Tag

, , , , ,

Oleh: Alwi AlatasBeberapa raja Mali telah melakukan perjalanan haji ke Makkah. Dalam perjalanan itu biasanya mereka mampir di Mesir dan membangun hubungan diplomatik serta ekonomi dengan negeri tersebut, juga dengan beberapa negeri lainnya di Afrika Utara. Perjalanan haji ini membantu menguatkan posisi Mali ke dalam dan keluar. Selepas haji biasanya semakin banyak ulama dan tenaga ahli dari Afrika Utara yang didatangkan ke Mali untuk menyebarkan Islam serta ikut membangun negeri itu. Adanya hubungan ini juga memungkinkan Mali untuk mengirimkan generasi mudanya belajar di negeri-negeri Muslim untuk kemudian kembali ke negeri mereka dengan membawa ilmu pengetahuan. Selain itu, perjalanan haji para raja Mali menjadikan kerajaan ini mulai dikenal di dunia internasional. Perjalanan haji Mansa Musa sebagaimana akan diceritakan nanti mungkin menjadi faktor yang mendorong orang-orang Eropa mulai memasukkan Mali dalam peta yang mereka buat (Martin, 2004: 430).

Menurut Ibnu Khaldun (2000: 267-8), Mansa Uli, raja kedua Mali, melakukan perjalanan haji pada masa pemerintahan Sultan Baybars (1260-1277) di Mesir. Beberapa dekade berikutnya, Mansa Sakura melakukan perjalanan haji ke Makkah, yang bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Nasir bin Qala’un (1298-1308) di Mesir. Ia mati terbunuh saat pulang dari haji. Bagaimanapun, perjalanan haji yang terbesar di antara semuanya adalah yang dilakukan oleh Mansa Musa (1312-1337).

Ibnu Khaldun dan Shihabuddin al-Umari sama-sama menyebutkan bahwa Mansa Musa merupakan raja yang soleh. Ia selalu menjaga solatnya, banyak berdzikir dan membaca al-Qur’an. Mansa Musa, dan juga Mansa Sulaiman, banyak membangun madrasah dan masjid, serta mengundang para fuqaha ke negeri itu. Islam berkembang pesat di kerajaan yang menganut madzhab Maliki itu. Kelak setelah kembali dari perjalanan haji, Mansa Musa berkeinginan untuk kembali ke Makkah dan tinggal di dekatnya. Ia menyerahkan kekuasaan kepada anaknya, Muhammad (Magha), tetapi ia keburu meninggal dunia sebelum berhasil memenuhi apa yang diinginkannya itu (Al-Umari, 2002: 107 & 119-20). Selama masa pemerintahannya, ia tidak hanya menjalin hubungan diplomatik dengan Mesir, tetapi juga dengan beberapa negara Afrika Utara lainnya, termasuk Dinasti Marinid.

Mansa Musa melakukan perjalanan haji pada tahun 1324 M (sekitar 724 H), pada masa Dinasti Mamluk di Mesir. Dalam perjalanan haji itu, ia bertemu dengan seorang penyair Andalusia, Abu Ishak bin Ibrahim al-Sahili. Penyair Andalusia ini kemudian menyertai Mansa Musa kembali ke negerinya setelah haji. Rupanya selain sebagai penyair, al-Sahili juga memiliki keterampilan seni bangunan. Di sana, ia diminta oleh raja untuk membuat bangunan besar yang ia laksanakan dengan baik (Ibnu Khaldun, 2000: 267-8). Al-Sahili terus menetap di wilayah Mali pada masa setelahnya. Ia meninggal dunia pada tahun 1346 di kota Timbuktu yang merupakan pusat ilmu pengetahuan yang cukup penting di Mali (Bosworth, 1991: 258).

Dalam perjalanan hajinya, Mansa Musa membawa rombongan yang terdiri dari puluhan ribu orang, termasuk di dalamnya dua belas ribu budak pribadinya. Semua budak ini mengenakan pakaian yang bagus serta sutra Yaman. Ia juga membawa biji emas (tibr) sebanyak 80 tunggangan (hamlan). Pada setiap tunggangan ada 3 qintar (satuan berat pada masa itu) biji emas (Ibnu Khaldun, 2000: 268). Jika kita mengacu pada satuan qintar Mesir yang setiap qintar-nya hampir mencapai 50 kg, berarti Mansa Musa membawa sebanyak 12 ton (12.000 kg) emas pada perjalanan hajinya!

