image

Dikemukakan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abus Syaikh bahwa Allah menurunkan ayat :

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(Q.S. al-Baqarah : 163)

maka pada saat itu berkatalah orang-orang kafir, “Bagaimana Tuhan Satu bisa mendengar sekian banyak manusia?”, maka sebagai jawabannya Allah menurunkan ayat :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Q.S. al-Baqarah : 164)

Orang mungkin sering bertanya, bagaimana kita membuktikan keberadaan Allah padahal Ia tidak pernah kita lihat? Pertanyaan seperti ini terkadang membuat kita bingung dan gelisah, bahkan jika dibiarkan akan membuat kita menjadi ragu-ragu dalam beragama. Karenanya, kita memerlukan argumen untuk membuktikan keberadaan Allah swt, meskipun tidak pernah kita dengar atau kita melihat diri-Nya secara langsung.

Suatu hari datanglah seorang kafir ke hadapan Imam Ali ar-Ridha dan kemudian berkata : “Buktikanlah kepadaku keberadaan Tuhan itu”! Imam Ali ar-Ridha menjawab : “Saat aku memikirkan tentang tubuhku, aku sadar bahwa aku tidak bisa menambahkan sesuatu pada panjang dan lebarnya, atau mengurangi sesuatu daripadanya. Demikian pula, aku tak bisa memilih untuk bahagia atau tidak bahagia (sebagai contoh, bisa saja aku telah berusaha keras untuk sembuh dari sakit, tetapi tetap saja gagal). Dari bukti ini dan juga dari memperhatikan pengaturan matahari, bintang-bintang, planet-planet dan bumi serta keteraturan seluruh alam semesta, aku paham bahwa tubuhku dan alam ini ada pencipta dan pengaturnya Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa.”

Cobalah kamu lempar sebuah batu ke atas, kemudian tunggulah beberapa saat batu pasti akan kembali jatuh ke bawah menuju tanah. Kenapa hal itu terjadi? Kita akan menjawab bahwa batu itu ditarik oleh kekuatan bumi yang kita sebut dengan gravitasi. Kenapa kita yakin bahwa gravitasi itu ada, padahal kita tidak pernah mendengarnya, tidak pernah melihat bentuknya, dan tidak pernah mencium baunya? Jawabnya, kita mengetahui melalui efek yang yang ditimbulkannya, dimana kita mengamati, bahwa setiap benda-benda yang terlepas akan jatuh ke tanah.

Jadi, jika ditelusuri apa yang ada di alam dunia ini pun, akan ditemukan hal-hal yang tidak mampu indera kita menangkapnya. Ini menjadi lebih jelas dengan mengamati tingkatan makhluk yang sering kita pelajari di sekolah, sebagai berikut :

Benda mati. Benda mati ini, sepenuhnya dapat diindera oleh manusia seperti batu, tanah, dan lain-lain.

Tumbuh-tumbuhan. Pada tingkat tumbuh-tumbuhan sudah terdapat hal-hal yang dapat kita indera seperti batang pohon, daunya, akarnya, buahnya, dan lain-lain. Namun, ada juga hal-hal yang tidak dapat kita indera seperti kehidupan yang ada pada tumbuhan, karena tumbuhan termasuk makhluk hidup.

Dunia hewan. Pada hewan juga terdapat hal-hal yang bisa diindera seperti bentuk tubuhnya atau bulunya. Tetapi ada juga yang tidak bisa kita indera seperti kehidupan, naluri, dan cinta kasih pada binatang.

Dunia manusia. Perhatikan dirimu, apa yang engkau lihat. Kamu akan melihat tubuhmu, tanganmu, kepalamu, kakimu, hidungmu, bibirmu, model rambutmu, dan lainnya. Tetapi apakah engkau pernah melihat bentuk atau kekuatan hidup pada dirimu, kesadaran, akal pikiran, takut, atau cinta kasih? Kamu tidak pernah melihatnya, tetapi kamu yakin semua itu ada pada dirimu.

Dengan demikian, jika kita perhatikan, ternyata di alam ini banyak sekali hal-hal yang tidak dapat kita indera, tidak pernah kita lihat, dengar atau rasakan, tetapi kita meyakini keberadaannya dari efek yang ditimbulkannya. Itulah mengapa Allah berfirman di dalam al-Quran,

“Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang tidak kamu lihat” (Q.S. al-Haqqah : 38-39).

Dari sisi lain, para pemikir Muslim menyebutkan ada lima hierarki realitas wujud yang disebut dengan
• al-Hadharat al-Ilahiyah al-Khamis (Lima Kehadiran Ilahi),
• alam nasut (alam materi),
• alam malakut (alam kejiwaan),
• alam jabarut (alam ruh),
• alam lahut (sifat-sifat uluhiyah), dan
• alam hahut (wujud zat ilahi).

Hanya alam yang pertama saja (alam materi) yang mampu dijangkau oleh manusia dengan inderanya, sedangkan empat lainnya termasuk alam gaib yang tidak dapat di indera.

Sekarang, coba kamu perhatikan sebuah komputer. Ia memiliki bagian-bagian hardware dan sofware yang kemudian di susun sehingga jadilah satu unit komputer. Mungkinkah, komputer itu tersusun dan jadi dengan sendirinya tanpa ada yang meyusun atau merakitnya? Jika, satu unit komputer saja harus ada yang membuatnya yang memiliki kecerdasan tinggi, lalu mungkinkah alam yang luas dan rumit ini datang dengan sendirinya tanpa diciptakan oleh suatu kekuatan yang Tinggi? Tentu saja kita jawab : Tidak!, alam ini pasti ada yang menciptakannya.” Itulah yang kita sebut Allah swt. Inilah bukti keberadaan Allah swt.

Ayat di atas juga memberikan bukti kepada kita akan keberadaan dan keesaan Allah swt, dengan memperhatikan enam fenomena :
• Penciptaan langit dan bumi.
• Silih bergantinya malam dan siang.
• Bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia
• Air yang diturunkan dari langit yang dapat menghidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan tersebarnya di bumi itu segala jenis hewan.
• Pengisaran angin.
• Awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.

image

Awan yang dikendalikan diantara langit dan bumi oleh angi.

Keenam fenomena ini merupakan bukti nyata keberadaan dan keesaan Allah. Tetapi sebagaimana ditegaskan oleh ayat tersebut, semua itu hanya bermakna bagi orang-orang yang mau memikirkan.

Benarlah Rasulullah saaw yang bersabda,
“Agama adalah akal, tidak ada agama bagi yang tidak berakal”.

‘Ya allah, karuniailah kami kecerahan hati dan ketajaman akal, untuk senantiasa memperhatikan segala jejak-jejak yang Engkau tinggalkan di alam ciptaan.”

Sumber: Hadi, liputanislam.com