Tag

, , , ,

Allah berfirman dalam Al Quran 7:51

ﻭَﻻَ ﺗُﻔْﺴِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻷَْﺭْﺽِ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺻْﻠَﺎﺣِﻬَﺎ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﻩُ ﺧَﻮْﻓًﺎ ﻭَﻃَﻤَﻌًﺎ ۚ ﺇِﻥَّ ﺭَﺣْﻤَﺖَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺮِﻳﺐٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sampah, terutama limbah plastik dapat merusak lingkungan apa bila tidak dapa didaur ualng. Mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak mungkin tidak terpikirkan bagi beberapa kalangan.

Tetapi Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bekerjasama dengan Tokyo Institute of Technology, Jepang sudah menetapkan target untuk menghasilkan BBM setara solar dari sampah plastik.

Lalu bagaimana proses mengubah sampah menjadi minyak campuran untuk bahan bakar diesel. Berikut penjelasan Guru Besar Fakultas Teknik UGM Prof. Dr.Ing Harwin Saptoadi kepada detikOto:

Konversi sampah plastik menjadi BBM:

1. Semua Jenis limbah plastik

Dalam membuat minyak campuran untuk bahan bakar diesel rupanya tidak perlu memilih jenis plastik apa untuk mendapatkan campuran diesel terbaik.
Soalnya mesin hasil ciptaan UGM bersama Tokyo Institute of Technology, Jepang bisa melahap seluruh jenis sampah plastik.

2. Proses Pirolisis

Setelah mendapatkan limbah sampah, sampah plasik dimasukkan ke dalam mesin pirolisis. Pirolisis sendiri merupakan proses dekomposisi kimia suatu bahan untuk menghasilkan hidrokarbon melalui pemanasan suhu tinggi dengan sedikit oksigen.

3. Sampah dipanaskan

Setelah sampah masuk ke dalam mesin, selanjutnya sampah akan dipanaskan hingga meleleh.

4. Dijadikan gas terlebih dahulu

Saat limbah sampah dipanaskan hingga meleleh, maka sampah plastik ini akan menghasilkan gas.

5. Dikondensasi menjadi minyak

Setelah sampah plastik menjadi gas, gas itu diembunkan melalui proses kondensasi. Sehingga bisa menghasilkan minyak yang bisa menjadi campuran bahan bakar diesel.

Gandeng Jepang, UGM Konversi Sampah Plastik Jadi Solar.

image

Penelitian yang dimulai tahun 2011 dan dipimpin oleh Prof. Dr.Ing Harwin Saptoadi bertujuan untuk memanfaatkan limbah plastik yang tidak bisa terurai menjadi BBM khususnya solar.

“Target kami bisa menghasilkan BBM setara solar untuk menggerakkan mesin diesel,” jelas Prof. Harwin dalam keterangan resminya.

Dari pihak Jepang yang diketuai oleh Prof. Kunio Yoshikawa bersama mahasiswa S3-nya bernama Mochamad Syamsiro telah beberapa kali berkunjung ke UGM untuk mewujudkan riset ini. 

Jepang sebagai negara maju telah cukup berpengalaman mengembangkan teknologi ini, bahkan telah masuk ke skala komersial.

Dengan dibantu oleh beberapa mahasiswa S2-nya, Prof. Harwin telah mencobakan BBM ini pada mesin diesel untuk mengetahui performanya dan hasilnya cukup memuaskan.

Pengujian pada kompor tradisionalpun telah dilakukan untuk aplikasi di masyarakat. Gas yang dihasilkan dari proses ini pun telah coba dimanfaatkan untuk menghidupkan kompor gas.

Teknologi yang dikembangkan ini menyesuaikan kebutuhan yang ada di masyarakat. Untuk skala komunitas kami mengembangkan teknologi yang sederhana dan mudah dibuat serta mudah pengoperasiannya.

Untuk skala besar dikembangkan pula sistem yang terkontrol secara otomatis untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan.