Orang-orang Mesir dan sekitarnya melihatnya sebagai orang yang terlalu mewah dan boros, tetapi emas di Mali pada masa itu memang sangat berlimpah dan kepemilikannya dipandang sebagai hal yang biasa di negeri itu. Sebenarnya, Mansa Musa bersikap sangat murah hati di sepanjang perjalanannya. Ia membagikan dan menyedekahkan sejumlah besar emasnya di setiap kota yang ia lalui dan juga di tanah suci. Setiap berhenti pada hari Jum’at, ia membangun sebuah masjid di tempatnya berkemah.

Begitu banyaknya emas yang dibagikan oleh Mansa Musa sehingga harga emas di Mesir dan sekitarnya menjadi jatuh. Harga-harga barang pun naik drastis karena emas yang biasa digunakan sebagai alat tukar mengalami depresiasi. Ketika hendak kembali ke negerinya, Mansa Musa mengalami kekurangan perbekalan. Saat tiba di Kairo dalam perjalanan pulang, ia meminjam kembali emas dari orang-orang sebanyak yang bisa ia dapatkan. Para pemberi pinjaman (money-lender) mengambil kesempatan ini dengan meminjamkan emas mereka disertai bunga yang tinggi. Entah apakah Mansa Musa kurang mengerti tentang dilarangnya sistem pinjaman semacam ini atau ia melakukannya karena terdesak keadaan, ia menerima tawaran tersebut.

Apa yang dilakukan Mansa Musa ini membuat harga emas kembali naik dan harga barang turun. Namun begitu ia tiba di negerinya, ia langsung membayar kembali seluruh pinjaman berikut bunganya dengan sekali pembayaran. Hal itu menyebabkan harga emas kembali turun drastis seperti yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Para pemberi pinjaman (money-lender) tentu saja mengalami kerugian yang sangat besar karenanya. Mereka ingin untung, tapi akhirnya malah buntung. “For the first and last time one man had played ducks and drakes with the world price of gold,” tulis Goodwin (1957: 110) menggambarkan kejadian di Kairo itu. “Gold dust was dust indeed.”

Pelayaran Trans-Atlantik

Ada sebuah kisah menarik lainnya terkait kerajaan Mali. Masih pada masa perjalanan haji Mansa Musa, Ibn Amir Hajib, seorang sumber sejarah yang dikutip oleh al-Umari, bertanya pada sang raja tentang proses kenaikannya menjadi raja. Mansa Musa kemudian menjelaskan bahwa sistem kepemimpinan di kerajaannya adalah melalui pewarisan dalam keluarga raja. Kemudian ia menceritakan sebuah kisah, seperti yang dikutip oleh al-Umari (2002: 120-1):

‘… orang (yang menjadi raja) sebelum saya tidak percaya bahwa Bahrul Muhit (Samudera  Atlantik) tidak memiliki ujung, dan ia ingin mengetahui (apa yang ada) di ujungnya (laut itu). Ia pun menyiapkan dua ratus kapal yang penuh berisi orang, juga emas, air dan berbagai perlengkapan yang cukup untuk setahun. Ia berpesan kepada mereka yang berangkat (ia tidak ikut pada rombongan ini, pen.), “Jangan kalian kembali sehingga kalian tiba di ujung (lautan ini) [atau] disebabkan perbekalan dan air kalian habis.” Maka berangkatlah mereka dan memanjang hingga waktu yang lama. Tidak ada seorang pun yang kembali hingga berlalu waktu yang lama. Kemudian kembali satu buah kapal. Maka kami pun bertanya tentang kabar mereka.”

Maka ia berkata, “Wahai Sultan, sesungguhnya kami telah melakukan perjalanan yang jauh dan memakan waktu lama, sehingga kami mendapati di tengah laut ada semacam sungai (wadi) dengan tarikan yang sangat kuat. Kapal saya berada paling belakang (dari iringan kapal-kapal itu). Ketika kapal-kapal (yang di depan) memasuki tempat itu, mereka menghilang dan tidak kembali lagi. Kami tidak tahu apa yang terjadi pada mereka. Maka saya pun memutuskan untuk kembali dan tidak memasuki tempat itu.”’

