Tag

,

image

Semua orang tahu betapa kejam serdadu Israel terhadap penduduk sipil Palestina, yang dikutuk oleh bangsa-bangsa beradab seluruh dunia. Namun, bagi orang Yahudi, kekejaman ini agaknya merupakan suatu “keharusan.” Sebab, kitab suci mereka, Talmud, antara lain menyebutkan bahwa membunuh orang yang menentang mereka merupakan suatu kebaikan yang berpahala. Terutama kepada kaum goyim alias non-Yahudi.

image

Belakangan terungkap, mereka juga menjalani ritual khusus yang sadis yang ditunaikan setahun sekali dengan mengorbankan darah orang-orang non-Yahudi seperti muslim dan Kristen, dengan konon menyembelihnya. Menurut kesaksian Musa Abul ‘Afiyah, seorang rabbi (ulama Yahudi) yang sangat dihormati di Damaskus, Syria, sudah 11 kali ia melakukan penyembelihan. Namun, akhirnya ia menyesal dan mengalami kegelisahan batin, sehingga akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadat, dan mengganti namanya menjadi Muhammad Afandi.

Kesaksian sang rabbi itu sebagian dimuat dalam buku Talmud: Kitab “Hitam” Yahudi yang Menggemparkan karangan Prof. Dr. Muhammad Asy-Syarqawi, dosen Filsafat Islam dan Perbandingan Agama Universitas Kairo, Mesir. Ceritanya bermula ketika pada tahun 1780-an, Damaskus terserang wabah kolera, sehingga banyak warga yang meninggal. Seorang pendeta Kristen, Toma, memberi bantuan dan mengobati sejumlah pasien.

Kamis, 6 Februari 1840, Pendeta Toma diminta datang ke perkampungan Yahudi untuk menyuntik seorang anak yang menderita cacar. Ketika melihat pasiennya, ia berpendapat anak itu memerlukan perawatan lebih intensif. Maka ia pun segera kembali ke biara untuk mengambil obat-obatan. Kebetulan, rumah anak yang sakit itu berdekatan dengan rumah Daud Harari, seorang Yahudi yang saleh dan dihormati, yang kebetulan juga teman dekat Pendeta Toma.

Ketika pendeta itu melewati rumah Daud Harari, ia diminta mampir. Ketika ia masuk rumah Yahudi tersebut, ia langsung digiring ke sebuah kamar. Tiba-tiba pintu kamar ditutup, dan beberapa orang menyerangnya. Mulutnya disumpal dengan sapu tangan, sementara kedua tangan dan kakinya diikat, kemudian diseret ke sebuah ruangan. Ia dibiarkan di sana sampai larut malam.

Ketika Rabbi Musa yang akan memimpin ritual penyembelihan pendeta Kristen itu datang, seorang Yahudi bernama Sulaiman diperintahkan memotong urat leher Pendeta Toma. Tapi, Sulaiman tidak berani melakukannya. Maka, majulah Daud Harari melaksanakan ritual sadis itu, disaksikan sekitar 10 orang Yahudi lainnya. Daud Harari sempat gemetar mengingat si korban adalah sahabat karibnya. Maka segeralah seorang Yahudi tampil membantu menyelesaikan pemotongan urat leher pendeta yang malang itu.

Ritual Keji

Darah segar pun mengucur deras, ditampung dalam sebuah wadah yang cukup besar, lalu dimasukkan ke dalam sebuah botol. Tak lama kemudian Pendeta Toma ditelanjangi dan dibakar, sementara tubuhnya yang sudah hangus dimutilasi lalu dibuang ke tempat pembuangan tak jauh dari rumah Rabbi Musa. Pembunuhan keji itu terbongkar ketika jamaah Pendeta Toma datang ke biara untuk mengikuti misa. Namun, mereka tak menemukan sang pendeta. Akhirnya, mereka minta polisi segera mengusut kasus tersebut.

