Tag

image

TAFSIR AYAT AL-QUR’AN TENTANG AL-QUR’AN.

Disusun oleh: Ariefta Hudi Fahmi, dkk.
Editor: Muhammad Kahfi al-Banna

A. Teks Ayat dan Terjemahnya
1. Al-Baqarah ayat 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.[1]

2. Al-Isra ayat 9 dan 82
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Artinya: Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.[2]

وَنُنزلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا
Artinya: Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.[3]

3. Fathir ayat 32
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Artinya: Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

B. Asbab An-Nuzul
Mengenai ayat-ayat tersebut kami tidak menemukan asbab an-nuzulnya.

C. Tafsir Ayat-Ayat Di atas
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, bahwa QS. Al-Baqarah ayat 185 ini menjelaskan tentang kemuliaan bulan ramadhan karena turunnya kitab samawiah kepada para Nabi. Dalam tafsirnya Ibnu Katsir menukil dari Imam Ahmad mengenai penjelasan wahyu-wahyu yang turun pada bulan Ramadhan, seperti Suhuf yang turun pada awal malam Ramadhan kepada Nabi Ibrahim AS. dan kitab-kitab lainnya yang senada dengan itu diturunkan di bulan Ramadhan. Perbedaan yang tampak dengan al-Qur’an dalam hal ini adalah bahwa penurunan kitab samawiyah selain al-Qur’an diturunkan secara serentak, sedangkan al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada manusia. Namun yang menjadi catatan bahwa permulaannya turun pada bulan Ramadhan.
Dalam ayat ini fungsi al-Qur’an tercantum dalam kata, هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ yang mengandung urgensi bahwa al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan bagi petunjuk itu serta menjadi pemisah antara kebenaran dan kebathilan. Secara terperincinya dijelaskan dalam Ibnu Katsir bahwa lafadz هُدًى memiliki arti sebagai petunjuk bagi hati manusia. Adapun kata وَبَيِّنَاتٍ menjelaskan bahwa al-Qur’an bisa menjadi hujjah dan penjelasan bagi orang yang memahaminya serta mempelajarinya. Serta lafadz وَالْفُرْقَانِ menjelaskan fungsi al-Qur’an sebagai pemisah mana yang halal dan haram.
Dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa bulan ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu barang siapa diantara kamu yang ada pada bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa) maka( wajib mengantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan padamu, agar kamu bersyukur.
Beberapa hari yang ditentukan, yakni dua puluh Sembilan atau tiga puluh hari selama bulan ramadhan. Bulan tersebut dipilih karena ia adalah bulan yang mulia. Bulan yang didalamnya diturunkan permulaan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk serta pembeda antara yang haq dan yang bathil.
Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, menyangkut tuntutan yang berkaitan dengan akidah, dan penjelasan-penjelasan hukum syari’at. Atau bisa juga dikatakan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dalam arti bahwa al-Qur’an adalah kitab yang Maha Agung, sehingga ia merupakan petunjuk. Misalnya dalam ayat diatas al-Qur’an tidak berhenti dalam memerintahkan atau mewajibkan manusia untuk berpuasa tetapi juga menjelaskan rincian mengenai menerapkannya disertai dengan hukum dan petunjuk melaksanakannya.
Penegasan bahwa al-Qur’an yang diturunkan pada bulan ramadhan merupakan isyarat bahwa sangat dianjurkan untuk membaca dan mempelajari al-Qur’an selama bulan ramadhan. Dan yang membacanya diharapkan dapat memperoleh petunjuk serta memahami dan menerapkan petupenjelasan-penjelsannya. Karena, dengan membaca al-Qur’an maka yang membacanya ketika itu menyiapkan hatinya untuk menerima petunjuk ilahi (berkat makanan ruhani dan bukan makanan jasmani-yang memenuhi kalbunya) bahkan jiwanya akan sedemikian cerah, pikirannya begitu jernih, sehingga ia akan memperoleh kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang bathil.[4]
Adapun mengenai QS. Al-Isra ayat 9 dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa fungsi al-Qur’an ini adalah sebagai وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ, yakni sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepadanya.
Mengenai QS. Al-Isra ayat 82, dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa al-Qur’an berfungsi sebagai هُوَشِفَاءٌ ,yakni obat. Adapun maksud obat disini dalam tafsirnya Ibnu Katsir menjelaskan bahwa al-Qur’an bisa mengobati berbagai penyakit pada hati manusia seperti keraguan dan kemunafikan serta syirik. Adapun fungsinya sebagai رَحْمَةٌ, dijelaskan bahwa dengan al-Qur’an lah iman, hikmah dan kebaikan itu diraih. Sedangkan bagi orang kafir yang ada hanya pembohongan setelah mendengarkan al-Qur’an.
