Tag

, ,

Hal-hal yang berkaitan dengan mikraj, pertama: apakah mikraj itu?Apakah nabi-nabi lain selain Rasulullah Saw juga melakukan mikraj? Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq As dikatakan bahwa Rasulullah Saw melakukan mikraj hampir 120 kali. Tolong jelaskan mengenai perbedaan-perbedaan yang ada dalam kaitannya dengan jumlah mikraj yang dilakukan oleh Rasulullah, demikian juga mengenai waktu mikraj yang senantiasa kita rayakan. Demikian juga, apa saja yang disaksikan oleh Rasul saat beliau melakukan perjalanan mikraj, dan bagaimana beliau kembali dari mikraj? Apa sajakah yang beliau lakukan setelah kembali dari mikraj?

Jawaban Global

Mikraj dalam bahasa Arab memiliki makna alat atau perantara yang dengan bantuannya bisa menaik ke atas, akan tetapi dalam riwayat-riwayat dan tafsir, kata ini berkaitan dengan perjalanan jasmani Rasulullah Saw dari Mekah ke Baitul Muqaddas, dan dari sana ke langit, setelah itu kembali lagi ke negerinya sendiri.
Apa yang bisa disimpulkan dari riwayat-riwayat Islam adalah bahwa mikraj dengan tipologi ini, hanya dilakukan oleh Rasulullah dan itupun hanya terjadi satu kali, kendati hal yang serupa dengan sebagian tahapan mikraj juga terjadi pada nabi-nabi lain seperti Nabi Sulaiman, Idris dan Isa As, dan kendati mungkin terulang mikraj-mikraj lain dengan tipologi-tipologi lain pada Rasulullah.
Dari satu sisi, kendati terdapat berbagai riwayat dalam kaitanya dengan waktu mikraj Rasul, akan tetapi tidak bisa dinyatakan secara pasti manakah yang benar. Tentunya ketiadaan sejarah yang rinci, seperti kebanyakan kasus serupa, tidak akan menghilangkan ketegasan kejadian yang sebenarnya.
Setelah mikraj, Rasul Saw langsung kembali ke Mekah dan menyampaikan kejadian penting ini kepada kaum Quraish, beliau menyampaikan bukti-bukti pasti kepada mereka untuk meyakinkan dan membuktikan kebenaran masalah ini. Demikian juga, dalam sepanjang masa kenabian, beliau berulang kali menyampaikan kepada masyarakat tentang hal-hal yang bisa disampaikan mengenai apa yang beliau saksikan dalam mikraj, dan beliau menyampaikan pesoalan ini dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, dimana banyak dari masalah ini bisa dilihat dalam kitab-kitab riwayat dan tafsir.

Jawaban Detil
Dalam menjawab pertanyaan di atas, pertama kita akan menentukan bagian-bagiannya yang berbeda, setelah itu baru mulai menganalisanya:
  1. Apa makna mikraj dan bagaimana kata ini bisa dipergunakan dalam teks-teks agama Islam?
  2. Apakah nabi-nabi lain, selain Rasul Saw juga melakukan mikraj, ataukah masalah ini hanya menjadi kekhususan bagi Rasul Islam Saw saja?
  3. Berapa kali Rasulullah Saw melakukan mikraj?
  4. Secara pasti, tanggal berapakan terjadinya mikraj itu?
  5. Apa yang Rasulullah saksikan dalam mikraj?
  6. Bagaimana Rasulullah kembali dari mikraj, dan setelah itu, apa yang beliau lakukan?
Sekarang, mari kita membahas masalah ini satu persatu:
  1. Makna leksikal mikraj dalam bahasa Arab, adalah alat atau perantara yang dengan bantuannya, manusia akan menaik ke atas, dan dalam bahasa ini, mikraj juga bisa digunakan dengan makna tangga.[1]
Al-Quran pada ayat pertama surah al-Isra menyatakan bahwa dengan bantuan Allah Swt, Rasul Saw secara menakjubkan telah melakukan perjalanan panjang dari Masjidil Haram dan Mekah hingga Baitul Muqaddas dan Masjidil Aqsha, hanya dalam waktu semalam, dimana perjalanan ini merupakan pendahuluan untuk perjalanan yang lebih panjang, yaitu mengitari langit dan melihat ayat-ayat dan tanda-tanda kebesaran Ilahi.
