Tag

,

image

As samaa (langit) dalam bahasa arab menurt para musafir adalah segala sesuatu diatas kita atau sesuatu yang tinggi, mereka tidak memberikan batasan seberapa jauh batas ketinggian langit itu.
Selain itu, beberapa hadis dan ayat menyebutkan bahwa dilangit itu terdapat banyak bintang (najm), planet (kaukab), gunung (jibal), air (), lautan (bahr’), awan (sahâb), para malaikat, makhluk Allah yang lain dan Arasy Allah.
Sedangkan menurut bahasa sains-nya adalah bagian atas dari permukaan bumi, dan digolongkan sebagai lapisan tersendiri yang disebut atmosfer. Langit terdiri dari banyak gas dan udara, dengan komposisi berbeda di tiap lapisannya. Langit sering dilihat berwarna biru, disebabkan karena pemantulan cahaya, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa langit bisa berwarna selain itu, misalnya merah ketika senja, atau hitam saat turun hujan.

As Samaa (langit) di dalam Al Qur’an:

Kalimat “samaa” (langit) di dalam Al Qur’an di ulang sebanyak 310 kali, diantaranya bentuk single “samaa” 120 kali, dan bentuk plural “samaawaat” 190 kali. Bentuk plural umumnya menunjukkan semua yang ada di atas bumi di jagad raya, dalam bentuk single 38 diantaranya dipahami sebagai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfert) yang melindung permukaan Bumi dari angin matahari, sinar ultraungu, dan radiasi dari luar angkasa. Dan 82 diantaranya bentuk single dipahami sebagai jagad raya secara keseluruhan. Berikut ini kita kaji khusus tentang langit: struktur dan isinya:

Sebagaimana kita ketahui Bima Sakti (Tata Surya), dimana planet bumi kita berada, bukanlah satu-satunya galaksi yang ada di alam semesta ini. Dalam alam semesta, ada begitu banyak sistem seperti ini, yang mengisi setiap sudut langit sampai batas yang bisa dicapai oleh telekop yang paling besar. Jumlah keseluruhan galaksi yang dapat dipotret dengan teleskop berdiameter 500 cm di Mt. Palomar mungkin sampai kira-kira satu milyar buah galaksi. Maka tidak salah jika kita mengira bahwa jika kita mempunyai teleskop yang lebih besar, kita akan dapat melihat jauh lebih banyak lagi.

Sebelum kita memiliki metode pengukuran jarak yang cukup baik, para astronom mengira Bima Sakti adalah keseluruhan dari alam semesta. Bercak-bercak cahaya yang tampak di langit pada mulanya diklasifikasikan sebagai nebula (kabut), yang juga adalah anggota Bima Sakti. Pada waktu itu, dikenal ada dua macam nebula, yaitu nebula gas dan nebula spiral.
Adalah Harlow Shapley dan George Ellery Hale, dua orang astronom yang amat berjasa membangun pengertian kita tentang galaksi. Shapley inilah yang mengembangankan metode untuk mengukur jarak yang diterapkan untuk mengukur diameter Bima Sakti.

Sedangkan Hale amat besar perannya dalam pengembangan teleskop-teleskop besar, yang digunakan untuk pengamatan bintang-bintang dan nebula. Atas jasa mereka sekarang kita tahu bahwa yang semula disebut nebula spiral itu adalah galaksi yang juga seperti Bima Sakti, terdiri dari ratusan juta sampai milyaran bintang, dan berada amat jauh dari kita, jauh di luar Bima Sakti. Dan melalui jalan yang telah mereka rintis, kita menyadari bahwa Bima Sakti hanyalah satu dari begitu banyak galaksi-galaksi yang bertebaran di alam semesta yang maha luas ini.

Kita masih akan kembali membahas tentang alam semesta dan bima sakti pada kajian-kajian mendatang, yang menarik untuk di cermati di sini adanya ayat ke-5 surah Asy Syams bercerita khusus tentang struktur langit. Dan bukan sekedar itu saja, ayat ini datang dalam bentuk sumpah, yaitu setiap Al Qur’an bersumpah pada sesuatu makhluk pastilah pemberitahuan akan suatu peristiwa yang sangat besar, sebagaimana yang sering penulis ulang-ulang dalam kajian ini.

Al Qur’an Bersumpah “Demi langit dan strukturnya”:

Alam raya kita diperkirakan berumur sekitar 15 miliar tahun. Dalam struktur alam semesta ada begitu banyak system terdiri dari materi Nampak dan materi gelap yang mengisi setiap sudut langit sampai batas yang bisa dicapai oleh telekop yang paling besar. Struktur alam raya yang sudah berhasil diamati, berupa:

  • Materi Nampak: Terdiri dari benda-benda angkasa yang menghasilkan cahaya atau memantulkan cahaya sehingga keberadaaanya dapat kita amati. Struktur benda angkasa dari kecil hingga besar adalah sebagai berikut: Tata surya (matahari, bintang, planet, bulan, asteroida, dll), Galaksi, Cluster galaksi.
  • Materi gelap (dark mater): Terdiri dari benda-benda angkasa yang supermasif, yang runtuh akibat gravitasinya menjadi sedemikian masifnya tetapi gaya gravitasinya begitu besarnya sehingga semua materi tertelan bahkan cahaya pun tak dapat keluar dari tarikannya. Akibatnya materi itu tidak bisa dilihat keberadaanya, kecuali dari akibat gravitasinya. Benda itu dinamakan lobang hitam (black holes).

Meski tidak kelihatan justru materi gelap mengisi sebagian besar jagad raya. Menurut yang sekarang bisa diamati meliputi 90 % dari materi jagad raya berisi materi gelap. Di pusat galaksi Bima sakti kita terdapat lubang hitam yang sangat besar.