Dalam tafsir Al-Misbah QS.Al-Isra ayat 9 dijelaskan bahwa setelah terbukti bahwa kitab suci yang dianugerahkan Allah SWT. kepada Nabi Musa AS. benar-benar merupakan kitab petunjuk bagi Bani Israil lagi mengandung kebenaran antara lain dalam hal janji serta ancamannya, maka kini dijelaskan tentang kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Ayat di atas menyatakan bahwa: Sesungguhnya al-Qur’an ini memberi petunjuk untuk manusia ke jalan yang lebih lurus dan sempurna lagi menyelamatkan dan memberi juga kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lagi membuktikan keimanannya itu senantiasa mengerjakan amal-amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar sebagai imbalan iman dan apa yang diamalkannya itu.
Firman-Nya: (هَذَا الْقُرْآَنَ) ini, menunjuk kepada kitab suci umat Nabi Muhammad SAW. dengan isyarat dekat, yakni kata (هَذَا). Memang ditemukan semua ayat yang menunjuk kepada firman-firman Allah dengan nama al-Qur’an (bukan al-Kitab) ditunjuk dengan isyarat dekat, sepeti ayat diatas. Di tempat lain seperti pada awal surat al-Baqarah, isyarat yang digunakan untuk menunjuk kitab suci yang dinamai dengan al-Kitab (bukan al-Qur’an) ditunjuk dengan isyarat jauh ذَلِكَ pada ayat (ذَلِكَ الْكِتَابُ). Penggunaan isyarat jauh bertujuan memberi kesan bahwa kitab suci yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. itu berada dalam kedudukan yang amat tinggi, dan sangat jauh dari jangkauan makhluk, karena ia bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi, sedang penggunaan kata (هَذَا), pada ayat di atas dan semacamnya adalah untuk menunjukkan betapa dekat tuntunan-tuntunannya pada fitrah manusia, serta sesuai dengan jati dirinya sehingga ia benar-benar dekat kepada setiap insan.
Kata أَقْوَمُ aqwam adalah bentuk superlatif dari kata qawiim, yakni lurus lagi sempurna memenuhi apa yang diharapkan darinya. Kata ini pada mulanya merupakan antonim kata duduk. Dengan berdiri, manusia dapat melakukan banyak hal, jauh lebih mudah daripada kalau dia duduk atau berbaring. Dari sini kata tersebut digunakan untuk makna melakukan sesuatu sebaik dan sesempurna mungkin. Dengan demikian aqwam dapat diartikan lebih lurus, lebih baik atau yang paling baik dan yang paling sempurna. Bahwa al-Qur’an bersifat aqwam antara lain disebabkan karena redaksinya yang demikian sempurna dan jelas serta kandungannya sesuai dengan fitrah manusia sehingga dengan mudah dapat dipahami dan diamalkan. Kitab suci itu menempuh aneka cara untuk menyakinkan mitra bicaranya, sehingga jika cara ini belum mempan, maka masih ada sekian banyak cara lain yang ditempuhnya, paling tidak salah satu diantaranya akan mengena. Dengan demikian, jika memahami kata aqwam dalam arti lebih lurus/ lebih sempurna, maka itu bukan pada substansi kandungan yang disampaikannya, karena haq yang disampaikan oleh Kitab Taurat pun sempurna. Yang dimaksud dengan lebih sempurna dari hidayah kitab Taurat adalah pada metode, cara, dan gaya-gaya penyampaiannya yang lebih menyentuh akal dan jiwa, serta dapat dipahami oleh orang kebanyakan atau cendekiawan.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan (sedangkan) kami telah menurunkan al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ia tidaklah manambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.
Ayat ini (QS. Al-Isra ayat 82) dapat dinilai berhubungan langsung dengan ayat-ayat sebelumnya dengan memahami huruf wauw yang biasa diterjemahkan dan pada awal ayat ini dalam arti wauw al-hal yang terjemahannya adalah sedangkan. Jika ia dipahami demikian, maka ayat ini seakan-akan menyatakan: “Dan bagaimana kebenaran itu tidak akan menjadi kuat dan batil tidak akan lenyap, sedangkan kami telah menurunkan al-Qur’an sebagai obat penawar keraguan dan penyakit-penyakit yang ada didalam dada dan al-Qur’an juga adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ia, yakni al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian disebabkan oleh kekufuran mereka.”
Kata شِفَاءٌ biasa diartikan kesembuhan atau obat, dan digunakan juga dalam arti keterbebasan dari kekurangan, atau ketiadaan aral dalam memperoleh manfaat.
Ketika menafsirkan QS. Yunus [10]: 57, Quraish Syihab antara lain menafsirkan bahwa sementara ulama memahami bahwa ayat-ayat al-Qur’an dapat juga menyembuhkan penyakit-penyakit jasmani. Mereka merujuk kepada sekian riwayat yang diperselisihkan nilai dan maknanya, antara lain riwayat oleh Ibn Mardawih melalui shahabat Nabi SAW., Ibn Mas’ud RA.[5]

