw benar-benar merupakan kemukjizatan dan saksi yang menegaskan kenabian Muhammad saw dan kesempurnaan kerasulannya.

Secara ilmu pengetahuan mungkin fenomena ini dapat diterang seperti dibawah

Wallahu a’lam.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.