Bagian kedua dari perjalanan ini juga digambarkan pada ayat-ayat pertama surah al-Najm.
Kendati demikian, harus diketahui bahwa dalam al-Quran, kata mikraj belum digunakan, sedangkan dalam riwayat dan tafsir-tafsir untuk ayat-ayat di atas, malam ini dinamakan sebagai laila al-mikrajatau malam mikraj, dan mungkin dalil dari penaman ini  adalah karena Rasul Saw menggunakan kendaraan bernama Buraq[2] untuk melakukan perjalanan menaik ke langit.
Bagaimanapun, kini setiap kali kita mendengar kata ini, maka hal yang akan terbersit di dalam benak kita adalah perjalanan indah dan menakjubkan yang dilakukan oleh Rasul Saw.[3]
  1. Akan tetapi dalam kaitannya dengan pembatasan mukjizat ini hanya pada Rasulullah Saw ataukah tidak ada pembatasan, harus dikatakan bahwa dari dimensi akal dan agama, tidak ada masalah apapun jika nabi-nabi lain pun, dengan bantuan Allah, bisa mengelilingi langit-langit dan bumi dengan kecepatan yang menakjubkan, dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran- Nya, akan tetapi apa yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat al-Quran dan juga riwayat-riwayat otentik adalah bahwa mikraj dengan alur seperti ini, dimana dalam sepanjang waktu itu, seorang nabi naik ke langit, kemudian kembali lagi ke umatnya, melanjutkan tablighnya, dan mengatakan apa yang disaksikannya, belum pernah terjadi pada nabi yang manapun.
Tentunya, terdapat ayat-ayat yang juga menceritakan keajaiban-keajaiban Nabi Sulaiman As dalam perjalanannya ke berbagai wilayah bumi dengan menggunakan kekuatan angin[4], atau naiknya para nabi, seperti Nabi Idris As[5] dan Nabi Isa As ke langit, akan tetapi sebagaimana yang telah terjelaskan, tidak satupun dari mereka yang memiliki kemiripan sempurna dengan apa yang terjadi dalam mikraj Rasulullah, karena perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman hanyalah dilakukan di permukaan bumi, dan naiknya Nabi Idris dan Isa As[6] ke langit, pun terjadi tanpa kembali lagi ke bumi, dengan dalil, karena berdasarkan riwayat-riwayat Syiah, Nabi Idris As wafat di langit,[7]sedangkan Nabi Isa As pun hingga saat ini masih berada di langit dan tengah menunggu kemunculan Imam Mahdi Ajf untuk membantu beliau.[8]
  1. Kendati kita percaya bahwa Tuhan yang mampu memberikan keajaiban seperti ini kepada hamba dan rasul-Nya juga mampu mengulang masalah ini berkali-kali, akan tetapi apa yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat al-Quran dan hampir seluruh hadis yang ada dalam kaitannya dengan kejadian mikraj ini adalah bahwa mikraj dengan kekhususan seperti di atas, hanya terjadi satu kali dalam kehidupan Rasulullah Saw.
