image

SUNGGUH sulit mengidap penyakit yang membatasi kemampuan kita berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman. Itulah yang membuat Alzheimer disebut sebagai penyakit yang mengganggu.

Alzheimer merupakan penyebab paling umum dari demensia, suatu istilah yang menggambarkan serangkaian gejala yang mencakup kehilangan memori, perubahan suasana hati, serta masalah komunikasi dan penalaran.

Khusus di Amerika diperkirakan terdapat lebih dari 5 juta orang mengidap penyakit Alzheimer. Jumlah ini bisa mencapai tiga kali lipat pada tahun 2050 jika tidak ada terobosan medis yang signifikan, kata Asosiasi Alzheimer.

Para ilmuwan belum sepenuhnya memahami penyebab penyakit Alzheimer. Gen memainkan peran penting dalam kemunculannya. Tapi ada penelitian baru yang menyebutkan lemak perut pada orang-orang setengah baya menjadi salah satu pemicunya.

Menurut para peneliti di Rush University Medical Center, protein yang bertugas melakukan metabolisme lemak dalam hati adalah protein yang sama ditemukan di bagian otak yang mengontrol memori dan belajar. Orang dengan lemak perut lebih tinggi akan menguras protein yang melakukan metabolisme, membuat mereka 3,6 kali lebih mungkin menderita kehilangan memori dan demensia di kemudian hari.

Apakah Anda bisa mengatasi semua itu? Anda mesti membantu mengurangi lemak perut berbahaya guna mengurangi risiko terkena Alzheimer dengan melakukan diet sehat dan olahraga teratur. Tetapi Anda juga dapat mempertimbangkan tips berikut yang merupakan hasil penelitian, sebagaimana dilansir ABC News belum lama ini:

Hindari Makanan Terpapar Pestisida

Peneliti mengatakan, paparan DDT –toksin yang dilarang di Amerika Serikat sejak 1972, tetapi masih digunakan sebagai pestisida di negara-negara lain– dapat meningkatkan risiko dan tingkat keparahan penyakit Alzheimer, terutama pada mereka yang berusia di atas 60.

Dalam penelitian yang diterbitkan JAMA Neurology, ilmuwan Rutgers menemukan bahwa tingkat DDE, senyawa kimia yang tersisa ketika DDT terurai, empat kali lebih tinggi dalam darah pasien penyakit Alzheimer dibandingkan dengan mereka yang tanpa penyakit. Orang mungkin terkena pestisida beracun ketika mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, yang terkena DDT. Atau makan ikan dari perairan yang terkontaminasi. Carilah makanan organik yang bebas pestisida!

Lakukan Diet Makanan

Jika ada saat yang paling penting untuk melakukan diet guna mencegah risiko Alzheimer, di usia setengah bayalah saatnya.

Dalam penemuan untuk disertasi doktor –yang menyelidiki hubungan antara diet sehat di usia baya dan risiko munculnya demensia di kemudian hari— disarankan menjalankan konsumsi makanan sehat di usia 50-an. Diet ini dapat mengurangi risiko demensia hampir 90 persen di kemudian hari. Salah satu adalah Diet Mediterania, yang kaya dengan sayuran, buah-buahan, ikan dan lemak tak jenuh dari kacang-kacangan, terbukti sangat bermanfaat. Menurut peneliti, mereka yang secara genetik rentan terhadap Alzheimer, setidaknya dapat menunda timbulnya penyakit dengan mengurangi asupan lemak jenuh yang ada pada daging dan susu.

Belajar Bahasa Lain

Satu penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology menunjukkan, berbicara bahasa kedua dapat menunda timbulnya tiga jenis demensia. Studi ini menemukan, orang yang berbicara dua bahasa dapat menunda terkena demensia empat setengah tahun kemudian dibandingkan orang yang hanya berbicara satu bahasa.

Berbicara lebih dari satu bahasa diduga dapat mengembangkan yang lebih baik area otak yang menangani fungsi eksekusi dan pelaksanaan tugas, yang dapat membantu melindungi dari timbulnya demensia.

Membaca dan Beristirahat (tetapi jangan terlalu banyak)

Ini tampaknya bisa benar-benar secara tepat menjaga fungsi kognitif, menurut studi terbaru yang dilakukan tim peneliti di Spanyol. Temuan mereka menunjukkan, melakukan rangsangan terhadap otak dan tidur cukup untuk mengistirahatkan pikiran dan tubuh, adalah penting untuk menjaga perkembangan kognitif.

Tidur lebih dari 8 jam dan kurang dari 6, dan kurangnya stimulasi kognitif seperti membaca, dapat menyebabkan peningkatan risiko penurunan kognitif sebesar 2,6 kali pada orang di atas 65, menurut penelitian di jurnal Revista de Investigación Clínica. Jadi saat ini aturlah alarm jam Anda, dan kunjungi perpustakaan untuk membaca buku yang diminati guna menghindari penurunan kognitif.

Beri ‘Makan’ Hippocampus

Perlu diketahui otak bisa menyusut bersamaan dengan bertambahnya usia. Paling rentan terhadap terhentinya pertumbuhan adalah hippocampus, bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk memori dan penalaran spasial. Itu merupakan wilayah pertama yang diserang penyakit Alzheimer.

Tapi studi terbaru menunjukkan, Anda dapat mencegah atrofi (berhentinya pertumbuhan) dan menunda timbulnya penurunan kognitif dengan memberi ‘makan’ hippocampus Anda melalui olahraga.

Para peneliti di University of Maryland School of Public Health melacak empat kelompok orang sehat berusia 65-89, yang memiliki kemampuan kognitif yang normal, selama periode 18 bulan. Kelompok-kelompok diklasifikasikan antara risiko rendah dan tinggi terkena Alzheimer (berdasarkan ekspresi gen) dan tingkat aktivitas fisik yang rendah atau tinggi.

Dari empat kelompok yang diteliti, hanya mereka yang berisiko genetik tinggi terkena Alzheimer sekaligus tidak berolahraga mengalami penurunan volume hippocampus (3 persen). Mereka yang selalu aktif bergerak, bahkan walaupun tergolong berisiko tinggi terkena Alzheimer, diketahui dapat menjaga volume otaknya.*

Sumber: Hidayatullah.com, 1996-2014