Akhirnya terbongkarlah kejahatan kemanusiaan itu. Kepada polisi Sulaiman si tukang gunting bersaksi bahwa ritual penyembelihan itu untuk menyempurnakan syari’at agama Yahudi, dan darah sang pendeta akan digunakan untuk upacara Paskah Yahudi. Semua orang Yahudi yang terlibat menjadi tersangka, dan dihukum. Banyak kasus penyembelihan terhadap orang-orang Kristen yang sempat terungkap, tapi ditutup-tutupi oleh Organisasi Persatuan Israel Internasional di Eropa, antara lain dengan sogokan sejumlah uang.

Jauh sebelumnya, tak seorang pun yang mengetahui bahwa orang-orang Yahudi mempunyai kepercayan seperti itu. Hingga suatu hari, pada 24 Juni 1240, ketika beberapa orang Yahudi diperiksa oleh Ratu Valencia di Istana Raja Louis IX di Paris, dengan tuduhan melakukan pembunuhan. Akhirnya mereka mengakui adanya ritual keji tersebut. Dan ketika itulah beberapa ayat kitab Talmud diterjemahkan.

Beberapa ayat yang memuat soal ritual pembunuhan atau masalah lain yang aneh-aneh, antara lain sebagai berikut:

Semua orang yang menumpahkan darah orang yang tidak bertakwa, amalnya makbul di sisi Tuhan sebagaimana orang yang mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Semua penduduk Yahudi wajib memberikan saham sebagai usaha bersama sebagai biaya untuk membunuh pengkhianat (Chaschen Hammischpat (338/16).

Rabbi Eliezar berkata, “Boleh memotong kepala orang bodoh pada hari raya Atonement jika hari itu bertepatan dengan hari Sabtu.” Maka murid-muridnya berkata, “Wahai Rabbi, apakah itu sama dengan kurban?” Ia menjawab, “Benar, karena itu suatu keharusan untuk melakukan sembahyang pada saat melakukan ritual; dan tidak perlu lagi sembahyang ketika leher seorang tertentu sudah dipukul.” (Bisashim (49.b).

“Air mani yang dari padanya tercipta bangsa-bangsa lain yang berada di luar agama Yahudi adalah air mani kuda” (Kitab Talmud Yerusalem, halaman 94). “Sejak adanya mereka, semua manusia goyim mengotori alam, karena roh mereka lahir dari bagian yang najis” (Kitab Zohar (I,131a). “Hubungan seksual orang goyim itu seperti hubungan seksual dengan binatang” (Sanhendrin (74 b, Tosepoth).

“Sesungguhnya Talmud mewajibkan atas setiap orang Yahudi untuk melaknat orang Kristen tiga kali dalam sehari, dan berdoa agar membasmi dan menghancurkan raja-raja serta para pemimpin mereka. Juga diwajibkan kepada orang Yahudi untuk merampas harta mereka dengan cara apa pun” (Kitab 6, Bab 8 butir ke 9).

Gunung Sinai

Yang jadi pertanyaan, bukankah ajaran Nabi Musa AS melarang umatnya membunuh, mencuri, dan hal-hal zalim lainnya? Tapi, mengapa Talmud – yang diakui sebagai kitab suci kaum Yahudi – memuat ayat-ayat yang bertolak belakang dengan syari’at Nabi Musa AS?

Kata talmud berasal dari akar kata bahasa Ibrani lamud yang berarti studi dan kajian. Konstruksi kata talmud berdekatan dengan kata tilmidz (Arab) yang artinya pelajar. Adapun Talmud adalah kitab yang dianggap suci oleh kaum Yahudi, berisi ajaran agama yang menjelaskan semua pengetahuan yang telah dicapai oleh umat Yahudi, ajaran para rahib Yahudi, peraturan kehidupan, moral, dan budaya bangsa Yahudi.