Akan tetapi dari satu sisi, terdapat juga hadis-hadis yang menjelaskan berulangnya mikraj, dimana diantaranya menyatakan bahwa Rasul melakukan mikraj sebanyak dua kali[9] dan ada pula riwayat-riwayat yang menyebut jumlah mikraj beliau adalah sebanyak 120 kali.[10]
Dalam kaitannya dengan riwayat-riwayat seperti ini harus dikatakan, Pertama: jumlah riwayat-riwayat seperti ini hanya sedikit, dan tidak bisa diperbandingkan dengan riwayat-riwayat tak terhitung yang secara tegas atau implisit menyatakan bahwa mikraj Rasul hanya terjadi satu kali. Kedua: Riwayat-riwayat yang jumlahnya sedikit ini pun, tidak memiliki sanad yang seberapa valid. Misalnya, dalam rangkaian sanad hadis pertama, Ali bin Abi Hamzah adalah dzaif dan lemah,[11] sedangkan Qasim bin Muhammad pun adalah seorang Waqifi.[12] Dalam silsilah sanad hadis kedua pun, terdapat sosok seperti Malmah bin al-Khathab, dimana para cendekiawan Ilmu Rijal menganggapnya lemah dalam menukilkan riwayat.[13]
Ketiga: Kendati bisa diyakini bahwa Rasul hanya memiliki satu kali mikraj, akan tetapi mikraj ruhani terjadi berulang kali pada beliau, dan riwayat-riwayat yang menyinggung tentang terulangnya mikraj, memiliki makna mikraj-mikraj ruhani; dan bahkan mikraj yang derajatya lebih rendah, bisa saja terjadi pada orang-orang selain nabi, sebagaimana kita mengetahui terdapat hadis yang menyatakan bahwa shalat seperti halnya mikraj bagi orang-orang yang beriman.[14]
  1. Harus diperhatikan bahwa pada banyak peristiwa bersejarah, memperhatikan kejadian itu sendiri, ajaran-ajaran dan pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya, jauh lebih penting dari pengetahuan tentang peristiwa detilnya itu sendiri, diantara yang termasuk terlalu memperhatikan partikular adalah seperti memperhatikan waktu, tempat, atau bentuk penyimpangan dari kejadian yang sebenarnya, mungkin karena itulah sehingga Allah Swt kendati dalam al-Quran banyak menyebut nama nabi dan menceritakan tentang kisah kehidupan mereka, akan tetapi sama sekali tidak menyinggung waktunya secara rinci, kapan diangkat dan kapan wafat masing-masing mereka, dan kecuali dalam satu kasus,[15]masa kenabian masing-masing nabi ini pun tidak pernah diutarakan.
Dari satu sisi, mikraj terjadi pada masa dimana landasan-landasan Islam belum terlalu kuat, dan penulisan sejarah Islam pun belum mentradisi, dengan alasan inilah sehingga d ikalangan para arkeolog Islam terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal terjadinya mikraj. Sebagian menganggapnya terjadi pada tahun kesepuluh pengangkatan (bi’tsat) pada malam ke 27 Rajab, sebagian lainnya menyatakan bahwa mikraj terjadi pada tahun keduabelas pengangkatan, pada malam 17 Ramadhan, sementara sebagian lainnya menyatakannya terjadi pada awal pengangkatan.[16]
Dengan dalih inilah sehingga, jika Anda memutuskan untuk menyelenggarakan perayaan untuk mengenang mikraj, tidak akan ada masalah apabila Anda memilih salah satu dari tanggal-tangga tersebut, dan bahkan pada waktu yang lainnya sekalipun, sembari Anda melakukan analisa terhadap kejadian mikraj, kendati pada dasarnya, mikraj terjadi pada tanggal yang lain.
