Tag

, , , , , , , , , , , ,

Ayat-ayat surah at-Takwir disepakati turun keseluruhannya sebelum Nabi berhijrah ke Madinah, yakni Makkiyyah. Namanya yang populer adalah surah at-Takwir. Ini terambil dari kata kuwwirat yang disebut pada ayat pertamanya. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Sunan at-Tirmidzi, penafsiran kedua ulama itu terhadap ayat-ayat surah ini mereka letakkan di bawah judul surah Idza asy-Syamsu Kuwwirat.

Dalam Sunan at-Tirmidzi dan Ahmad melalui sahabat Nabi saw, Ibn ‘Umar ra., ditemukan bahwa Nabi saw bersabda: “Siapa yang ingin melihat Hari Kiamat bagaikan melihatnya dengan pandangan mata kepala, hendaklah dia membaca Idza asy-Syamsu Kuwwirat, dan Idza as-Sama’ Infatharat, dan Idza as-Sama’ Insyaqqat.

Dengan tiga surah tersebut (at-Takwiral-Infitar dan al-Insyiqaq), seseorang memang dapat membayangkan betapa dahsyatnya peristiwa kiamat nanti. Di ayat keenam surah at-Takwir, Allah Swt berfirman:

81. AT TAKWIR (MENGGULUNG)

81. AT TAKWIR (MENGGULUNG) : 6

wa-idzaa albihaaru sujjirath Bila samudra berubah menjadi lautan api. (Muhammad Quraish Shihab Et Al.)

Ada yang menafsirkan bahwa ayat tersebut menggambarkan phenomena Laut yang meluap (Dep. Agama RI, Yusuf Ali dl.) dan adapula yang menggambar tentang lautan api (Tafsir Misbah, Muhammad Quraish Shihab Et Al. Tafsir Ibn Kathir dll.).

Makna bahasa menurut para ulama. Kata dasar (root) dari kata “sujjirat” adalah “Sajjara”  yg berarti “meluap” (swell, overflow) atau “Sajara” yang berarti “dinyalakan” (burn, fire up, boil). Para ulama salaf menjelaskan kata “sujjirat” dalam ayat ini berarti: yang dinyalakan dan dibuka (As Sudi), dikeringkan (Al Hasan), dinyalakan (Imam Mujahid, Ad Dhahak) dst. Penjelasan mereka mengacu kepada makna bahasa tidak menjelaskan makna ayat tersebut secara ilmiah, sebuah tafsir yg didukung dengan kemajuan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi.

Diriwayatkan dari Al-Mubarak bin Fudhalah, dari Katsir Abi Muhammad, dari Ibnu. Ia berkata mengenai penafsiran ayat di atas, ”Lautan di panaskan sehingga menjadi api.” Diriwayatkan dari Mujahid dari Mujahid, dari seorang syekh dari suku Bajilah, dari Ibnu ‘Abbas mengenai ayat diatas: Matahari, bulan dan bintang-bintang di gulung menjadi satu dengan lautan. Allah lalu mengutus angin barat dan menginap lautan sehingga menjadi api. (H.R. Ibnu Ad-Dunya dan Ibnu abi Al-Hatim).

Seperti kita ketahui air terdiri dari unsur Oksigen dan Hidrogen yang mudah terbakar. Dengan dipisahkannya unsur Oksigen dan Hidrogen yang merupakan unsur-unsur kejadian air (samudra) sehingga melahirkan ledakan-ledakan dahsyat lautan dan berubahnya samudra menjadi api.. Adapun makna dipanaskannya lautan mungkin  juga yang dimaksud adalah lautan meluap dan memancar sebagaimana dikatakan dalam surat lain,

Dan apabila lautan menjadikan meluap, (Al Infithaar: 3)
82. AL INFITHAAR (TERBELAH)

82. AL INFITHAAR (TERBELAH) : 3

wa-idzaa albihaaru fujjirath
Bila seluruh lautan dibuka dengan dihilangkan batasan-batasanya. (Muhammad Quraish Shihab Et Al.)
‘Abdullah Yusuf ‘Ali menterjemahkan al-Takwir ayat 6 adalah “When the ocean boil over with a swell” yang bermaksud “Dan apabila lautan meledak dan memecah dengan satu gelombang besar,” dan al-Infitar ayat 3 dengan “When the ocean are suffered to burst forth,” yang bermaksud “Dan apabila lautan mengalami tekanan untuk meledak keluar.” Daripada terjemahan beliau pada kedua ayat ini, dapatlah digambarkan bahwa keadaan Kiamat adalah sangat menggerunkan dan penuh gegak gempita.
Apabila pembahasan para ulama diatas tadi mengacu pada makna bahasa dalam ayat ayat Al Quran tidak menjelaskan secara ilmiah, bagaimana dengan ilmu pengetahuan modern, apakah ada penemuan ilmiah yang mengkonfirmasikan ayat ayat Al Quran  tersebut ?

Air Laut sebagai bahan Bakar.

Seorang peneliti John Kanzius dapat memproduksi serta  membakar Hydrogen dari air laut / air asin dengan menggunakan gelombang radio. Selain itu gelombang radio generator  yang sama dapat juga digunakan untuk membunuh sell2 kanker.
.