Alquran dan Sains: Penghamparan Bumi

Dalam bahasa arab, kata penghamparan disebut dengan ‘tamhid’. Yang dimaksud dengannya adalah mempersiapkan sesuatu agar layak untuk digunakan dan dimanfaatkan, dengan diawali serangkaian persiapan-persiapan, mulai dari yang primer sampai yang skunder. Dan cara pengungkapan sesuatu dengan menggunakan kata ‘al-mihad’ berarti validitasnya yang sempurna sehingga siap untuk digunakan.

Kondisi bumi pun, yang pada akhirnya berbentuk hamparan, sebelumnya diawali dengan serangkaian peristiwa geologi dan fisiokimia tertentu, di mana bumi pada pertama kalinya dingin. Kemudian setelah kadar panasnya stabil, mulai membentuk hingga tercipta bentuk akhirnya yang lonjong seperti telur.

Setelah itu, terjadi proses rumit kimiawi hingga bentuk luar bumi layak untuk ditumbuhi tumbuh-tumbuhan, di mana permukaan bumi menyediakan semua unsur yang dibutuhkan tumbuh-tumbuhan itu untuk hidup dan berkembang, berbuah dan berbunga.

Hakikat ilmiah di atas, secara ringkas diceritakan oleh Al-Qur’an dalam kalimat yang singkat namun padat dalam surah An-Naba ayat 6, Allah SWT berfirman: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?”

Pada ungkapan ‘menjadikan’ yang terdapat pada ayat di atas, kita mendapatkan bahwa Allah SWT menggunakan kata ‘ja’ala’ yang mengisyaratkan bahwa bumi mengalami serangkaian proses hingga ia terhampar.

Sedangkan di ayat lain, kita mendapatkan penggunaan kata ‘khalaqa’ yang berarti penciptaan sesuatu sesuai bentuknya secara langsung. Tidakkah hal ini menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an dan kebenarannya?