Para rabbi Yahudi mengklaim, Talmud bersumber dari syari’at Nabi Musa AS. Alasan mereka, ketika Nabi Musa AS menerima kitab Taurat dari Tuhan di Gunung Sinai, juga menerima tafsirnya. Nah, tafsir inilah yang kemudian disebut Talmud. Namun kenyataannya, kitab yang disampaikan oleh Nabi Musa AS kepada umatnya hanyalah Taurat, sementara Talmud adalah karangan para rabbi Yahudi yang menyimpan dendam kepada bangsa-bangsa lain yang telah melakukan penangkapan, perbudakan, penindasan, pengusiran terhadap umat Yahudi.

Talmud berisi sejumlah fatwa para rabbi Yahudi, yang antara lain menganjurkan kepada umatnya untuk tidak mentoleransi bangsa-bangsa lain. Menurut salah satu fatwa dalam Talmud, semua bangsa (kecuali yahudi) ibarat barang yang dapat diperlakukan menurut kehendak pemiliknya. Bangsa non-Yahudi, menurut Talmud, adalah orang asing dan disederajatkan dengan kaum penyembah berhala.

Bukan hanya itu, rapa rabbi juga mengubah dan memalsu ayat-ayat suci Kita Taurat, bahkan menjualnya kepada siapa pun juga yang membutuhkan fatwa – yang disesuaikan dengan kehendak sendiri. Lebih jauh lagi, mereka berusaha meyakinkan kepada kaum Yahudi bahwa Talmud lebih suci dari pada Taurat.

Celakanya, hingga kini, kaum Yahudi masih meyakini bahwa fatwa para rabbi dalam Talmud sejajar dengan syari’at Nabi Musa AS yang termuat dalam kitab suci Taurat. Mereka menganggap Talmud sama sucinya sebagaimana firman Allah dalam Taurat. Lucunya, jika menemukan kontradisi antara kedua kitab tersebut, mereka lebih percaya dan berpedoman kepada Talmud.

Sarung Bantal

Salah satu fatwa rabbi dalam Talmud yang melecehkan Taurat, misalnya ini, “Orang yang mempelajari Taurat berarti melakukan keutamaan tapi tidak layak mendapat imbalan; orang yang mempelajari Mishnah berarti melakukan keutamaan yang layak mendapat imbalan, sedangkan orang yang mempelajari Gemara berarti melakukan keutamaan yang paling besar.”

Apakah yang disebut Mishnah dan Gemara? Talmud terdiri dari dua bagian utama, yaitu Mishnah dan Gemara, dilengkapi beberapa lampiran dan tafsiran. Mishnah (sesuatu yang harus dipelajari dan diingat), adalah bagian pertama dan utama dari kitab Talmud. Sementara Gemara ialah bagian kedua Talmud, yang lahir akibat berbagai perbedaan pendapat di antarav para rabbi tentang kandungan kitab Mishnah.

Kitab Mishnah terdiri dari enam risalah. Pertama, Zeraim, yaitu kitab tentang tumbuh-tumbuhan, daun-daunan, buah-buahan, biji-bijian. Kedua, Moed, yaitu kitab tentang pesta-pesta; kapan waktu perayaan hari Sabbath dan perayaan-perayaan lain. Ketiga, Naschim, yaitu kitab tentang perkawinan, peran dan tugas perempuan, pertalian kekeluargaan. Keempat, Nezikim, yaitu kitab tentang kerusakan di muka bumi, hukuman dan penggantian kerugiannya. Kelima, Kodaschim, yaitu kitab tentang bermacam upacara suci keagamaan. Keenam, Tohoroth, yaitu kitab tentang kebersihan tanah, wadah-wadah, sarung bantal, seprei dan lain-lain.

Setiap bagian dari ke enam bagian tadi dibagi lagi dalam beberapa risalah yang disebut massikoth, yang kemudian dibagi lagi dalam beberapa bab atau atau perakim. Zeraim, misalnya, terdiri dari 11 jilid, Moed 12 jilid; Naschim tujuh jilid; Nezikim 10 jilid; Kodashim 11 jilid dan Tohoroth 12 jilid.