D. Analisa Ayat (Al-Baqarah 185, Al-Isra 9 dan 82)
Sebagaimana telah dipaparkan tafsir ayat Al-Baqarah 185, Al-Isra 9 dan 82 menurut tafsir Ibnu Katsir dan tafsir Al-Misbah, bahwa ketiga ayat diatas menjelaskan mengenai fungsi-fungsi al-Qur’an antara lain :
1. Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia
2. Penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
3. Pemisah mana yang halal dan haram
4. Sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepadanya
5. Memberi petunjuk untuk manusia ke jalan yang lebih lurus dan sempurna lagi menyelamatkan
6. Mengobati berbagai penyakit pada hati manusia
7. Sebagai rahmat.
Mengenai QS. Fathir ayat 32, dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa pengimanan terhadap Al-Qur’an ini melahirkan tiga golongan, yakni yang pertama adalah ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ yang meninggalkan kewajiban dan melaksanakan hal-hal yang haram. Yang kedua, adalah golongan مُقْتَصِدٌ, yakni yang melaksanakan kewajiban dan menjauhi yang haram, tapi di satu sisi ia juga menjalankan keharaman, golongan ini bisa dikatakan sebagai gologan pertengahan. Adapun golongan yang terakhir adalah golongan, yakni,سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ yang melaksanakan kewajiban dan menjauhi keharaman dan hal-hal yang berbaur makruh.
Mengenai status keimanan dan nasib ketiga golongan tersebut dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang pertama, orang yang membenarkan dan menerima jelas mereka akan masuk surga tanpa hisab. Adapun golongan yang ragu-ragu menurut pendapat Ibnu Abas, bahwa mereka masuk surganya dengan rahmat Allah, dalam pendapat lain mereka masuk surga dengan hisab yang ringan. Sedangkan golongan terakhir menurut Ibnu Abas akan masuk surga dengan syafaat Nabi Muhammad SAW dan ampunan dari Allah.
Mengenai pendapat tentang orang yang dzalim ini masih menjadi perdebatan ahli tafsir, ada yang mengatakan bahwa dzalim disini masih masuk kategori umat Muhammad dan ada pula yang mengatakan bahwa orang yang dzalim tersebut adalah kafir. Namun dari berbagai pendapat, pemakalah lebih cenderung bahwa ketiga golongan tersebut masih masuk ke dalam golongan umat dan tidak masuk kedalam kafir.
Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.
QS. Fathir ayat 32, dalam tafsir Al-Misbah dikatakan bahwa setelah ayat yang lalu menguraikan tentang wahyu-wahyu yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. dalam hal ini al-Kitab yakni al-Qur’an, kini diuraikan tentang mereka yang diwariskan kepadanya pesan kitab suci itu. Ayat di atas menyatakan: Kemudian setelah Kami wahyukan kepadamu–wahai Nabi Muhammad pesan-pesan Kami yang kemudian terkumpul dalam satu kitab, Kami wariskan kitab itu kepada orang-orang yang sungguh-sungguh telah Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya dirinya sendiri, karena