Diharapkan teknologi ini bisa diterapkan di masyarakat khususnya untuk skala kecil dan menengah. Untuk skala besar diharapkan adanya partisipasi aktif dari Pemda yang menjadi pengelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Seperti halnya TPA Piyungan Yogyakarta yang dikelola secara bersama-sama Pemda Kota Yogyakarta, Sleman dan Bantul.
image

Sebelumnya pengembangan teknologi serupa juga sudah dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Bahkan pantauan detikcom di internet, banyak yang menawarkan perangkat teknologi menyulap sampah plastik menjadi solar ataupun premium itu.Salah satunya Danan Eko Cahyono, pemilik perusahaan Santoso Rising.Sebagai penjual alat penyulap sampah mengatakan alat tersebut dibanderol mulai Rp 900 juta – Rp 8miliar.

Terobosan SMK Negeri 3 Kimia Kota Madiun yang berhasil mengubah sampah plastik jadi bahan bakar minyak. 

Selain UGM, Tri Handoko yang merupakan pengajar listrik dasar dan elektrolisis pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN)3 Kota Madiun juga sudah melakukan riset serupa.

Berawal dari kegelisahan Tri Handoko, guru kimia di Sekolah Menengah Kejuruan tersebut melihat timbunan sampah plastik saat baru pulang dari kegiatan mengajar. Ia tercekat, dalam benaknya, sampah plastik yang dibuat dari minyak bumi ini akan menjadi masalah bila tak bisa di daur ulang.
Percobaan demi percobaan dilaluinya. Bersama dengan anak didiknya di SMKN 3 Madiun, Tri tak lelah melakukan uji coba untuk merubah plastik kembali ke asalnya yakni dari minyak (BBM).

image

Menjelang akhir 2010, uji coba Tri mulai membuahkan hasil. Dengan berbekal alat sederhana yakni memanfaatkan bekas tabung gas kemasan 3 kilogram (kg) yang disulap menjadi tempat pembakaran limbah plastik. Nah di ujung tabung itu dilengkapi dengan alat destilasi atau penyulingan sederhana.

Ketika limbah plastik dipanaskan akan meleleh dan menghasilkan uap. Uap inilah yang menjadi bahan bakar setelah sebelumnya didestilasi hingga menjadi cair.

Alat bisa dibangun dari material bekas, disesuaikan kemampuan pembuat dan kapasitas limbah yang akan diolah. Alat yang dipakai bisa berbiaya Rp 650.000 hingga Rp 100 juta, tergantung kebutuhan.

Berikut caranya :
Proses pengolahan limbah plastik menjadi BBM ini melalui beberapa tahapan.

Kepala SMKN 3 Kimia Kota Madiun, Sulaksono Tavip Rijanto menerangkan,
“Pertama melalui pembakaran hingga 600 derajat Celcius, lalu disuling (firolisis) dan penjernihan.Uap hidrokarbon hasil pembakaran inilah yang menjadi minyak yang bisa digunakan untuk bahan bakar,” ucapnya.

Alat pembakaran dibuat dari tabung gas elpiji yang memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) ukuran 3 kilogram. Tabung elpiji dilubangi dan dipasang corong besi dengan cara dilas. Corong ini untuk memasukkan bahan plastik yang dibakar dalam tabung.

Setelah itu, tabung pembakaran dihubungkan dengan pipa penyulingan yang terhubung dengan tabung penadah uap atau hidrokarbon yang mencair jadi minyak. Segala jenis plastik bisa diolah dengan cara ini.

Plastik yang dimasukkan ke dalam tabung dipanaskan dengan gas elpiji sehingga terurai dan uapnya mengendap menjadi minyak.

image

Dari gambar di atas , sampah plastik masuk ke dalam tabung reaksi kemudian dipanaskan sampai plastik – plastik tersebut menguap. Uap Hasil dari proses tersebut kemudian mengalir ke kondensor-1 akan mengalami proses penyulingan menjadi minyak tanah dan solar. Sementara itu, uap yang tidak tersuling di kondensor-1 akan mengalir ke kondensor-2. Lalu uap di dalam kondensor-2 mengalami penyulingan dan menghasilkan premium. Dari percobaan yang telah ada, 1 kg plastik dapat menghasilkan kurang lebih 1 liter BBM.