Kitab Mishnah yang semula menjadi pegangan kaum Yahudi sebagai kitab suci, belakangan ditinggalkan, karena meraka beralih ke kitab Gemara. Sebab, mereka menganggap Mishnah terlalu banyak memuat ayat-ayat yang terlalu umum dan tidak jelas penafsirannya. Jadi, kitab Gemara sesungguhnya hanyalah syarah atau tafsir atas ayat-ayat Mishnah.

Tapi, perkembangan Talmud tidak berhenti sampai di situ. Setiap kali ada kejadian yang menyengsarakan kaum Yahudi, selalu diabadikan dalam Talmud. Mulai dari penderitaan nenek moyang kaum Yahudi yang diperbudak, ditindas, dan sebagainya, sampai masalah negara Israel sekarang, bisa dibaca dan dirasakan oleh kaum Yahudi. Dendam nenek moyang mereka selalu dan tetap terjaga di dada anak cucu mereka hingga kini.

Paus Innocent

Cita-cita kaum Yahudi sebagai “bangsa terpilih” untuk menguasai dunia terus mereka perjuangkan. Adalah Talmud pula yang membangkitkan semangat gerakan Zionis Internasional untuk mencapai cita-cita mereka. Konfrensi pertama gerakan Zionis di Bassel, Swiss, 1897, melahirkan keputusan untuk mendirikan Negara Israel yang merdeka serta keputusan lain yang bersifat rahasia. Di antaranya doktrin dan propaganda keji terhadap bangsa lain.

Harga diri yang terlalu tinggi itu gara-gara salah satu ayat dalam Talmud yang melukiskan kaum Yahudi sebagai bangsa pilihan, yang berbunyi, ”Bani Israel lebih tinggi derajatnya di sisi Tuhan dari pada malaikat. Jika seorang non-Yahudi memukul orang Yahudi, maka seolah-olah ia telah memukul Tuhan. Kaum Yahudi adalah bagian dari Tuhan, seperti seorang anak sebagai bagian dari bapaknya. Karena itu, apabila seorang non-Yahudi memukul orang Yahudi, ia harus mati” (Sanhedrin, halaman 2, nomor 58).

Dalam ayat lainnya disebutkan, ”Diperbolehkan bagi umat Yahudi membunuh umat lain, terutama umat Nasrani dan para penyembah berhala. Bahkan, pembunuhan ini wajib dilakukan jika terbuka peluang untuk itu. Semua cara kemunafikan boleh ditempuh asal tujuannya tercapai.”

Bisa dimaklum jika kalangan Nasrani sangat menentangnya. Pada abad ke-13, Paus Gregory IX (1227 M) dan Paus Innocent IV (1234 M) mengecam keras kitab Talmud dan memerintahkan untuk membakarnya. Karena kerasnya penentangan itu, para rabbi Yahudi memikirkan taktik untuk menyelamatkan diri. Pada 1631 M, misalnya, para rabbi Yahudi bertemu di Polandia, memutuskan untuk menghapus semua alinea atau penggalan kalimat dalam Talmud yang dapat menyakiti hati kaum Nasrani, diganti dengan kode atau isyarat yang hanya dapat dipahami oleh para rabbi Yahudi.

Kaum Yahudi memang membenci semua bangsa non-Yahudi, tetapi terutama sekali terhadap bangsa-bangsa yang menganut agama Nasrani. Mereka menganggap Isa Al-Masih sebagai pemberontak dan pengamal bid’ah. Mereka bahkan menilai Nabi Isa AS adalah “anak haram”, sementara ibundanya, Siti Maryam adalah “wanita pezina”. Masya Allah!

Walhasil, Talmud tiada lain hanyalah “kitab suci” yang penuh dengan kekejian dan kepalsuan. (may/voa-islam.com)