Insya Allah, penulis masih akan banyak kembali ke pembahasan ini pada kajiaan-kajian berikut.

Artinya : “Demi langit yang mengembalikan”.

Arti kata “raja’a” pada ayat “was samaai zaatir raj’i” adalah (kembali, pulang, bolak-balik, atau mengulang), “war ruju’u”, yaitu kembali kepada tempat semula. Oleh karena itu disebut “hujan” dengan “raja’an”, yaitu awan menyerap air dari bumi kemudian mengembalikannya lagi jadi hujan secara berkala.

Hakikat sains : Bumi mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindung permukaan Bumi dari angin matahari, sinar ultraungu, dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti bumi hingga ketinggian sekitar 700 kilometer. Lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, dan Eksosfer.

Lapisan ozon, setinggi 50 kilometer, berada di lapisan Stratosfer dan Mesosfer dan melindungi bumi dari sinar ultraungu.

Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yaitu ke bumi. Berikut ini penulis dapat memberikan beberapa contoh fungsi “pengembalian” dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi, sbb :

  • Lapisan Troposfer, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan.
  • Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraungu yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.
  • Ionosfer, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.
  • Lapisan magnetosfer, memantulkan kembali partikel-partikel radioaktif berbahaya yang dipancarkan Matahari dan bintang-bintang lainnya ke ruang angkasa sebelum sampai ke Bumi.

Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Al Qur’an. Ini satu bukti bahwa Al Qur’an adalah firman Allah. (Wallahu A’lam).

 

Artinya : “Demi langit yang mempunyai jaring-jaring”.

Arti kata “al hubuki” pada ayat ke-7 surah Az Zariyat, berasal dari akar kata bahasa arab “habaka” (tenunan/ jaringan), seperti kalau orang arab mengatak: “tukang tenun menenun kain” atau merajutnya jadi jaringan atau kain, orang Maroko dan negara-negara barat islam lain menyebut “tali pengikat” dengan “habak”. Dan “al hubuk” bentuk plural dari kata “habikat” yaitu “jalan”

Arti kata “al hubuki” pada ayat ke-7 surah Az Zariyat, berasal dari akar kata bahasa arab “habaka” (tenunan/ jaringan), seperti kalau orang arab mengatak: “tukang tenun menenun kain” atau merajutnya jadi jaringan, orang Maroko dan negara-negara barat islam lain menyebut “tali pengikat” dengan “habak”. Dan “al hubuk” bentuk plural dari kata “habikat” yaitu “jalan”.

Jaringan alam (Cosmic Web):

Dapat dipahami dari pengertian di atas bahwa kata “al hubuk” mengandung beberapa arti dasar berkisar jaringan dan benang yang ditenun dengan rapi dan saling kait mengkait satu sama lain. Yang oleh ilmu astronomi di sebut “jaringan alam” (cosmic web). Ahli tafsir terdahulu tidak sampai pada pengertian sejauh ini karena dijaman mereka belum mengenal ilmu astronomi modern, istilah “tenunan alam” bagi langit adalah temuan kontemporer sekali, dipopulerkan baru beberapa tahun belakangan ini saja.

Fakta ilmiyah tentang “Demi langit yang mempunyai jaringan-jaringan (cosmic web)” : Menurut informasi yang ada bahwa bagian langit yang terjangkau oleh sains modern, mempunyai sifat-sifat berikut :

  • Langit luas sekali, strukturnya sangat kokoh dan super canggih ciptaan dan designnya.
  • Memiliki keterikatan sangat kuat antara satu bagian dengan bagian yang lainnya (gaya grafitasi).
  • Mempunyai kepadatan yang seimbang di setiap bagian-bagiannya.
  • Langit mempunyai rotasi tertentu bagi tiap-tiap galaksinya, sekalipun jumlahnya sangat banyak dan peredarannya super cepat dan terus-menurus.

Dari sini diperoleh pencerahan dari sumpah Al Qur’an “wassamaai zatil hubuki”, (langit yang mempunuai jaringan-jaringan), yaitu kecanggihan penciptaan langit dari bangunan, strukturnya, designnya, plus keindahan, keterkaitan satu sama lain, keserasian kepadatannya. Dan semua sifat-sifat tersebut merupakan arti dari mu’jizat “wassamaai zatil hubuki”.

Maha Suci Allah, yang telah menurunkan mu’jizat Al Qur’an ini di atas 7 susun langi, dan telah 14 abad lalu mendeklarasikannya dengan ilmu-Nya yang sempurna, complit dan luas mencakup dengan menyifatkan “al hubuki” (jaringan alam) bagi langit, yang tidak di ketahui oleh sains kecuali pada dekade belakangan di abad ke-20. Dan tidak mungkin bagi ahli manapun bisa membayangkan sumber lain dari ilmu tersebut kecuali dari Allah Pencipta.

Dan tidak menutup kemungkinan pula sains mendatang bisa lebih mengembangkan dari yang kita ketahui sekarang, sehingga dengan demikian ungkapan Al Qur’an selalu serasi dengan pengetahuan modern bagaimanapun perkembangannya. Dan petunjuk-petunjuk ungkapan Al Qur’an semakin berkembang dengan kemajuan jaman dan selaras dengan perkembangan pengetahuan manusia tanpa ada kontradiksi, ini adalah sebuah fakta bahwa Al Qur’an asli dari Allah SWT. Simak firman Allah:

  • “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahuai (kebenaran) berita Al Qur’an setelah beberapa waktu lagi” (QS. Shaad: 88).
  • “Setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui” (QS. Al An’am: 67).
  • “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? ”(QS. Fushshilat: 53).(Wallahu A’lam).

Artikel Berkaitan: