Tag

,

image

Asuransi kendaraan selalu merugi. Kenapa bisa?

Simak Perhitungan Premi Berikut

Coba bayangkan, biaya untuk asuransi kendaraan semacam mobil ada yang sampai enam juta rupiah.

Pada umumnya, setiap perusahaan asuransi menawarkan dua jenis perlindungan yang sama yakni Comprehensive (All Risk) dan Total Lost Only (TLO). Comprehensive (All Risk) adalah ganti rugi oleh perusahaan asuransi atas kerugian sebagian atau keseluruhan mobil akibat kejatuhan benda, kebakaran, perbuatan jahat, pencurian, perampasan, tabrakan, benturan atau kecelakaan lalu lintas lainnya. Sedangkan, Total Lost Only (TLO) adalah ganti rugi yang hanya akan diberikan perusahaan jika mobil mengalami kerusakan total atau di atas 75%.

Misalnya, kita memiliki mobil dengan perkiraan harga Rp 135.500.000,00. Kita akan mengasuransi mobil tersebut dengan memilih perlindungan All Risk dan dengan tambahan perluasan jaminan banjir, kerusuhan, dan sabotase. Untuk premi murni adalah 2,5% dari harga kendaraan, belum lagi karena perluasan jaminan lainnya. Contohnya, besarnya premi yang akan kita bayar adalah sebagai berikut:

Harga mobil: Rp 135.500.000,-

Premi murni 2,5%: Rp. 135.500.000,- x 2,5% = Rp.3.387.500,-

Perluasan jaminan:

Banjir 0,35%: Rp. 135.500.000,- x 0,35% = Rp.474.250,-

Kerusuhan 0,35%: Rp. 135.500.000,- x 0,35% = Rp.474.250,-

Sabotase 0,15%: Rp. 135.500.000,- x 0,15% = Rp.203.250,-

Total premi yang mesti dibayarkan = Rp.4.539.250,-

Inilah besaran premi yang harus disetorkan setiap tahunnya oleh pemilik kendaraan. Padahal setiap tahun belum tentu terjadi accident. Seandainya ada pun, biaya yang dikeluarkan untuk memulihkan kendaraan tidak sampai segitu dan biasanya pun ada tambahan biaya dari pemilik kendaraan.

Bagaimana Jika Tidak Mengambil Asuransi?

Kemarin kami survey di salah satu toko yang biasa merepair body kendaraan yang lecet atau kena benturan. Sekedar tanya-tanya saja, ternyata tanpa asuransi lebih mudah dalam pengurusan maupun pembiayaan.

Contoh saja, lecet pada kendaraan. Untuk kendaraan berasuransi mesti menunggu ACC dulu dari perusahaan asuransi supaya bisa mendapatkan keringanan biaya perbaikan. Sedangkan mobil tanpa asuransi, lebih mudah dan lebih cepat. Karena sekali datang, teken kontrak, lalu dilakukan pengerjaan sesegera mungkin. Lecet mobil tidak mesti setiap tahun ada. Taruhlah untuk memperbaiki satu titik lecet bisa memakan biaya Rp.500.000,- jika tanpa asuransi. Taruhlah ada tiga titik yang lecet, maka biaya yang dikeluarkan adalah Rp.1.500.000,-. Coba bandingkan dengan yang mengeluarkan premi untuk asuransi kendaraan setiap tahun sekitar 5 juta rupiah. Padahal belum tentu ada accident. Terang saja, yang menggunakan asuransi jelas lebih rugi.

Sisi Terlarangnya Asuransi

Kalau sudah memahami hal di atas, kita akan tahu kenapa asuransi terlarang. Di antara sebabnya karena potensi ghoror yang ada di dalamnya. Apa itu ghoror?

Al Jarjani berkata bahwa ghoror adalah,

مَا يَكُوْنُ مَجْهُوْلُ العَاقِبَةِ لاَ يَدْرِى أَيَكُوْنُ أَمْ لَا

“Sesuatu yang ujung-ujungnya tidak jelas, hasilnya akan ada ataukah tidak.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 31: 149)

Kenapa sampai asuransi mengandung ghoror? Karena waktu untuk mendapatkan klaim tidaklah jelas. Adanya resiko dahulu barulah ada klaim. Jika tidak ada accident? Tentu tidak ada klaim.

Coba perhatikan beberapa hukum dilarang karena adanya sebab ghoror. Pada jual beli dengan sistem ijon terlarang karena hasil panen yang diperoleh bisa jadi ada, bisa jadi tidak karena terserang hama atau penyakit. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyalahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُزْهِىَ قَالُوا وَمَا تُزْهِىَ قَالَ تَحْمَرُّ. فَقَالَ إِذَا مَنَعَ اللَّهُ الثَّمَرَةَ فَبِمَ تَسْتَحِلُّ مَالَ أَخِيكَ؟. متفق عليه

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penjualan buah-buahan (hasil tanaman) hingga menua?” Para sahabat bertanya, “Apa maksudnya telah menua?” Beliau menjawab, “Bila telah berwarna merah.” Kemudian beliau bersabda, “Bila Allah menghalangi masa panen buah-buahan tersebut (gagal panen), maka dengan sebab apa engkau memakan harta saudaramu (uang pembeli)?” (HR. Bukhari no. 2198 dan Muslim no. 1555)

Yang terlarang lagi karena terlacak di dalamnya ada unsur ghoro adalah jual beli habalul habalah. Bagaimanakah jual beli tersebut? Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ ، وَكَانَ بَيْعًا يَتَبَايَعُهُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ ، كَانَ الرَّجُلُ يَبْتَاعُ الْجَزُورَ إِلَى أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang transaksi jual beli yang disebut dengan “habalul habalah”. Itu adalah jenis jual beli yang dilakoni masyarakat jahiliyah. “Habalul habalah” adalah transaksi jual beli yang bentuknya adalah: seorang yang membeli barang semisal unta secara tidak tunai. Jatuh tempo pembayarannya adalah ketika cucu dari seekor unta yang dimiliki oleh penjual lahir.” (HR. Bukhari, no. 2143 dan Muslim, no. 3883). Cucu dari unta tersebut tidak jelas diperoleh kapankah waktunya. Pembayarannya baru akan diberi setelah cucu unta tadi muncul dan tidak jelas waktunya. Bisa jadi pula unta tersebut tidak memiliki cucu. Itulah ghoror karena ujung akhirnya tidaklah jelas diperoleh.

Secara umum memang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam larang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari jual beli hashoh (hasil lemparan kerikil, itulah yang dibeli) dan melarang dari jual beli ghoror.” (HR. Muslim no. 1513)

Inilah di antara alasan kenapa setiap beli kendaraan bermotor, penulis sendiri tidak pernah menambah biaya asuransi. Karena asuransi itu selalu merugi, rugi dunia, rugi akhirat karena terjatuh pada yang haram.

Wa billahit taufiq was sadaad, hanya Allah yang memberi taufik dan petunjuk.

* Tulisan di atas diambil dari buku penulis “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang” yang diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta.

Selesai disusun menjelang Shubuh di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 13 Safar 1436 H

Yang selalu mengharapkan ampunan Rabbnya: M. Abduh Tuasikal

Yang selalu mengharapkan ampunan Allah: M. Abduh Tuasikal