kurang atau tidak memberi perhatian yang cukup terhadap pesan kitab suci itu dan di antara mereka ada yang pertengahan yakni bersikap moderat, walau tidak mengabaikannya sama sekali tetapi tidak juga berada pada puncak yang diharapkan dan di antara mereka ada berbuat kebajikan. Itu terlaksana dengan ijin Allah. Itulah dia bukan selainnya yakni kesegeraan melakukan kebaikan atau pewarisan kitab suci merupakan karunia yang amat besar.
Ada yang berpendapat bahwa ayat ini berbicara menyangkut tiga kelompok manusia seperti yang dibicarakan dalam QS. Al-Waqi’ah [56]: 7 yaitu Ashabul Maimanah, Ashabul Masy’amah dan as-Sabiqun. Dua antara mereka masuk ke surga dan satu ke neraka.
Tetapi jika kata ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ dipersamakan dengan Ashabul Masy’amah, maka apakah ada di antara yang dipilih Allah itu yang masuk ke neraka. Padahal kata اصْطَفَي berarti mengambil dari sesuatu. Ia lebih istimewa daripada kata ikhtara yang berarti memilih yang baik karena isthafa adalah memilih yang terbaik dari hasil pilihan yang baik itu.
Selanjutnya kata عِبَاد (‘ibadihi) biasanya digunakan al-Qur’an bermakna hamba-hamba Allah yang taat atau yang telah menyadari dosa-dosanya, berbeda dengan kata عبيد yang digunakannya menunjuk hamba-hamba Allah yang bergelimang dalam dosa serta enggan bertaubat. Selanjutnya kalau penggalan awal ayat mengesankan bahwa mereka adalah pilihan Allah, maka lanjutan ayat menegaskan bahwa mereka adalah penghuni surga yang dihiasi dengan aneka hiasan. Itu anatara lain alasan yang berpendapat bahwa ayat ini berbicara tentang peringkat penghuni surga.
Sekian banyak juga riwayat yang mendukung pendapat yang menyatakan bahwa kendati seseorang yang dipilih itu dinamai oleh ayat ini ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ , tetapi itu tidaklah berarti ia akan terjerumus ke neraka. Ada riwayat menguraikan bahwa Umar ra. Membacanya lalu berkata: “Yang zhalim diantara kita diampuni Allah.” sahabat-sahabat Nabi saw yang lain seperti Utsman Ibn Affan, Abu Darda, Ibn Mas’ud, ‘Uqbah ibn ‘Amr, serta istri Nabi saw ‘Aisyah ra kesemuanya berpendapat bahwa yang zhalim linafsihi juga merupakan penghuni surga.
Kata مُقْتَصِدٌ, terambil dari kata al-qashd yakni pertengahan. Al-Muqtashid adalah seorang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan pertengahan/ moderat.
Kata سَابِقٌ, terambil dari kata as-sabq yakni berlomba. Kata sabiq adalah seseorang yang mencapai batas yang dituju mendahului selainnya.
Kata لْخَيْرَاتِ adalah bentuk jamak dari kata khair yakni kebajikan. Kata ini mengisyaratkan bahwa ketiga kelompok yang disebut disini kesemuanya mendambakan al-khairat, hanya saja ada yang muqtashid dalam kebajikan itu, ada juga yang dzalimun li nafsih/ menganiaya dirinya dalam hal kebajikan, sehingga tidak melaksanakannya dengan bersungguh-sungguh atau baik.[6]