Satu kilogram plastik bisa menghasilkan sekitar satu liter minyak.

Agar efisien dan bernilai ekonomis, untuk pembakaran plastik selanjutnya menggunakan minyak plastik hasil penyulingan. Proses pembakaran dan penyulingan minyak dari limbah plastik ini ramah lingkungan.

Dalam pembakaran, sama sekali tidak ada asap yang keluar karena setelah disuling, uap ditampung dalam tabung yang tertutup sehingga asapnya tidak membahayakan.

Soal unsur kimia dalam BBM limbah plastik ini ,memang belum diteliti lebih lanjut. Sejauh ini, penelitiannya belum sampai pada unsur yang ada seperti timbal atau Pb (Plumbum) yang terkandung dalam BBM alternatif ini. “Kemungkinan ada karena ini dari minyak bumi juga,” katanya.

Dari percobaaan tambahan diperoleh hasil bahwa bila plastik yang digunakan sebagai bahan baku berasal dari bekas botol minuman mineral, maka hasil minyaknya lebih bagus yakni lebih jernih ketimbang minyak yang berasal dari tas kresek bekas.

Dari hasil ini bisa disimpulkan bahwa semakin jernih dan bersih bentuk limbahnya semakin bagus minyak yang dihasilkan.

Hasil Uji

Hasil uji laboratorium SMKN 3 Kota Madiun menunjukkan, solar limbah plastik menghidupkan mesin pemotong rumput. Premium limbah plastik telah diuji kromatografi gas pada laboratorium PT Sucofindo.

Nilai oktan BBM dari limbah plastik ini masih sekitar 84-85.Sedikit di bawah nilai oktan premium yang berada di angka 87-88 dan agak jauh dari pertamax yang rata-rata 91-92.

image

“Memang kualitasnya masih di bawah premium dan pertamax, tapi kami sempurnakan terus.Dulu hanya bisa untuk membersihkan noda karet lalu berkembang untuk mengoperasikan mesin potong rumput. Sekarang dicoba di mobil yang juga sedang diuji coba,” jelas Tavip.

Saat ditest di sekolah tetangga, BBM limbah plastik diterapkan pada mesin mobil Toyota keluaran tahun 1980-an yang sering dipakai praktik siswa SMKN 1.

Kepala SMK Negeri 1 Kota Madiun Sigit Dewantoro mengatakan BBM dari limbah plastik sudah bisa digunakan pada mini truk Esemka rakitan siswanya. “Namun rpm-nya (rotation perminute) atau putaran mesinnya naik turun, belum bisa stabil. Jadi masih diisikan di mesin praktik saja,”ujarnya.

Bank sampah

Karena kebutuhan sampah plastik yang tinggi, siswa semakin sulit memperoleh sampah plastik. Karena itu, sekarang SMKN 3 ini bekerja sama dengan para pemulung agar bersedia menjual sampah plastiknya ke sekolah. Untuk menampung pasokan sampah plastik, rencananya akan dibuat bank sampah plastik di sekolah.

”Sekolah kami fokus ke upaya menjaga lingkungan dengan mengelola limbah. Sudah jadi tradisi di sini,” kata Tavip.

Untuk mengajak masyarakat mengelola sampah plastik, sekolah yang memiliki Program Keahlian Kimia Analis, Kimia Industri, dan Pengawasan Mutu Pangan itu membuat 15 alat pengolah model terbaru. Sebelumnya, para siswa telah membuat lima model yang terus dimodifikasi dan disempurnakan. Ke-15 alat itu telah dibagikan Gubernur Jatim ke SMK lain di Jawa Timur,

Sumber:

http://indonesiaproud.wordpress.com/
http://www.seputar-indonesia.com
http://www.prioritasnews.com/
http://202.46.15.98/index.php/
http://www.dutaonline.com/
http://www.detik.com
http://santosorising.blogspot.com/2012/05/industri-menengah-pengolahan-sampah.html?m=1