Raja menolak cerita ini. Ia kemudian menyiapkan kapal yang jauh lebih banyak lagi dan memutuskan untuk memimpin sendiri rombongan kapal untuk menyeberangi Samudera Atlantik. Ia mempercayakan kerajaannya kepada Mansa Musa. Ia tidak pernah kembali lagi dari perjalanannya dan tidak menunjukkan tanda bahwa ia masih hidup. Hal itulah yang menyebabkan Mansa Musa akhirnya dilantik untuk memimpin kerajaan itu. Berdasarkan kisah ini, perjalanan tersebut terjadi sebelum pelantikan Mansa Musa sebagai raja, atau menjelang tahun 1312, yang berarti hampir dua abad sebelum perjalanan Colombus ke benua Amerika.

Nama raja sebelum Mansa Musa yang melakukan pelayaran ini tidak disebutkan namanya oleh sumber al-Umari. Ada yang mengatakan bahwa nama raja tersebut adalah Abu Bakar II. Hal ini mungkin karena ada anggapan bahwa Mansa Musa menjadi raja menggantikan ayah atau kakeknya yang bernama Abu Bakar. Tetapi pendapat yang lebih kuat mengatakan bahwa raja sebelum Mansa Musa adalah Muhammad, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Kemungkinan besar, Mansa Muhammad inilah yang telah melakukan perjalanan trans-Atlantik tersebut.

Kita tidak mengetahui akhir perjalanan sang raja. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, ia dan rombongannya tenggelam di tengah Samudera Atlantik atau mereka berhasil mencapai benua Amerika dan tidak kembali lagi ke Afrika. Tidak ada data sejarah yang cukup kuat sejauh ini untuk memastikan mana di antara dua kemungkinan ini yang telah berlaku.

Ada beberapa peneliti, antara lain Ivan Van Sertima (2003), yang percaya bahwa rombongan raja Mali ini berhasil mencapai benua Amerika. Bahkan mereka mempercayai bahwa orang-orang Sudan-Mesir telah tiba di benua Amerika sejak sebelum masehi dan mempengaruhi kebudayaan orang-orang Indian di benua itu. Hal itu didasari oleh temuan patung-patung berhala yang mirip dengan wajah orang Afrika (berbibir tebal, berambut keriting, dll) yang ditemukan di salah satu daerah di benua itu, serta beberapa argumen lainnya yang terpaksa tidak kami bahas secara detail di sini karena keterbatasan tempat.

Namun banyak peneliti lainnya menolak pendapat ini. Bernard Ortiz de Montellano dan dua penulis lainnya (1997), misalnya, dalam tulisan mereka “They Were NOT Here before Colombus” memberikan banyak argumen bantahan terhadap tulisan Sertima.

Mungkin memang belum cukup bukti untuk mengatakan bahwa rombongan kerajaan Mali, ataupun orang-orang Afrika pada masa sebelumnya, telah berhasil mencapai benua Amerika pada perjalanan mereka. Tetapi apa yang mereka lakukan mencerminkan semangat ilmu pengetahuan dan upaya mencari temuan baru (discovery). Dan jika Mali dahulu pernah melahirkan sebuah peradaban yang kuat dan kaya, tidak tertutup kemungkinan suatu masa nanti kita akan menyaksikan munculnya peradaban yang kuat lagi di wilayah itu. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib

Daftar Pustaka

Bosworth, C.E., E. van Donzel, B. Lewis, dan Ch. Pellat. The Encyclopaedia of Islam, New Edition. 
Vol. VI. Leiden: Brill.  1991.
Goodwin, A.J.H. “The Mediaval Empire of Ghana”, The South African Archeological
Bulletin, Vol. 12. No. 47. Sept. 1957. Hlm. 108-112.
Ibnu Khaldun. Tarikh Ibn Khaldun, jil. 6. Beirut: Darul Fikr. 2000.
Levtzion, N. “The Thirteenth- and Forteenth- Century Kings of Mali”, The Journal of African
History, No. 3. 1963. Hlm. 341-353.
Martin, Richard C. (editor in chief). Encyclopedia of Islam and the Muslim World. New
York: Thomson Gale. 2004.
De Montellano, Bernard Ortiz, Gabriel Haslip-Viera, Warren Barbour. “They Were NOT
Here before Colombus: Afrocentric Hyperdiffusionism in the 1990s,”
 Ethnohistory.
Vol. 44, No. 2. Spring 1997. Hlm. 199-234.
Sertima, Ivan Van. They Came Before Colombus: The African Presence in Ancient America.
New York: Random House. 2003.
Al-‘Umari, Shihab al-Din Ahmad ibn Fadl-Allah. Masalik al-Abshar fi Mamalik al-Amshar, 
Vol. IV. Abu Dhabi: Al-Majma’ al-Tsaqafi. 2002.
Red: Cholis Akbar