  1. Berdasarkan ayat pertama surah al-Isra, tujuan dari mikraj adalah memperkenalkan tanda-tanda kebesaran Ilahi kepada Rasulullah Saw. Dari satu sisi kita mengetahui bahwa menurut penjelasan al-Quran, seluruh apa yang ada di langit-langit dan bumi, termasuk manusia, dan segala sesuatu yang ada, merupakan tanda-tanda dari Tuhan.[17]Oleh karena itu, jelas bahwa Allah, dalam mikraj tidak hanya dalam rangka memperkenalkan tanda-tanda yang biasa, melainkan dengan cara ini Dia ingin menunjukkan tanda-tanda besar dan agung yang hanya mampu dipahami oleh sosok seperti Rasul Saw, sejumlah tanda-tanda yang oleh Tuhan diinterpretasikan dengan tanda-tanda yang besar atau “ min âyâti rabbihi al-kubra”.[18]
Secara yakin, tidak seluruh apa yang terjadi pada diri Nabi Saw dalam peristiwa tersebut yang bisa diungkapkan, dan kita sendiri pun belum tentu memiliki kemampuan untuk memahami keseluruhannya, akan tetapi dalam berbagai riwayat telah disingung sebagian dari apa yang terjadi di malam tersebut. Tentunya dikarenakan ketidaktepatan dalam penulisan hadis, selain penerimaan secara pasti kejadian hakiki mikraj melalui Muslimin, bisa juga kita saksikan adanya riwayat-riwayat dalam masalah ini yang kadangkala saling berkontradiksi. Dengan alasan inilah sehingga Syaikh Thabarsi membagi riwayat-riwayat yang berkaitan dengan masalah ini menjadi empat klasifikasi utama, kemudian mengutarakan contoh untuk masing-masingnya, dan menjelaskan mengenai pandangan apa yang harus kita miliki terhadap masing-masing kelompok tersebut, sebagai berikut:
Kelompok Pertama: riwayat-riwayat yang mutawattir dan kita memiliki keyakinan terhadapnya, seperti riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang asli mikraj Rasul, dan tidak lagi memperhatikan rincian-rincina lainnya. Secara wajar, riwayat-riwayat seperti ini harus diterima.
Kelompok Kedua: riwayat-riwayat lain yang menjelaskan sebagian dari rincian-rincian mikraj yang tidak bertentangan dengan akal dan prinsip-prinsip dasar agama; seperti Rasulullah mengelilingi langit-langit, bertemu dengan nabi-nabi lainnya dan menyaksikan arsy, sidratul muntaha, surga dan neraka, dimana masalh-masalah ini pun harus kita terima dan hal-hal tersebut ita anggap sebagai pengait dengan waktu Rasulullah terjaga, bukannya kita mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh  orang lain bahwa peristiwa ini terjadi dalam keadaan beliau tidur.
Kelompok Keempat: riwayat-riwayat yang lahiriahnya berkontradiksi dengan sebagian dari pengetahuan-pengetahuan kita sebelumnya, akan tetapi perbedaan ini bisa hilang dengan adanya penjelasan; seperti riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw menyaksikan sekelompok yang tengah merasakan kenikmatan di surga, dan sekelompok lain yang tengah terazab di neraka (dimana hal ini memunculkan pertanyaan, bagaimana bisa terdapat manusia-manusia di surga dan neraka, sementara kiamat belum terjadi? Dimana dalam menjelaskannya bisa dikatakan bahwa bisa jadi yang beliau saksikan adalah surga dan neraka barzah, atau orang-orang tersebut tidak ada, melainkan hanya nama, sifat atau tubuh mitsali mereka yang ada di sana). Riwayat-riwayat seperti ini juga harus diterima dengan takwil-takwilnya.
Kelompok Keempat: riwayat-riwayat yang lahiriahnya tidak benar dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama, dan pentakwilannya pun sangat sulit; seperti bahwa Rasulullah Saw duduk berdampingan dengan Tuhan di atas sebuah singgasana kerajaan…. layak jika hadis-hadis seperti ini kita anggap tertolak.[19]
Oleh karena itu dan dengan memperhatikan riwayat-riwayat sekaitan masalah ini yang tak terhitung jumlahnya, kita tidak bisa menganalisa seluruhnya dalam ruang yang sempit ini, akan tetapi jika Anda berminat, Andi bisa merujuk ke kitab-kitab dan artikel-artikel yang berkaitan dengan masalah ini,[20]dan jika Anda tidak jelas terhadap riwayat-riwayat tertentu, Anda bisa kembali mengirimkan pertanyaan sekaitan dengan riwayat tersebut kepada kami, supaya kami bisa memberikan jawabannya kepada Anda, dengan bantuan Allah Swt.