E. Analisa Ayat (Fathir ayat 32)
Penafsiran ayat 32 surat Fathir, baik dalam tafsir Ibnu Katsir dan tafsir Al-Misbah memiliki kesamaan yaitu ketiga golongan tersebut akan masuk surga. Dalam tafsir ibnu Katsir dijelaskan cara masuk surga untuk ketiga golongan tersebut, sedangkan dalam tafsir Al-Mishbah dijelaskan bahwa penyebutan awal dzalimun linafsihi mengisyaratkan penghuni surga yang terjauh darinya. Sedangkan muqtasid dan sabiqun bil khairat berada di tengah surga sedang yang zhalim berada di pinggirannya.

F. Analisa Kontekstualisasi
Ayat yang kami gunakan sebagai analisa kontekstualisinya adalah ayat yang salah satu fungsinya sebagai Syifa/ penyembuh. Karena di masyarakat luas ada yang memahami QS.Al-Isra ayat 82 selain sebagai penyambuh ruhani juga sebagai penyembuh jasmani. Sebagaimana fenomena yang terjadi di Demak–studi Living Qur’an di Kabupaten Demak yang dilakukan oleh Aida Hidayah yang termuat dalam skripsinya.
Al-Qur’an menyatakan bahwa di dalam dirinya terdapat obat/penawar bagi penyakit yang dialami manusia. Dalam hal ini, Allah menggunakan kata syifa. Adapun dalam al-Qur’an kata tersebut terdapat dalam ayat QS. Al-Isra ayat 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan (sedangkan) kami telah menurunkan al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ia tidaklah manambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.
Dan beberapa ayat-ayat lainnya (QS. Yunus [10]: 57, Fussilat [41]: 44, An-Nahl [16]: 69.). Para ulama berbeda-beda dalam memberikan pendapatnya mengenai konsep al-Qur’an sebagai asy-Syifa. Sebagian ulama memahami bahwa ayat-ayat al-Qur’an dapat juga menyembuhkan penyakit penyakit jasmani. Diantaranya Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah dengan merujuk pada hadis tentang ruqyah.
Sependapat dengan Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, ‘Aidh al-Qarni menyebutkan bahwa kata syifa selain bermakna pembersih hati dari setiap penyakit, seperti penyakit kekufuran, kemunafikan, keragu-raguan, syahwat, kegemaran berzina, dan berbagai macam kekejian, juga bisa menyembuhkan fisik dari berbagai penyakit dengan cara membacakannya kepada si sakit.[7]
Di tengah-tengah masyarakat Demak, pengobatan dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk penyakit jasmani sering dipraktikan. Variasi penggunaan ayat-ayat al-Qur’an untuk pengobatan jasmani, yaitu sebagai berikut.
1. Membacakannya pada air minum
2. Membacanya sebagai wiridan
3. Menuliskannya pada bagian tubuh yang sakit
4. Menjadikannya sebagai kendit
5. Menjadikannya sebagai kalung, dan lain-lainnya.
Walaupun sering dipraktikkan, ternyata metode pengobatan ini hanyalah sekedar metode alternatif yang ditempuh ketika pengobatan medis tidak berhasil. Kepercayaan masyarakat terhadap hal semacam ini terbentuk karena pengaruh dari kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh masyarakat. Ada persamaan prinsip dasar dari keduanya (baca: pengobatan dengan al-Qur’an dan kegiatan keagamaan yan dilaksanakan di Demak). Persamaan prinsip tersebut adalah kepercayaan bahwa teks-teks agama adalah sesuatu yang sakral yang bisa memepengaruhi kehidupan manusia, baik ruhani maupun jasmani.[8]

Kesimpulan
Al-Qur’an memiliki nilai validasi yang tak diragukan lagi. Keontetikannya merupakan suatu hal yang mutlak tanpa adanya peraguan yang perlu dipertanyakan. Mengenai fungsi al-Qur’an bahwa sudah sangat jelas hal itu bisa dirasakan secara nyata dalam realita, yang perlu dilakukan hanyalah sejauh mana pengkajian saat ini dilakukan, karena secara fakta al-Qur’an mampu menjadi sebuah petunjuk bagi manusia baik yang bersipat dzahir atau batin.

[1] Quraish Syihab, Tafsir Al-Misbah, Kesan, Pesan dan Keserasian (Jakarta : Lentera Hati, 2006), hlm. 403.
[2] Quraish Syihab, Tafsir Al-Misbah, Kesan, Pesan dan Keserasian, hlm. 416.
[3] Quraish Syihab, Tafsir Al-Misbah, Kesan, Pesan dan Keserasian, hlm. 529.
[4] Quraish Syihab, Tafsir Al-Misbah, Kesan, Pesan dan Keserasian, hlm. 403.
[5] Quraish Syihab, Tafsir Al-Misbah, Kesan, Pesan dan Keserasian, hlm. 531.
[6] Quraish Syihab, Tafsir Al-Misbah, Kesan, Pesan dan Keserasian, hlm. 476.
[7] Aida Hidayah, “Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’an sebagai Metode Pengobatan bagi penyakit Jasmani”, Skripsi Fak. Ushuluiddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2011.
[8] Aida Hidayah, “Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’an sebagai Metode Pengobatan bagi penyakit Jasmani”, Skripsi Fak. Ushuluiddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2011. hlm 123.

Sumber: Islamolog Qur’an n Hadis Research.