  1. Terakhir, dalam kaitannya dengan bagaimana Rasulullah kembali dari mikraj dan apa yang beliau lakukan setelah itu, harus dikatakan, berdasarkan sebagian riwayat, begitu selesai mikraj dari langit, beliau langsung kembali ke kota Mekah dan menemui Abuthalib yang tengah mengkhawatirkan keadaannya.[21]Setelah itu beliau menyampaikan berita mikraj ini kepada kaum Quraish dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang ragu dalam masalah ini. Sebagai contoh, mereka bertanya sekaitan dengan keistimewaan-keistimewaan kota Baitul Muqaddas[22]juga kafilah-kafilah dari Quraish yang ada dalam lintasan ini,[23]dan mereka mendapatkan jawaban yang tepat dari Rasulullah Saw.
Terdapat riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah menyampaikan sebagian dari yang beliau saksikan dalam mikraj, setelah selang beberapa waktu lamanya. Dalam riwayat-riwayat ini terdapat kalimat-kalimat seperti اسری بی atau  عرج بی , dimana dengan mencarinya di software ilmu-ilmu Islam, Anda bisa menemukan sejumlah banyak hadis-hadis tentang mikraj. [iQuest]
 

[1]. Ibnu Manzur, Lisân al-Arab, jil. 2, hal. 322.
[2]. Muhamad bin al-Hasan Hurr Amili, Wasâil al-Syîah, jil. 5, hal. 257, hadis 6483, Muasasah Ali-Al-Bait, Qom, 1409 H.
[3]. Pertanyaan 2414 (situs 2897) di situs ini juga berkaitan dengan peristiwa-peristiwa mikraj dimana Anda bisa mengkajinya jika berminat.
[4]“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah berkati” (Qs. Al-Anbiya [21]: 81) “Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) …” ((Qs. Saba: 23)
[5].  “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (Qs. Maryam [19]: 57)
[6]“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.” (Qs. Al-Nisa [4]: 158)
[7]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, al-Kâfî, jil. 3, hal. 250, hadis 26, Dar al-Kutub al-Islamîyyah, Teheran, 1365 S.
[8]ibid, jil. 8, hal. 49, hadis 10.
[9]Ibid, jil. 1, hal. 442, hadis 13.
[10]. Syaikh Shaduq, Khishâl, jil. 2, hal. 600-601, hadis 3, Intisyarat Jami’ah Mudarrisin, Qom, 1403 H.
[11]Rijâl Allamah Hilli, hal. 232-233, Dar al-Dzakhair, Qom, 1411 H.
[12]. Rijal Kasyi, hal. 452, Intisyarat Danesygah Masyhad, 1348 Hsy (Waqifi dikatakan kepada Syiah yang hanya meyakini tujuh Imam, dan riwayat-riwayat dari mazhab ini tidak seberapa bisa dipercaya)
[13]Rijâl Allamah Hilli, jil. 1, hal. 227.
[14]. Majlisi, Muhammad Baqir, Bihâr al-Anwâr, jil. 79, hal. 247, Muasasah al-Wafa, Beirut, 1404 H.
[15]Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, laly ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (Qs. Al-Ankabut [29]: 14), berkaitan dengan Nabi Nuh As.
[16]. Makarim Syirazi, Nashir, Tafsîr Nemune, jil. 12, hal. 14, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Teheran, 1374 S.
[17]Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (Qs. Al-Dzariyat [51]: 20-21);Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut dengan membawa apa yang berguna bagi manusia, air yang Allah turunkan dari langit, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering-kerontang), dan Dia tebarkan segala jenis hewan di atas bumi itu, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Qs. Al-Baqarah [2]: 164), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Qs. Ali-Imran [3]: 190) dan puluhan ayat-ayat lain.
[18]Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhan-nya yang paling besar. (Qs. Al-Najm [53]: 18).
[19]. Fadhl bin Hasan Thabarsi, Majma’ al-Bayân, jil. 6, hal. 609, Intisyarat Nashir Khusru, Teheran, 1372 S.
[20]. Sebagai contoh, Anda bisa merujuk pada jilid 12 dan 22 Tafsir Nemune, terdapat masalah-masalah penting dalam kaitannya dengan mikraj.
[21]. Majlisi, Muhammad Baqir, Bihâr al-Anwâr, jil. 18, hal. 383.
[22]Ibid, hal. 309.
[23]Ibid, hal. 335.